Jembatan Penyebrangan di Bandung, Dipaksakan demi Iklan?

Silakan jalan-jalan keliling Bandung, perhatikan jembatan-jembatan penyebrangan. Tidak sedikit jembatan penyebrangan yang dipaksakan keberadaannya hanya demi iklan. Secara fungsional banyak jembatan tersebut bisa kita pertanyakan urgensinya. Jalan-jalan di kota Bandung terlalu kecil, kota yang macet juga menyebabkan kendaraan hampir tidak bisa melaju kencang. Jadi, siapa yang perlu jembatan penyebrangan?

Papan iklan di jembatan juga sangat tidak rasional ukurannya. Sangat besar, tidak proporsional, menganggu keindahan, dan juga membuat tidak aman bagi penyeberang, karena demikian tertutup, sehingga berpotensi terjadinya kejahatan di atas jembatan tanpa diketahui orang lain.

Besarnya papan iklan yang ‘keterlaluan’ dan ‘maksa’ banyak mengganggu pemandangan dan keindahan kota Bandung. Jika anda jalan dari kampus UPI ke arah bawah (selatan), dulu bisa melihat kota Bandung; sekarang hanya melihat papan-papan iklan di jembatan yang tidak pernah dipakai tersebut.

Tadi sore saya sempat memotret salah satu jembatan penyebrangan di persimpangan Asia Afrika dg Cikapundung, seperti terlihat dalam foto ini.

jembatan.jpg

Di balik jembatan tersebut ada Gedung Kuno SWARHA sertaMesjid Agung, tapi yang terlihat hanya jam tangan raksasa. Mungkin julukan yang paling pas untuk kota Bandung adalah KOTA IKLAN. Sebagai perbandingan, foto berikut adalah sebuah jembatan penyebrangan di Singapura; tanpa iklan, penuh bunga, dan aman.

jembatan_singapore.jpg

Ngajak mahasiswa nge-BLOG

Semester ini saya punya dua kelas S2 yang saya ajar, satu kelas Software Engineering, satu lagi kelas Project Management. Kalau ada yang tertarik dengan slide-slide kuliahnya, free download di:

http://groups.yahoo.com/group/arman_course_pm/files/ dan http://groups.yahoo.com/group/arman_course_se/files/

Tanpa dikaitkan dengan penilaian kuliah dan syarat kelulusan, saya memberikan pemahaman tentang dahsyatnya BLOG untuk pertukaran pengetahuan, sehingga saya menganjurkan mereka untuk mulai membuat dan menulis BLOG. Saya tidak menentukan topik utama apa yang harus mereka tulis, masing-masing bisa punya karakter blog sendiri, tetapi saya minta masing-masing membuat satu kategori sesuai dengan kuliah saya yang mereka ikuti. Sebagai iming-iming supaya semangat, saya janjikan bonus nilai bagi yang blognya populer dan tulisannya bagus untuk posting yang sesuai dengan mata kuliah.

Tentunya saya tidak berani menganjurkan atau mengharuskan mahasiswa untuk mengunjungi BLOG saya, nanti malah jadi sensasi “dosen mewajibkan mahasiswa mengunjungi blog-nya!“. Ha-ha-ha ….

Ada dua pertanyaan menarik dari mahasiswa, berikut saya tulis dalam gaya FAQ:

Q1: Pak, kayaknya yang sulit itu memulainya, bingung, apa yang harus mulai saya tulis?
A1: Apapun boleh ditulis! Kalau ragu, untuk menambah keberanian, silakan kunjungi Blog pak Budi Rahardjo. Itu contoh blog populer yang baik untuk dijadikan pembelajaran! Jujur, bermutu, santai, konsistent, dan tulisannya digemari banyak orang.

Q2: Pak, susah nge-blog dari kampus, Internet di ITB lambat sekali …….

buru-buru saya jawab:

A2: Nah, sudah dapat kan bahan tulisan yang pertama, silakan tulis di blog: ‘Internet ITB lambat …..’

Grrrrr……., semua tertawa ………

Mudah-mudahan dalam 1 minggu ini tumbuh sekitar 40 blog baru. Saya katakan kepada mereka:

Paling tidak, ini cara mudah yang bisa kita lakukan untuk turut berkontribusi membangun bangsa ini, cara lainnya, sayapun tidak tahu ……….