Software bajakan marak lagi di Bandung!

Belum lama ini Kapolda Jawa Barat diganti. Tampaknya penggantinya ini orang yang istimewa, berani mendobrak kebiasaan buruk, dan tentunya memberikan banyak harapan. Hal pertama yang menghebohkan adalah menertibkan proses pembuatan SIM (Surat Izin Mengemudi). Jangan berharap ketika masuk gerbang kantor polisi kita disapa oleh para polisi yang menawarkan bantuan untuk mendapatkan layanan VIP. Semua orang sama! Bayarnya sama, haknya sama! Dampaknya, salah satu rekan dosen yang memperpanjang SIM perlu waktu 2 hari untuk menuntaskan semua proses. Salah satunya adalah karena antrian tes kesehatan. Dulu, banyak proses yang bisa dilewat, termasuk kesehatan dan tes kemampuan mengemudi. Sekarang semua harus dilalui, jadi antriannya panjang.

Ok, kita kembali ke topik kita. Gebrakan lainnya adalah penertiban pelanggaran HAKI. Hasilnya adalah ‘tukang jualan software bajakan‘ dan ‘penjual DVD bajakan‘ tutup semua. Walaupun yang tempatnya tersembunyi masih tetap jalan. Ini membuktikan masih ada ‘main mata’ antara penjual dan aparat. Saya pikir kali ini tidak main-main dan akan berjalan terus, karena bukan semata-mata hanya mau memperlihatkan gebrakan jabatan baru, tetapi saya berasumsi bahwa Kapolda yang sekarang ini memang beda dan serius. Ternyata, sekitar seminggu lalu, penjual software bajakan di seputar kampus ITB sudah mulai berjualan lagi. Saya belum tahu di tempat-tempat lainnya.

Terlepas dari masalah bahwa kita memang miskin dan software diperlukan untuk mencerdaskan kita, ternyata memang tidak mudah mau melakukan perubahan di negeri ini. So, jangan terlalu berharap negeri ini akan menjadi lebih tertib dalam waktu dekat ……….

Arry Akhmad Arman

Iklan

16 thoughts on “Software bajakan marak lagi di Bandung!

  1. Ini persoalan sulit. Tapi saya kira pembajakan yang terlalu vulgar tidak boleh dilakukan. Apa kata dunia (kata Nagabonar)? Ya…., copy-copy antar kawan di dalam kampus untuk tujuan pendidikan, still OK lah! Di negara maju pun hal seperti ini masih terjadi.

    Penggunaan software bajakan untuk bisnis harus disikat habis, apalagi perusahaan besar. Toh Microsoft pun rasanya sudah memberikan kemudahan untuk industri kecil dan menengah.

    Satu lagi, harus ada kesepakatan dan dorongan untuk tidak membajak software dalam negeri. Saya termasuk korbannya. Bukan karena saya ingin dilindungi, tapi jangan sampai industri software kita loyo karena dibajak bangsa sendiri. Bayangkan, software pendidikan anak-anak yang hanya dijual 30 ribuan dibajak juga. Sudah bikinnya susah, untungnya kecil, dibajak pula ….

  2. Sama seperti software, antar kawan di dalam kampus dan bukan untuk tujuan komersial saya kira masih bisa dimaklumi. Dunia baru? Hmmmmm…., mustinya kalau karya kita juga ingin dilindungi itu jangan dibiarkan.

    Dunia baru menyediakan stok buku untuk tujuan komersial (koreksi jika saya salah). Walaupun prakteknya sama saja memfotokopi, tapi kalau ada mahasiswa bawa buku minta dicopy, itu tanggungjawab yang minta memfotocopy, dan berbeda dengan stok copyan buku untuk tujuan komersial.

