Pendidikan ‘Basa Sunda’ di Sekolah perlu diubah!

Saya adalah orang Sunda dan masih bisa menggunakan bahasa Sunda untuk kebutuhan komunikasi sehari-hari dengan benar. Banyak orang Sunda segenerasi saya sudah tidak bisa menggunakan bahasa Sunda dengan baik dan benar. Bahasa Sunda memang unik. Dalam bahasa Sunda (Jawa juga), ada variasi kata kerja (VERB) yang bentuknya tidak beraturan, dan penggunaanya tergantung dari hirarki subjeknya. Contoh:

Indonesia: Ayah makan -> Sunda: Bapa tuang
Indonesia: Saya makan -> Sunda: abdi neda
Indonesia: Ayah pergi -> Sunda: Bapa angkat
Indonesia: Saya pergi -> Sunda: abdi mios

Banyak orang Sunda se-generasi saya (kepala 4), sudah tidak bisa memilih penggunaan kata kerja tersebut dengan benar, sehingga keluarlah kalimat-kalimat seperti “Bu, abdi angkat!“, seharusnya “abdi mios“.

Ok, saya bukan mau mengajarkan bahasa Sunda, hanya memberikan ilustrasi kondisi pengguna bahasa Sunda saat ini. Kelihatannya ini gejala umum. Kadang kami punya pembantu di rumah yang berasal dari berbagai tempat di Jawa Barat. Pada umumnya sudah tidak dapat menggunakan bahasa Sunda dengan benar. Memang kini semakin banyak keluarga yang menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi di rumah, sehingga bahasa Sunda semakin tidak digunakan.

Untungnya, sekolah-sekolah (terutama SD) masih mengajarkan Bahasa Sunda di sekolah, sehingga ada suatu harapan untuk mengerem kecepatan punahnya bahasa ini. Namun, jangankan orang tua yang bukan orang Sunda, sayapun sering kebingungan membantu mengerjakan PR sekolah anak saya untuk pelajaran bahasa Sunda. Tapi, di lain pihak, setelah anak-anak itu lulus (mendapat nilai yang baik) dari mata pelajaran tersebut selama beberapa semester, hampir tidak ada kemampuan komunikasi Bahasa Sunda yang benar yang melekat pada mereka.

Sepengamatan saya, terlalu banyak materi yang diajarkan dalam pelajaran Bahasa Sunda. Banyaknya materi menyebabkan kurangnya waktu untuk membangun kemampuan berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa Sunda. Menurut saya, sebaiknya materinya dipangkas banyak dan berikan bobot yang lebih banyak pada kemampuan berkomunikasi dengan benar.

Bagaimana menurut anda?

Bukit Bandung Utara Berselimut Kabut

Selamat pagi semua!

Rumah saya terletak paling utara di kompleks rumah saya, dan terletak di lembah setelah melampaui puncak bukit. Hasilnya, saya punya rumah menghadap terbuka ke Bandung Utara, dan tidak bisa melihat kota Bandung. Di malam hari saya bisa melihat kelap-kelipnya lampu di bukit Dago Resort sampai daerah Ciburial.

Pagi ini, yang tampak hanya kabut putih dimana-mana. Dulu hal seperti ini sangat sering terjadi. Kalau pulang kemalaman sedikit ke rumah, jalan menuju rumah sering berkabut (15-20 tahun lalu), tapi sekarang hal itu semakin jarang. Kabut hanya terjadi sekali-kali saja …..

Kira-kira, karena Global Warming , Polusi Kota Bandung, atau Hilangnya pohon-pohon di Bandung Utara?

Dua foto berikut memperlihatkan foto pandangan dari jendela ruang kerja saya ke arah utara pada saat siang beberapa hari lalu (bukitnya terlihat dengan jelas), serta foto pagi ini (beberapa menit yang lalu, bukitnya ditelan kabut).

pemandangandarirumah_siang.jpg

pemandangandarirumah.jpg