Perilaku Positif Semakin Hilang dari Atmosfir Kehidupan Kita.

Saya mulai tulisan ini dengan cerita sederhana yang sering saya alami.

Saya berkantor di gedung lantai 4 yang dilengkapi dengan lift. Karena ruangan saya terletak di lantai 4 atau kadang sering mengajar di lantai 3, sehingga ketika datang, saya cenderung menggunakan lift. Kadang saya terburu-buru memburu jam kuliah, dari jarak sekitar 20 meter saya melihat lift sudah hampir tertutup dan saya lihat sejumlah mahasiswa ada di dalamnya. Ketika mereka mau menunggu saya, walaupun saya lebih tua dan saya adalah dosennya mereka, saya tak lupa mengucapkan terima kasih sudah menunggu saya. Tapi, sebaliknya, saya sering melihat mahasiswa terburu-buru ketika saya sudah ada di dalam lift yang akan naik, saya tunggu mereka. Setelah masuk, tidak sepatah kata pun terucap!!!

Bukan karena saya, dosen, merasa harus dihormati, tapi sudah sepantasnya kita berterima kasih kepada sesama yang sudah membantu. Saya pun mengucapkan terima kasih kepada siapapun (termasuk mahasiswa) yang menunggu saya ketika mau naik lift. Apa karena saya tampak muda, sehingga dianggap adik kelas yang tidak perlu diucapkan terima kasih? (Ha-ha-ga, Ge er sekali!!!).

Contoh lain, mahasiswa sering bergerombol duduk-duduk di lantai, di suatu lorong menjelang praktikum sampai memenuhi jalan dan tidak memungkinkan untuk lewat. Kalau saya mau lewat, sering dengan sengaja saya tidak minta permisi, hanya untuk melihat reaksi mahasiswa tersebut. Percaya atau tidak, secara statistik (karena seringnya saya mengalami), lebih sering saya diabaikan kalau tidak dengan eksplisit saya menyatakan permisi bahwa saya mau lewat. Setelah saya permisi, mereka hanya sedikit berpindah posisi memberikan jalan lewat sempit sementara.

Sudah sepantasnya mereka langsung memberikan jalan yang luas karena itu adalah lorong tempat berjalan siapapun, lalu minta maaf bahwa mereka sudah menghalangi jalan. Jujur saja, mungkin dari puluhan kasus menghadapi situasi seperti itu, saya tidak pernah mendengar kata maaf dari mahasiswa sebagai ungkapan rasa bersalah telah menghalangi kelancaran lalu lintas pejalan kaki di lorong tersebut. Bukan karena saya dosen mereka, tapi karena mereka telah melakukan suatu kesalahan.

Itulah yang saya maksud perilaku positif yang semakin hilang dari atmosfir kehidupan kita. Memang contoh-contoh di atas bukan sesuatu yang hitam-putih benar atau salah, tiap orang bisa mempunyai batas kewajaran yang berbeda, tetapi kecenderungan semakin menghilangnya ini yang meresahkan saya.

Awalnya memang hanya merasa tidak bersalah telah melakukan kesalahan kecil seperti yang saya ceritakan di atas, kemudian mulai merasa tidak bersalah parkir seenaknya, pada akhirnya tidak merasa bersalah mengambil uang rakyat milyaran rupiah.

Bagaimana menurut anda?

About these ads

12 thoughts on “Perilaku Positif Semakin Hilang dari Atmosfir Kehidupan Kita.

  1. Pak Arman, memang perasaan dan kepekaan seseorang sulit untuk diatur. Harusnya mereka mengerti dan memahami, tanpa harus diberitahu (beri tempe saja he3x). Tapi disinilah kelebihan seseorang akan terlihat. Saya hampir punya pengalaman mirip, sering sekali saya melihat satpam yang mengucapkan selamat pagi pada nasabah suatu bank, tapi nasabah sama sekali cuek, padahal sudah dibukakakn pintu. Apa dipikiran mereka ‘itu sudah tugas’, ‘itu sudah seharusnya’ dll. Saya rasa semua bisa menilai bahwa dengan membalas salam dan membalas keramahan akan membuat karakter pribadi makin baik, makin ramah dan tentu saja nilai positif. Jiwa besar.

    Saya kagum dengan seorang jenderal, yang selalu membalas salam salut setiap anak buahnya. Dia mengatakan : “membalas salam, membalas salut adalah kewajiban”.

  2. mahasiswanya ITB ya?
    ‘wajar’ jika begitu…tata krama dan sopan santun memang kian menurun :(

    btw, anda kakaknya Budi Setyohutomo bukan ya? rasa2nya kenal dg nama anda, terutama inisial AAA-nya itu…

    Sayangnya saya bukan kakaknya Budi Setyohutomo dan kebetulan saya tidak mengenalnya. Informasi tentang saya bisa dilihat dalam halaman “Tentang Saya” pada blog ini. Jika perlu informasi lengkap yang lebih formal, bisa anda kunjungi http://www.kupalima.com

  3. Kalau kita belajar suatu bahasa asing terutama jika akan tinggal di negara tsb. biasanya yg paling awal kita pelajari adalah “four magic words” (saya belajar “quatre mots magiques”) yaitu:

    – thank you (merci)
    – sorry (pardon)
    – please (s’il vous plait, wah ribet yah)
    – excuse me (excusez moi)

    dan menurut saya itu adalah pakem pergaulan yg cukup universal.

