Solusi Cerdik untuk Menghindari Deadlock Kemacetan Lalu-Lintas!

Di kota-kota besar di Indonesia, termasuk di Bandung, sering kita temukan kaadaan deadlock. Lalu lintas macet dan saling mengunci di suatu persimpangan jalan. Semua tidak ada yang mau mengalah dan semua tidak bisa bergerak. Keadaan ini paling sering terjadi pada saat lampu merah rusak di suatu persimpangan yang ramai. Karena semua egois, jadilah deadlock. Keadaan ini juga kerap terjadi pada saat lampu merah beroperasi normal. Karena ada kemacetan di seberang jalan, kendaraan yang akan menyeberang masih tertahan di tengah persimpangan dan akhirnya, lampu hijau dari arah kira kanan sudah mulai berjalan. Semua bertumpuk di tengah. Kalau sudah begini, hanya satu solusinya di Bandung: tunggu sampai polisi datang, atau memang ada Pak Ogah atau sukarelawan yang mau mengatur lalu lintas.

Saya perhatikan, ada solusi cerdik dan sederhana yang pernah saya lihat penerapannya di Singapura dan Malaysia. Perhatikan gambar berikut.

corsssection.jpg

Solusi cerdik yang saya maksud adalah tanda silang seperti pada foto di atas. Jika berhadapan dengan tanda tersebut, kendaraan tidak boleh melaluinya sampai kita melihat ada tempat kosong di seberang tanda tersebut. Tanda tersebut dapat juga diterapkan di persimpangan jalan yang dilengkapi dengan lampu lalu-lintas.

Meskipun lampu berwarna hijau, namun jika kita belum melihat tempat kosong di seberang sana, kita tidak boleh menyeberang. Sederhana aturan mainnya kan?

Jika kita terjebak di tengah, berarti kita melanggar aturan. Harus siap kena tilang! Menurut saya, ide ini sangat mudah diterapkan di Indonesia, termasuk di kota Bandung.

Bagaimana menurut anda?

Iklan

16 thoughts on “Solusi Cerdik untuk Menghindari Deadlock Kemacetan Lalu-Lintas!

  1. Salam kenal, pak.

    Er… konsep kotak kuning itu sudah pernah loh diterapkan di Jakarta dan beberapa kota besar sekitar tahun 90an akhir – 00an awal. Saya masih ingat kok beberapa mobil pernah kena korban tilang dan seperti biasa (seperti halnya peraturan motor harus jalan di jalur kiri di Jakarta), polisi pada akhirnya tidak konsisten memberikan sangsi…

    Hasilnya ya… Gagal. Sepertinya bukan masalah infrastruktur ataupun tanda-tanda lalulintas lagi sih masalah utama penyebab kemacetan di Indonesia. Lebih ke arah masalah mental, pendidikan dan budaya. Lebih tepatnya lagi mental tidak senang melihat orang lain senag, pendidikan yang relatif rendah serta budaya ingin menang sendiri dan tidak mau mengalah.

    Indonesia…

  2. @avianto, salam kenal kembali, thanks share infonya, kebetulan saya tidak pernah melihatnya. saya rasa di Bandung belum pernah diterapkan, dan memungkinkan diterapkan, juga diterapkan kembali di kota-kota lain. Memang, rambu itu hanya tools, pelaksanaannya kembali kepada kita bersama.

  3. Ini ide sederhana tp lumayan efektif sebenarnya. Tp yaa, kembali ke mental para pengguna jalanan. Bkn pengguna jalanan aja looh, penegak peraturan lalu lintas juga hrs punya mental yg bijaksana dalam penerapannya.. Tau sendiri kan gimana kalau pengguna jalanan lagi berurusan sama polisi lalu lintas..? Ga ada yg mau kalah.. Hehehe..

  4. malu…

    itu kata kuncinya. malu kalau melakukan pelanggaran. malu kalo nyebrang sembarangan, malu kalo buang sampah sembarangan, dll dll.

    di negara kita, sebagian orang merasa ‘hebat’ kalo melakukan pelanggaran, seakan2 bisa menemukan celah bolongnya aturan..

    setidaknya mulai dari diri sendiri aja ah…

  5. Pak Arry itu kan ada beberapa jalur, kalau di kita minimal dua jalur. Nah kalau di depan kita sudah kosong, begitu kita maju pasti sudah ada yg nyerobot dari jalur sebelah jadi kita yg nanti bakal dianggap melanggar … ha ha ha, nasib

  6. betul, memang perlu ditunjang oleh kesopanan berlalu lintas pak, tidak nyerobot. kalaupun situasinya seperti yang bapak ceritakan, mungkin tetap mambantu mengurangi antrian dibandingkan tidak ada solusi itu, sehingga probabilitas terjadinya deadlock jadi menurun. wah mulai keluar nih gaya bicara dosen nya. ha-ha-ha ….