  3. saya setuju ama pendapat Pak Arry “Dunia baru” tujuannya emang untuk komersil…tapi kira2 kalo menurut pendapat pak arry dunia baru perlu di tutup / disegel gak? bukanya itu merupakan pembajakan juga?

    untuk pendapat pak arry “Sama seperti software, antar kawan di dalam kampus dan bukan untuk tujuan komersial saya kira masih bisa dimaklumi. ”
    kenapa untuk bukan untuk tujuan komersial hal tersebut dapat dimaklumi…??? saya rasa dalam hal ini seperti ada semacam “tebang pilih”. kalo umpama mau tebang…kenapa gak ditebang semuanya ??? (koreksi saya apa bila pendapat saya jika saya salah)

  4. Karena akan sulit mengontrolnya. Apalagi sekarang jamannya sharing file di Internet, wah lebih celaka lagi…..
    Saya duga, perusahaan-perusahaan software kelas dunia pun merelakan sebagain pembajakan non-komersial (copy antar kawan). Mungkin dianggap saja sebagai “marketing cost”. Kalau sama sekali tidak ada bajakannya, siapa yang akan kenal Vista seperti apa? Office2007 seperti apa? AKhirnya ngga ada yang tertarik beli. Ha..3x.

  5. Pembajakan layaknya korupsi di negara kita, adalah masalah krusial yang memerlukan integritas aparat dalam penanganannya. Dalam level dan bidang apa pun masyarakat tentu saja akan turut serta jika pemerintah dan aparat bersikap bijak, tegas dan konsisten dalam penegakan hukum. Nice blog, salam kenal pak..

  6. Salam kenal kembali.

    Setuju bung, kata kuncinya memang “niat” dan “integritas aparat”. Tanpa itu, semuanya hanya jadi angan-angan yang tidak pernah terlaksana.

    Saya sudah mampir ke BLOG anda dan Rekans, bagus, banyak artikel yang penting untuk pembelajaran hal-hal yang praktis tapi perlu kita ketahui.

  7. Asik! Bisa cari2 film lagi di vertek, he2. Memang agak rumit tampaknya, Pak… Kalau kita akan berantas pembajakan dengan konsisten dan tanpa pandang bulu, maka ada banyak pihak yang akan mengalami kesulitan. Ya, seperti “Toko Dunia Baru”, terus terang, sudah bertahun-tahun mahasiswa di Bandung , termasuk saya, sangat bergantung pada keberadaan toko ini. Kenapa? Ya, karena perpustakaan kampus yang kita miliki rata-rata tidak memadai. Harus dicatat juga: “Toko Dunia Baru” tidak membajak buku-buku lokal. Vertek juga tidak menjual bajakan film2 lokal. Saya tidak tahu kenapa. Apakah karena menjaga produk lokal atau ada sebab lain. Untuk perangkat lunak, tampaknya mahasiswa tidak hanya membutuhkan windows dan msoffice . Banyak yg lain yg dibutuhkan misalnya: matlab, maple, SPSS, dan berbagai bahasa pemrograman. Kemudian ada juga buku-buku (ebook) bajakan yg bisa kita cari lewat internet (sy juga melakukan hal ini, he3). Apakah orang2 yg menggunakan produk2 ini harus diancam dengan tindakan hukum?

    Tentang pembajakan utk tujuan bisnis, banyak kasus pembajakan yang dilakukan oleh perusahaan skala start-up . Apakah perusahaan semacam ini juga harus diancam dengan tindakan hukum?

    Atau ada kesalahan lain dalam cara pandang (asumsi)? Seperti proposisi: ‘Hanya mekanisme pasar bebas yang dapat menstabilkan ekonomi dunia’. Maksud saya, skema bisnis perangkat lunak, buku, CD-Musik dll memang sudah harus berubah dan pembajakan hanya sebuah fenomena utk menyeimbangkan hal-hal yg sangat timpang. Hanya menerapkan tindakan hukum, menurut saya, tidak akan menyelesaikan masalah. Mumet…

  8. Itulah yang saya katakan sebelumnya sebagai copy-copy antar teman, masih bisa dimaklumi (bukan berarti dibenarkan secara hukum). Copy buku, ya tutup mata lah. Tapi kalau sudah stok buku copyan, stok software bajakan, stok film bajakan, harusnya memang diberantas, tidak ada pilihan. Selama paradigma copyright yang dipakai dan pemilik copyright mendapatkan untung dari situ, tidak ada cara lain.

