Bajigur Instant

Saya sering mendengar pernyataan bahwa sekarang adalah jaman instant. Kirim surat melalui email, secara instant sampai ke tujuan. Motret, instant langsung jadi dengan kamera dijital. Mau kopi, ada kopi instant tinggal seduh air panas. Rupanya, minuman tradisional tidak mau ketinggalan juga, sehingga muncullah ‘BAJIGUR INSTANT’ seperti yang tampak di foto ini.

bajigur01.jpg

Pada saat cuaca Bandung cenderung dingin, minuman hangat selalu saya perlukan di meja kerja saya. Kopi instant adalah favorit saya. Pada saat pulang dari luar kota, istri saya kemarin membawakan saya ‘bajigur instant’, karena tahu betul bahwa saya suka bajigur. Setelah dicoba, boleh juga, sebagai alternatif kopi instant.

Parkir, bisnis yang menggiurkan di Bandung???

parkir.jpg
He..3x, saya memang tidak punya fakta tentang berapa besar omzet parkir di kota Bandung ini, oleh karena itu, judul di atas saya beri tanda tanya. Saya hanya bertanya-tanya, apakah nilai bizniznya sangat menggiurkan sehingga kenyamanan kota memang patut dipertaruhkan? Perhatikan foto di atas! Parkir bisa dimana saja.

Kiri boleh, kanan boleh, tengahpun boleh, asal mobil masih bisa lewat! Ha-ha-ha…. sungguh ajaib kota ini!!!

Posting saya sebelumnya tentang parkir di kota Bandung bisa dibaca disini.

Setiap Pusat Keramaian Sebaiknya Punya Gerbang Khusus Untuk Orang

pusatkegiatan.jpg

Mari kita perhatikan foto tersebut. Foto ini adalah suasana di gerbang utara kampus ITB di jalan Taman Sari. Maaf, bukan mau mengkritik ITB, ini hanya contoh tipikal yang terjadi dimana-mana. Persis di depan gerbang terpampang tanda S-Coret, tetapi angkot tetap berhenti disana, dan satpam tidak berkutik untuk melarangnya. Seingat saya, di seberang gerbang tersebut pernah ada rambu yang sama, tapi entah masih ada atau tidak. Yang pasti, sekarang di seberang tersebut sudah jadi tempat parkir permanen.

Angkot selalu berhenti di sekitar gerbang tersebut, baik di sisi gerbang maupun di seberang gerbang. Anda bisa bayangkan, di sisi gerbang akan mengganggu keluar masuk kendaraan dari/ke kampus yang frekuensinya cukup tinggi. Yang di seberang, berhenti di badan jalan karena ada mobil-mobil parkir di pinggirnya. Jadilah semrawut seperti yang anda lihat di foto ini. Lalu lintas jadi tersendat, karena lebar jalan efektif yang bisa dipakai sudah habis!!!

Suasana ini menjadi hal keseharian, semakin hari semakin biasa, tidak terasa bertahun-tahun, sampai akhirnya kita lupa bahwa secara resmi ada aturan di negeri ini. Atau dengan kata lain, terbentuk satu pemikiran di kepala setiap orang:

Rambu itu kan hanya formalitas saja, bukan untuk dipatuhi!

Lantas apa yang harus kita lakukan. Saya kira kita harus smart! Kalau kita analisa, persoalan mendasarnya adalah sebagai berikut:

Orang keluar masuk melalui gerbang yang sama dengan kendaraan.
Angkot tidak mau kehilangan penumpang, jadi selalu berhenti di tempat keluar masuk orang.

Supaya diskusi kita sederhana, saya coba batasi ide ini hanya pada pemisahan lalu lintas kendaraan dan lalu lintas manusia. Andai dibuka gerbang lain di sisi lain kampus ini, khusus untuk keluar masuk manusia, saya yakin kesemrawutan ini akan jauh berkurang. Apalagi jika disediakan dua gerbang untuk keluar masuk orang.

Katakanlah, satu di sisi yang menempel ke kampus untuk angkot arah selatan, satu lagi di tempat yang terpisah, di seberang kampus, untuk angkot arah utara. Idealnya, disediakan pula tempat berteduh dari panas dan hujan. Biayanya dari mana? Mudah, tawarkan iklan saja, saya kira banyak yang mau!

Dengan demikian, tidak terjadi tumpukan lalu lintas manusia dan kendaraan, dan keluar masuk manusia (termasuk angkot berhenti) untuk arah yang berbeda, terjadi di lokasi yang terpisah. Sekali lagi, ini hanya contoh tipikal salah satu persoalan kemacetan di kota Bandung, ide ini bisa diterapkan di setiap pusat kegiatan atau pusat keramaian di kota Bandung.

Bagaimana menurut anda?