Tadi sore saya menjemput anak saya di rumah neneknya di sekitar Stasiun Bandung, akhirnya sambil macet berat di Jl. Kebon Kawung saya menebak-nebak, alasan apa yang mungkin membuat orang lebih memilih Travel (mobil) dari pada menggunakan Kereta Api. Hasil tebakan sambil macet tersebut adalah sebagai berikut:
- Stasiun Kereta Api Bandung terletak di daerah yang selalu macet, sehingga orang harus menyediakan waktu lebih panjang untuk perjalanan dari rumah ke stasiun, dan menyediakan waktu ekstra untuk antisipasi kemacetan. Jadi total waktu yang diperlukan adalah 3 jam perjalanan (kalau lancar) + 1 jam (antisipasi macet menuju stasiun) = 4 jam.
- Stasiun Kereta Api mungkin cukup jauh dari rumah kita, sedangkan travel bertebaran dimana-mana, sehingga bisa memilih yang paling dekat dengan lokasi rumah kita
- Tujuan akhir Kereta Api hanya stasiun Jatinegara dan Stasiun Gambir, sedangkan travel lebih bervariasi tujuan-nya.
- Kereta api lebih sering terlambat dari pada tepat waktu. Walaupun Jakarta selalu macet, jarak tempuh travel mobil dalam keadaan macet normal, paling lama 3 jam, bahkan kalau sedang lancar bisa 2 jam tepat.
- AC kereta api jika sedang bagus biasanya sangat dingin dan tidak bisa diatur. Kalau gerbongnya sudah mulai tidak terawat, AC-nya malah tidak berfungsi. AC mobil travel bisa diatur dan lebih terawat.
- Asal berada dalam rute perjalanan, dengan menggunakan travel kita bisa minta turun dimana saja, sedangkan kereta api tidak bisa.
- Ruang tunggu travel pada umumnya sangat nyaman, dan paling tidak, disediakan air minum gratis; di stasiun kereta kita siap kepanasan, bahkan pengantar harus beli tiket peron. Ha3x…., sungguh tidak bersaing.
- Tiket travel bisa dipesan hanya melalui telpon dan kursi kita akan diamankan, walaupun kita belum bayar sepeser-pun. Kereta Api harus pesan tiket dulu dan “praktis” tidak bisa dikembalikan.
- Tiket travel bisa dibayar dengan alat pembayaran non-tunai, kereta api….???? (saya tidak tahu sekarang, apakah masih harus cash ????)
- Travel banyak menawarkan program bonus, kereta api ????
Masih ada tambahan ????
Mudah-mudahan bisa jadi masukan yang berharga untuk PT. Kereta Api





Hehehe…
Sudah cukup Pak Arry, sudah cukup meyakinkan!
Mantap!
Salam…
Yup….saya setuju. Sayapun sekarang lebih nyaman bepergian dengan travel…..dengan KA saya punya pengalaman buruk.
salam
http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/04/26/tragedi-taksaka/
Kereta Api banyak bohongnya. .. yang paling gede tuh namanya kereta api, kenyataannya… mana apinya??? weks…
Naik travel mobil, posisi duduk, bisa miring ke kiri, miring ke kanan kalau lagi belok. Atau porisinya bisa nungging, kalau pas ngerem, atau bisa kejengkang ke belakang kalau lagi ngebut.
Naik KA, monoton. Lurusssss terus, sampe Bosen.
Dari sisi nikmatnya sih, enakan naik kereta api..tapi waktunya yang molor. Dan ongkos taksi dari stasiun Gambir ke rumah Rp.70.000,- lebih mahal dibanding ongkos kereta api..sedang jarak dari rumah ke travel bisa jalan kaki tak sampai 5 menit (Xtrans jarak 200 meter, Cititrans jarak 500 meter, Baraya 550 meter)…
Dulu…sebelum ada Cipularang, naik KA sering ketemu teman lama…atau kenalan baru yang menyenangkan dan bisa mengobrol asyik.
Dan sampai di stasiun Kebon Kawung kalau tak dijemput, taksinya tak mau pakai Argo.
Jika naik Xtrans, didepan kantornya langsung ada Blue Bird…jika bawaan tak banyak bisa naik angkot dua kali ke rumah.
Analisa p arry dan komentar kawan kawan betul, tapi sebagai yang dulu sering menggunakan ka parahyangan hampir tiap minggu (selama bekerja jakarta – bandung PP tiap minggu) dan kenangan masa kecil naik parahyangan liburan pp jakarta bandung mulai sd s/d sma,apalagi jaman eta travel yang keren belum ada, bis na dikebun kalapa juga tepararuguh, turun di terminal
Cililitan jakarta deg deg gan. Takut dipalakin orang terminal. Bagaimanapun ada kelebihan ka parahyangan untuk hal tsbt diatas dan rasa kehilangan yang cukup besar buat saya ex pengguna parahyangan.punten ah jadi kepanjangan komentnya. Salam hormat buat p arry dari saya ex mti lippo cikarang,nuhun
Safety factor yang belum dibahas.
train is still safer than car.
Hanya saja manusia Indonesia rata rata pemaaf sih.
Pesawat satu airline jatuh dan mati semua, cuman seminggu sepi orderan, minggu depan sudah fully booked lagi dengan iming iming diskon
http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/05/09/mengomentari-artikel-di-blog-yang-bernuansa-sara/
salam.
yupz.. setuju pak dengan pendapat edratna…. saya lebih memilih travel mobil dibanding naik kereta api..
saya (masih) menikmati perjalanan dengan kereta api… (smasa kecil belum pernah naik kereta siy pak :p…jadi ketika sekarang ada kesempatan, ya saya nikmati
)
Lokasi stasiun g jadi masalah bw saya, soalnya jarak tempuh dari kost ke stasium hanya 10-15″
Spanjang perjalanan bs menikmati pemandangan yang cukup menyegarkan mata, beda dengan ketika qt naik travel..yang terlihat hanya mobil, hiruk pikuk metropolitan dan hamparan mutiara hitam…bosen :-/
Intinya, selama perjalanan tersebut g menuntut saya terburu-buru, saya akan lebih minkmati perjalanan dengan kereta
Saya mah klo sekarang pilih kereta buat perginya (dari Jakarta), pulang naik travel deh.. Buat saya, pengalaman berkereta api tidak bisa didaptkan di dalam travel.. Begitu pula sebaliknya.. Situasional sih sebenarnya.. Tp yang penting kita sudah merencanakan jauh2 hari sebelum keberangkatan
iya kalo naek travel lebih deket, lebih gampang, kalo naek kereta musti ke gambir, waduh belum lagi macetnya