    Saya kira perorangan mustinya tidak di-razia, dalam kampus juga tidak ada sweeping, tapi sekitar kampus harusnya bersih. Startup company yang masih mengap-mengap bisnisnya dan kantornya masih sewa rumah kecil, saya kira tidak ada yang berminat me-razia juga. Tapi kalo sudah dapat proyek ratusan juta, sudah selayaknya menyisihkan keuntungan untuk membeli tools, compiler dan sebagainya. Yang sudah punya kantor yang pantas, mustinya sudah mampu beli tools seharga 15-20 juta.

    Bagaimana kita akan dihargai kalau kita tidak bisa menghargai! Tidak suka? Silakan ambil pendekatan lain: open source!

  9. Ping-balik: Hak Cipta Produk Dijital (Digital Copy Right). Mau ke mana? « Hidup ini indah

  10. Mungkin bisa diawali dari level enterprise mengenai pemahaman lisensi software. Untuk saya pribadi
    penggunaan software bajakan masih bisa ditolerir jika digunakan untuk tujuan non-komersial
    atau tujuan pendidikan. Jika menggunakan software bajakan untuk tujuan komersial, ini yang harus
    ditekan karena bisa membuat industri software lokal tidak berkembang. Jika kemungkinan dibajak
    besar maka orang akan malas membuat softwarenya menjadi versi retail, dan hanya dijual untuk
    pemesanan tertentu. Salam kenal pak. Saya suka dengan gaya penulisannya. Nice. 🙂

  11. @semua, terima kasih komentar dan diskusinya, kelihatannya kesimpulannya begini:
    1. Untuk perusahaan, apalagi perusahaan besar, tidak bisa ditawar, tidak boleh pakai software bajakan
    2. untuk startup company yang masih miskin, masih Ok lah diam-diam pake software bajakan, tapi begitu mampu harus ada kesadaran untuk segera membeli yang asli secara bertahap
    3. penjualan software bajakan secara terbuka harus dilarang dan ditertibkan, apalagi software buatan Indonesia
    4. copy-copy software antar teman untuk keperluan pribadi dan non-komersial tidak dianjurkan, tetapi tidak menjadi target penertiban penggunaan software secara hukum.
    5. ada program awareness untuk menggunakan dan tidak membajak software buatan dalam negeri agar industri software dalam negeri bisa tumbuh.

    apa begitu kira-kira kesimpulannya?

  12. sangat setuju sekali pa dengan kesimpulannya , tapi ada sedikit yang mengganjal dalam benak fikiran saya dimana mental tidak pernah merasa bersalah dan merasa malu dalam menggunakan software bajakan di negara ini, bagimana untuk mengkikisnya sedikit-demi sedikit, karena dalam penggunaan software bajakan saya sendiri selalu mencari-cari pembenaran walaupun sudah tau yang saya lakukan itu salah

  13. wah coment2nya kayaknya masih pada setengah hati untuk mendukung pemberantasan pembajak2……ya skrg klo apa2 mesti beli yg originale ripuh juga,terutama masalah harga.balik lagi knp lapak2 software bajakan makin hari makin subur?karna kebutuhan kita akan software makin hari makin tinggi dg asumsi setiap rumah punya komputer trus butuh software, mereka pasti berpikir klo beli orinya berapa ratus/juta yg hrs d keluarin?pasti gede amat mkn harga software ama komptrna msh mahalan softwarenya……..so pilihan terakhir ya ke ITB ato ke azimuth abs murah coy 15 dpt 2…….ya kecuali kalo software orinya murah bisa cebanan sih pasti orang2 jg pilih orikali…..jd disini menurut saya gada yg salah yg jual ga salah abis ada permintaan, trus yg beli mikirnya ekonomi, perusahaan penjual software gak salah jg kan mrk mesti ngeuarin cost buat tetek bengek perusahaannya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s