Setiap Pusat Keramaian Sebaiknya Punya Gerbang Khusus Untuk Orang

pusatkegiatan.jpg

Mari kita perhatikan foto tersebut. Foto ini adalah suasana di gerbang utara kampus ITB di jalan Taman Sari. Maaf, bukan mau mengkritik ITB, ini hanya contoh tipikal yang terjadi dimana-mana. Persis di depan gerbang terpampang tanda S-Coret, tetapi angkot tetap berhenti disana, dan satpam tidak berkutik untuk melarangnya. Seingat saya, di seberang gerbang tersebut pernah ada rambu yang sama, tapi entah masih ada atau tidak. Yang pasti, sekarang di seberang tersebut sudah jadi tempat parkir permanen.

Angkot selalu berhenti di sekitar gerbang tersebut, baik di sisi gerbang maupun di seberang gerbang. Anda bisa bayangkan, di sisi gerbang akan mengganggu keluar masuk kendaraan dari/ke kampus yang frekuensinya cukup tinggi. Yang di seberang, berhenti di badan jalan karena ada mobil-mobil parkir di pinggirnya. Jadilah semrawut seperti yang anda lihat di foto ini. Lalu lintas jadi tersendat, karena lebar jalan efektif yang bisa dipakai sudah habis!!!

Suasana ini menjadi hal keseharian, semakin hari semakin biasa, tidak terasa bertahun-tahun, sampai akhirnya kita lupa bahwa secara resmi ada aturan di negeri ini. Atau dengan kata lain, terbentuk satu pemikiran di kepala setiap orang:

Rambu itu kan hanya formalitas saja, bukan untuk dipatuhi!

Lantas apa yang harus kita lakukan. Saya kira kita harus smart! Kalau kita analisa, persoalan mendasarnya adalah sebagai berikut:

Orang keluar masuk melalui gerbang yang sama dengan kendaraan.
Angkot tidak mau kehilangan penumpang, jadi selalu berhenti di tempat keluar masuk orang.

Supaya diskusi kita sederhana, saya coba batasi ide ini hanya pada pemisahan lalu lintas kendaraan dan lalu lintas manusia. Andai dibuka gerbang lain di sisi lain kampus ini, khusus untuk keluar masuk manusia, saya yakin kesemrawutan ini akan jauh berkurang. Apalagi jika disediakan dua gerbang untuk keluar masuk orang.

Katakanlah, satu di sisi yang menempel ke kampus untuk angkot arah selatan, satu lagi di tempat yang terpisah, di seberang kampus, untuk angkot arah utara. Idealnya, disediakan pula tempat berteduh dari panas dan hujan. Biayanya dari mana? Mudah, tawarkan iklan saja, saya kira banyak yang mau!

Dengan demikian, tidak terjadi tumpukan lalu lintas manusia dan kendaraan, dan keluar masuk manusia (termasuk angkot berhenti) untuk arah yang berbeda, terjadi di lokasi yang terpisah. Sekali lagi, ini hanya contoh tipikal salah satu persoalan kemacetan di kota Bandung, ide ini bisa diterapkan di setiap pusat kegiatan atau pusat keramaian di kota Bandung.

Bagaimana menurut anda?

7 thoughts on “Setiap Pusat Keramaian Sebaiknya Punya Gerbang Khusus Untuk Orang

  1. <>

    Kritik ITB kan gak apa-apa Pak, yg penting kritik membangun (wah kayak bahasa orde baru he he he …)

    BTW, memang cari orang yg mau berpikir smart sudah susah Pak sekarang. Padahal yg namanya studi banding juga nggak kurang dari tahun ke tahun …

  2. Ha…3x, ide ini pernah saya lempar di milis ITB. Katanya sudah ada kajian yang lebih komprehensif dan konsep yang sangat memikat tentang pengelolaan kawasan sekitar kampus, tapi masih perlu dibicarakan dengan pengelola kota. Tampaknya konsepnya akan baik sekali kalau bisa diterapkan, bisa jadi percontohan yang baik untuk kota Bandung.
    namun, setiap saya tanya ke pimpinan ITB yang saya kenal, katanya masih menunggu jadual ketemu dengan Pak Wali. Wah, sudah hampir setahun yang lalu?! Apa begitu sulitnya ide dari Perguruan Tinggi untuk disampaikan ke Pak Wali? Dimana salahnya ya?!

  3. salah satu yang juga bikin macet ya karena pak Arry motret di tengah jalan.. hehehe…

    mungkin mentalitas penumpang angkot nya juga pak (baca: mhs ITB) (tmsk saya, dulu saya juga sering naik angkot disitu ^-^). umumnya pada malas kalo harus jalan jauh, jadinya sopir angkot juga lebih seneng nongkrong di situ..

  4. Jika ada yang melanggar aturan langsung dihukum.
    Lawan dapat poin tambah satu.
    Bila sampai lima belas kali – kan dia sudah kalah.
    Gak bisa melanggar lagi – lawan sudah game.
    Hehehe…
    Ini mah aturan badminton yang dulu!

  5. @Rayyan: memang selama urusannya di dalam kampus, itu adalah urusan internal yang dapat dilakukan kapan saja, tetapi kalau sudah keluar pagar kampus, termasuk menata parkir di sekitar kampus, itu sudah urusannya Pemkot. Paling tidak, pemisahan gerbang dan pembuatan gerbang orang di lokasi lain sebetulnya bisa dilakukan tanpa harus menunggu pemkot.

  6. Aku pernah diajak sepupuku berkunjung ke UNILA. Di sana, di dekat gerbang masuk ada shelter khusus angkutan kota. Semua angkutan kota yang menaikkan/menurunkan penumpang berhenti di situ. Apakah ITB tidak bisa membuat yang seperti itu? Jangan hanya parkiran mobil & motor mahasiswa yang ditambah terus..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s