  7. Terbayang disana ..
    Diareal Kuning … ada angkot … ada asongan dsb ..
    soalnya rada legaan …
    (angkot nggak boleh liat ruang agak legaan dikit ..)
    Hehehe … ada legaan dia pasti nyodok masuk …

  8. Pernah diujicobakan di Jogjakarta pak. Tapi setengah tahun sudah menghilang garisnya pak. Pengalaman di Jogja sih, bila tidak ada polisi yang berjaga, garis tidak ada artinya pak. :mrgreen:

  9. @abasosay, betul sekali, kesimpulannya harus ada perbaikan paralel dalam beberapa hal. Thanks infonya pak, saya jadi tahu bahwa ide itu sudah pernah dicoba di beberapa tempat, tapi tidak efektif karena ujung-ujungnya penegakan hukum yang lemah.

  10. @jagrag, jadi kesimpulanya, orang Bandung “kemaluannya” kecil-kecil ya pak! ha-ha-ha….., maaf supaya engga stress ngomongin sesuatu yang serius

    tapi anda benar sekali, selama tidak diciptakan budaya malu, siapa takut melanggar? tapi memang budaya itu sudah lama hilang dari kehidupan kita. sekarang, tidak malu lagi udel kelihatan kemana-mana, tidak malu lagi menggunakan ijazah palsu, tidak malu lagi ngaku bisnis permata, ….. ha-ha-ha.

    Ada ide untuk menumbuhkan kembali budaya tersebut?

  11. Perkenalkan saya Ridzal, tepatnya Muhammad Ridzal … siswa bapak di S2 – CIO …

    Tentang kotak kuning benar bahwa sudah pernah beberapa tahun lalu diterapkan di Jakarta … kalo kota lain saya taunya 2 sekitar 2 tahun lalu barangkali di kota Medan …

    Benar juga bahwa fungsi dan tujuan dibuatnya kotak kuning itu sangat bagus … bisa membantu polisi kalo lagi ada kemacetan di persimpangan biar ga rebutan duluan maju padahal dari arah laen dah macet dan stuck ditengah simpang …

    Betul mungkin karena mental para pemakai jalan yang kurang bagus … bisa jadi juga mental penegak hukumnya yg kurang bisa berperan …

    Namun kalo saya liat-liat masalah terbesar adalah kerja para pembuat, pelaksana, dan pengontrol serta pengevaluasi akan penerapan suatu aturan itu yang setengah-setengah, tidak sepenuh hati, angot-angotan, cuma spt shock teraphy, dsb. Sehingga aturan kotak juning yang begitu bagus kalo diterapkan jadi cuma seumur jagung aja diterapkannya…

    Kenapa saya bilang setengah2 spt ga niat? Dari awal dibuatnya suatu aturan selalu banyakan ributnya, begitu diterapkanpun yg namanya sosialisasi aturan sangat kurang (mungkin karena yg buat aturan melanggar juga … bisa jadi khan …hehehehe), segitu banyak cara dan media yang bisa dipakai utk sosialisasi aturan sepertinya percuma … contoh aturan lainnya yaitu dilarang merokok di tempat dan kendaraan umum … itu semua menguap layaknya asap rokok yang mengepul ke udara …

    lagi-lagi … budaya … kemana Pancasilanya ya … 🙂

    betul solusi apapun yang kita terapkan, yang simple, yang canggih, selama pelaksanaanya terkait dengan perilaku manusia, maka kunci suksesnya ada pada manusia. Pancasila dari dulu ada pak, tidak pernah lari kemana-mana, tidak pernah ada bangsa lain yang meng-claim memiliki Pancasila, tetapi sejak dulu pun “kita yang punya, orang lain yang mengamalkan”

  12. Itu memang salah satu solusi di negara2 yang sudah maju aturannya dan disiplin warganya telah meningkat. Tapi menurut saya usul tersebut tidak ada salahnya ditrapkan tapi, harus dilakukan survey dan sampling dulu untuk mengukur tingkat kedisiplinan 1. Polisi 2 alat sensor bagi mereka yang berbuat salah 3 disiplin pengendara 4 kondisi jalanan cukup bisa mengakomodir sitem yang ingin diciptakan 5 perilaku orang dlsb.
    Bagaimana jika dibuat aturan pada jam2 tertentu kendaraan pribadi tidak boleh lewat misalkan jam kerja hal ini memang sulit akan tetapi perlu konsekuensi dari pemerintah untuk menyediakan sistem transportasi yang baik nyaman dan aman.
    Semoga, bagaimana Bung Foke sanggupkah ? pasti rakyat mendukung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s