Hingar bingar musik dari kafe sampai tengah malam

Saya tinggal di Bandung Utara, di kompleks perumahan Rancakendal. Jika anda tahu warung baso Lela, rumah saya hanya dua rumah dari sana. Saat menulis ini, waktu menunjukan jam setengah 12 malam, dan musik hingar bingar dari salah satu kafe di utara rumah saya terdengar cukup keras. Beginilah tiap malam minggu, tidak bisa tidur dengan tenang. Ketika memilih rumah disini hampir 20 tahun lalu, mimpinya punya rumah di tempat yang sepi. Eh…. ko jadi begini?! Saya engga ngerti, kenapa harus sekeras ini?

Apa yang sebaiknya saya lakukan? Yang pasti jangan menyarankan untuk pindah rumah! Saya tidak punya uang untuk pindah rumah. Ha..3x

Software bajakan marak lagi di Bandung!

Belum lama ini Kapolda Jawa Barat diganti. Tampaknya penggantinya ini orang yang istimewa, berani mendobrak kebiasaan buruk, dan tentunya memberikan banyak harapan. Hal pertama yang menghebohkan adalah menertibkan proses pembuatan SIM (Surat Izin Mengemudi). Jangan berharap ketika masuk gerbang kantor polisi kita disapa oleh para polisi yang menawarkan bantuan untuk mendapatkan layanan VIP. Semua orang sama! Bayarnya sama, haknya sama! Dampaknya, salah satu rekan dosen yang memperpanjang SIM perlu waktu 2 hari untuk menuntaskan semua proses. Salah satunya adalah karena antrian tes kesehatan. Dulu, banyak proses yang bisa dilewat, termasuk kesehatan dan tes kemampuan mengemudi. Sekarang semua harus dilalui, jadi antriannya panjang.

Ok, kita kembali ke topik kita. Gebrakan lainnya adalah penertiban pelanggaran HAKI. Hasilnya adalah ‘tukang jualan software bajakan‘ dan ‘penjual DVD bajakan‘ tutup semua. Walaupun yang tempatnya tersembunyi masih tetap jalan. Ini membuktikan masih ada ‘main mata’ antara penjual dan aparat. Saya pikir kali ini tidak main-main dan akan berjalan terus, karena bukan semata-mata hanya mau memperlihatkan gebrakan jabatan baru, tetapi saya berasumsi bahwa Kapolda yang sekarang ini memang beda dan serius. Ternyata, sekitar seminggu lalu, penjual software bajakan di seputar kampus ITB sudah mulai berjualan lagi. Saya belum tahu di tempat-tempat lainnya.

Terlepas dari masalah bahwa kita memang miskin dan software diperlukan untuk mencerdaskan kita, ternyata memang tidak mudah mau melakukan perubahan di negeri ini. So, jangan terlalu berharap negeri ini akan menjadi lebih tertib dalam waktu dekat ……….

Arry Akhmad Arman

Parkir di Bandung harus Dibatasi!

Bandung adalah surga bagi tukang parkir, surga bagi orang yang malas parkir di tempat yang jauh, surga bagi pemkot untuk mendapatkan pemasukan tambahan dari parkir.

Silakan anda keliling kota Bandung, hampir tidak ada lahan yang tidak dijadikan tempat parkir, kalau perlu berlapis-lapis dan ditempat yang mengganggu kelancaran lalu-lintas, yang penting mobil masih bisa lewat, walaupun jalan cukup untuk 3 jalur, tapi disisakan hanya untuk satu jalur saja.

Aneh bin ajaib kota ini (atau pengelola kota ini!). Di satu sisi mencari solusi untuk mengatasi berbagai persoalan kota, termasuk masalah kemacetan yang jelas-jelas diantaranya disebabkan oleh parkir; tapi di lain pihak, hal-hal yang jelas di depan mata tidak pernah dicoba dibenahi. Satu kutipan menyatakan:


Tiga Tahun terakhir (2002- 2004) pertumbuhan jalan di kota ini praktis statis alias nol persen. Tahun 2005, meskipun ada tambahan jalan sepanjang 3,6 kilometer (2,8 kilometer jalan Pasupati dan 800 meter Jalan Layang Kiaracondong), tetap tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang tahun lalu mencapai 21,7 persen. Peningkatan itu terbesar pada sepeda motor yang tahun 2004 lalu naik sebesar 23,4 persen. Disusul dengan mobil pribadi yang meningkat sebesar 20,9 persen. (sumber: http://64.203.71.11/kompas-cetak/0509/24/Jabar/2076482.htm).

Bayangkan, pertumbuhan jalan praktis 0% (nol persen!), sedangkan pertumbuhan kendaraan di atas 20%, dan pertumbuhan kendaraan tersebut memerlukan dukungan tempat parkir. Lantas bagaimana solusinya?


Menurut saya, satu-satunya solusi praktis dan masuk akal, serta sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan terkait adalah melakukan PEMBATASAN PARKIR secara ketat. Menyediakan lahan parkir yang mencukupi kebutuhan tidak akan pernah bisa dilakukan.

Di sejumlah kota di negara maju yang pernah saya kunjungi, parkir tidak mudah dilakukan, sehingga orang cenderung menggunakan transportasi umum. Nah, saya kira kita tidak perlu lagi rambu P-Coret karena akan terlalu banyak rambu yang harus dipasang di kota tercinta ini. Kita ganti dengan rambu P (saja). Di kota Bandung, di jalan-jalan utama, parkir hanya boleh dilakukan di tanda P. Di luar itu tidak boleh! Pemerintah harus punya keberanian untuk melakukannya! Harus punya keberanian untuk kehilangan income dari parkir, tapi akan mendapat peningkatan dari sektor lain karena efisiensi meningkat akibat kemacetan yang berkurang.

Wah, nanti pemilik mobil akan protes karena mereka dirugikan? Jangan khawatir, masihjauh lebih banyak rakyat yang tidak punya mobil yang mendambakan kota ini lebih sehat dari polusi akibat kemacetan dan mendambakan kelancaran bepergian dengan angkot tanpa banyak kemacetan. Setiap perubahan selalu ada sisi negatif dan positif. Saya yakin pembatasan parkir lebih banyak sisi positifnya dari pada negatifnya.

Kita ambil contoh parkir di sekitar kampus ITB. Parkir sudah dilakukan di kiri kanan jalan, bahkan satu sisinya bisa dua lapis. Silakan lihat di depan gerbang kampus Jl. Ganesha! Sangat berbeda dengan jaman saya kuliah dulu. Dulu mahasiswa malu-malu bawa mobil ke kampus. Sekarang? Ngga perlu saya jawag deh…… Yang pasti jurang antara kaya dan miskin di kampus ini semakin terlihat. Saya kira ini hanya contoh saja, silakan lihat di kampus lain! Silakan lihat di sekitar SMA 3 dan SMA 5.

Ayo kita batasi parkir, agar lebih banyak orang beralih ke ‘angkot’. Nah, secara paralel, angkot harus ditata dan ditertibkan cara berhentinya. Insya Allah, Bandung akan lebih nyaman, sopir angkot akan lebih banyak rejekinya, orang Bandung jadi tidak stress, ……..

Sesuatu yang sangat mungkin untuk dilakukan, tinggal kemauan dari pengelola kota ini!

Arry Akhmad Arman