Mengapa P-Coret Tidak Diletakkan Sebelumnya?

Kalau kita jalan menyusur Dago dari arah utara ke selatan, maka sebelum RS Boromeus akan menemukan satu tempat kursus Bahasa Inggris dan Mandarin yang pada jam-jam tertentu cukup memacetkan karena banyaknya mobil (penjemput?) yang parkir sampai di tepi badan jalan. Perhatikan foto di bawah ini. Kita bisa lihat tanda P-Coret, dibawahnya ada keterangan tambahan “sampai rambu berikutnya“. Menarik untuk dikaji, mengapa larangan parkir tersebut terletak persis setelah tempat kursus yang sering parkirnya memacetkan? Mengapa tidak sebelumnya? Dengan demikian, justru tempat kursus yang sering memacetkan tersebut tidak kena larangan parkir. Aneh bin ajaib!

eep_dago.jpg

DVD Original Harga Terjangkau

Kabar baik untuk para kolektor DVD yang masih peduli dengan hak cipta. Di Indonesia sudah beredar DVD original dengan harga terjangkau. Berapa? Hanya Rp 15.000. Harga tersebut menurut saya sudah sangat bagus, apalagi untuk kualitasnya yang terjamin. Saya sudah mencoba membeli beberapa judul dan kualitasnya memuaskan (karena memang duplikat dari DVD original “yang original”). Film-film yang sudah saya beli untuk dikoleksi adalah jenis “romatic comedy“, kegemaran sama-sama saya dan istri saya.

dvd_orijinal.jpg

Saya coba cek harga DVD Wedding Planner di amazon.com, harga obral adalah $9.99 (normalnya $14.94), yang bekas $3.59. Di Indonesia kini dijual Rp 15.000 atau sekitar $1.7 termasuk PPN.

dvd_orijinal_pajak.jpg

Mari kita hormati hak cipta dan perlahan beralih ke DVD original yang sudah mulai terjangkau harganya.

Perilaku Positif Semakin Hilang dari Atmosfir Kehidupan Kita.

Saya mulai tulisan ini dengan cerita sederhana yang sering saya alami.

Saya berkantor di gedung lantai 4 yang dilengkapi dengan lift. Karena ruangan saya terletak di lantai 4 atau kadang sering mengajar di lantai 3, sehingga ketika datang, saya cenderung menggunakan lift. Kadang saya terburu-buru memburu jam kuliah, dari jarak sekitar 20 meter saya melihat lift sudah hampir tertutup dan saya lihat sejumlah mahasiswa ada di dalamnya. Ketika mereka mau menunggu saya, walaupun saya lebih tua dan saya adalah dosennya mereka, saya tak lupa mengucapkan terima kasih sudah menunggu saya. Tapi, sebaliknya, saya sering melihat mahasiswa terburu-buru ketika saya sudah ada di dalam lift yang akan naik, saya tunggu mereka. Setelah masuk, tidak sepatah kata pun terucap!!!

Bukan karena saya, dosen, merasa harus dihormati, tapi sudah sepantasnya kita berterima kasih kepada sesama yang sudah membantu. Saya pun mengucapkan terima kasih kepada siapapun (termasuk mahasiswa) yang menunggu saya ketika mau naik lift. Apa karena saya tampak muda, sehingga dianggap adik kelas yang tidak perlu diucapkan terima kasih? (Ha-ha-ga, Ge er sekali!!!).

Contoh lain, mahasiswa sering bergerombol duduk-duduk di lantai, di suatu lorong menjelang praktikum sampai memenuhi jalan dan tidak memungkinkan untuk lewat. Kalau saya mau lewat, sering dengan sengaja saya tidak minta permisi, hanya untuk melihat reaksi mahasiswa tersebut. Percaya atau tidak, secara statistik (karena seringnya saya mengalami), lebih sering saya diabaikan kalau tidak dengan eksplisit saya menyatakan permisi bahwa saya mau lewat. Setelah saya permisi, mereka hanya sedikit berpindah posisi memberikan jalan lewat sempit sementara.

Sudah sepantasnya mereka langsung memberikan jalan yang luas karena itu adalah lorong tempat berjalan siapapun, lalu minta maaf bahwa mereka sudah menghalangi jalan. Jujur saja, mungkin dari puluhan kasus menghadapi situasi seperti itu, saya tidak pernah mendengar kata maaf dari mahasiswa sebagai ungkapan rasa bersalah telah menghalangi kelancaran lalu lintas pejalan kaki di lorong tersebut. Bukan karena saya dosen mereka, tapi karena mereka telah melakukan suatu kesalahan.

Itulah yang saya maksud perilaku positif yang semakin hilang dari atmosfir kehidupan kita. Memang contoh-contoh di atas bukan sesuatu yang hitam-putih benar atau salah, tiap orang bisa mempunyai batas kewajaran yang berbeda, tetapi kecenderungan semakin menghilangnya ini yang meresahkan saya.

Awalnya memang hanya merasa tidak bersalah telah melakukan kesalahan kecil seperti yang saya ceritakan di atas, kemudian mulai merasa tidak bersalah parkir seenaknya, pada akhirnya tidak merasa bersalah mengambil uang rakyat milyaran rupiah.

Bagaimana menurut anda?