  4. Iya Pak, saya semakin sering mendengar cerita seperti itu dan saya setuju bahwa kita harus memperbaiki diri mulai dari hal2 kecil seperti ini. Solusinya kira-kira gimana ya? Hal ini saya duga hanya merupakan gejala kecil dari berbagai dekadensi yg lebih mendasar.

    Saya kira ada dua pendekatan yang rasanya keduanya harus berjalan bersamaan. Pertama, solusi formal, melalui pendidikan. Di kita ini, “etika” menjadi mata kuliah, tapi kita minim mempraktekannya. Harus ada revolusi dalam kuliah tersebut sehingga memberikan dampak yang positif dan berrarti. Jangan sampai, kuliah etika dapat “A”, tapi perilaku “tidak etis”. Apa perlu, kuliah etika ada praktikumnya? Ha-ha-ha… why not?
    Kedua, solusi informal, melalui contoh-contoh dari pihak-pihak yang bisa berperan membawa perubahan: dosen, satpam, dan sebagainya. Seingat saya, pernah satpam ITB, tiba-tiba berubah drastis; selalu menyapa selamat pagi ketika pagi masuk pengendara masuk kampus; tapi kebiasaan itu lama-lam hilang lagi, mungkin karena yang disapanya cemberut terus. Memang harus ada usaha keras dan mental baja untuk tetap mencoba, Insya Allah, sedikit demi sedikit, kalau yang mau mengubah tidak keburu frustrasi, lingkungan akan berubah juga.

  5. budaya positif, seringkali dikalahkan oleh kerasnya persaingan hidup. Perilaku positif seringkali pula dikotori oleh kerasnya saling sikut dalam mencari nafkah kehidupan. pertanyaannya, apakah mencari nafkah kehidupan harus selalu disertai dengan cara-cara yang negatif? Apakah persaingan mencari nafjah kehidupan harus selalu dihiasi oleh cara-cara kekerasan yang menafikan rasa kemanusiaan dan rasa persahabatan??

    Setuju pak, tanpa disadari, memang perubahan lingkungan yang semakin keras menyebabkan orang lupa atau melupakan budaya-budaya tersebut. Sehingga dalam keadaan lingkungan normal pun (seperti contoh-contoh yang saya sebutkan), budaya yang sudah hilang itupun sudah terlanjur terkubur dibagian hati yang sulit dikeluarkan lagi …

  6. Saya sangat setuju pak. Anak muda banyak yang beranggapan “cuek is the best”. Nggak tahu siapa yang mengajari kayak gitu.

    Tugas kita yang lebih tua untuk mengingatkan itu, mulai dari lingkungan yang paling dekat…

  7. Whuaaah yang ngoment (termasuk yang mpunya tulisan) ‘Orang Tua’ semua ya? Saatnya anak muda bicara. He8x. (Merasa masih muda).

    Sepertinya bukan cuma mengingatkan saja (Bu Anthy) tugas orang tua, lebih dari itu. Karena yang susah adalah bagaimana ‘seharusnya’ anak muda bersikap. Toh kehidupan anak muda tidak sedikit (a.k.a banyak) dipengaruhi oleh ‘Orang Tua’ yang ada disekitarnya. Jadi bisa jadi ‘hilangnya prilaku positif dari kehidupan anak muda’ karena memang itulah yang ‘diperlihatkan Orang Tua’ yang ada di lingkungan anak muda bersangkutan. Hi8x.

    Ah segitu aja dl ya Pak? Makasih atas space yang diberikan untuk ngomen. (Waduh, ini bisa jadi bukti sopan ga ya?) :P

  8. Ping-balik: Yang adem di pagi hari ini « Oemar Bakrie

  9. Ini mungkin yang dikatakan mereka sebagai …
    kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, bertingkah laku, reformasi, demokrasi dan yang sejenisnya … (dan celakanya ini lebih kearah EGP)

    yang jelas kalau ada trainee saya yang seperti itu … wah … perlu di”cuci” dulu pak … hihihihihi

    santun tidak sulit … bukan begitu pak ?
    Salam saya pak arry

  10. kalo ada lagu berjudul “sorry seems to be the hardest word” kayanya sekarang perlu tambahan lagi jadi “sorry and thank you seem to be the hardest words” bagi masyarakat sekarang.

    Mungkin saya termasuk mahasiswa yang diungkapkan diatas. Pernah suatu saat ketika naik lift di jurusan saya ada 2 orang bule (sepertinya dr Jerman) yang saya tunggu, ketika sudah masuk mereka mengucapkan “Danke”. Saya hanya tersenyum saja. Walaupn begitu saya tidak pernah kepikiran untuk mengucapkan hal yang sama jika ada orang yang menunggu saya di lift, biasanya saya hanya tersenyum dan saya anggap senyum sudah cukup.

    Begitu juga jika bergerombol duduk di lorong, mungkin saya hanya mengucapkan “oh… silahkan pak” jika ada yang lewat. No apology said.

    Baru kali ini saya menyadari kalo itu salah, dan sepertinya harus belajar membiasakan diri berterima kasih.

    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s