Bingung memilih program studi atau sub-jurusan

Seseorang (mahasiswa) curhat di blog tentang kebimbangannya dalam menentukan pilihan program studi atau sub-jurusan (walaupun istilah ini sudah kurang tepat), lalu minta pandangan saya melalui komentar yang disampaikan dalam blog ini (tentang saya).

Saya sudah kunjungi blog mahasiswa tersebut. Saya pikir mungkin ini kebimbangan banyak orang. Jadi, sebelum saya berangkat mengajar pagi ini, saya sempatkan memberikan repon, lalu saya cut-and-paste di halaman ini. Inilah jawaban saya untuk dia yang mungkin bermanfaat juga buat siapapun.

Saran saya, perhatikan hal-hal berikut ketika melakukan pertimbangan:

  1. Apa yang menyenangkan buat anda? Asumsi, bidang itu akan kita gunakan untuk bekerja, jadi anda akan bekerja selamanya di bidang yang anda pilih? Apakah akan membuat anda happy?
  2. Ada konvergensi yang kuat antara bidang-bidang ilmu, apalagi yang terkait kuat dengan IT. Anda pilih eletronika, masih memungkinkan kerja di NOKIA yang dikenal sebagai perusahaan telekomunikasi. Anda pilih telekomunikasi, masih memungkinkan kerja di perusahaan minyak atau Bank, karena mereka menggunakan infrastruktur telekomunikasi.
  3. Kualitas kurikulum, akreditasi bukan segalanya untuk diandalkan mencari kerja.
  4. Perhatikan kurikulum, justru untuk kenyamanan anda sendiri. Kalau perlu cari info ke kakak kelas, kuliahnya seperti apa isinya? dosennya seperti apa? Jago teori? Banyak memberikan wawasan dan pemahaman mendasar?
  5. Jika anda berniat untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Yang lebih penting bukan akreditasi perguruan tinggi atau program studinya. Lebih banyak ditentukan oleh rekomendasi, program kerjasama antar PT, serta reputasi pendahulu anda yang pernah sekolah disana. Reputasi lulusan ITB cukup banyak diakui di banyak PT di luar negeri. So, jangan khawatir untuk yang satu ini.
  6. Ini yang terakhir. Kombinasi knowledge adalah yang paling banyak diperlukan saat ini. Kombinasi knowledge bisnis dengan IT, termasuk yang paling powerful!

So, kesimpulannya, pertimbangkan itu semua, berikan bobot yang kuat pada pertimbangan yang akan membuat anda happy. Jika anda menjalani sesuatu dengan happy, hasilnya akan lebih baik. Jika ada yang kurang, lengkapilah kekurangan itu dengan belajar sendiri! Tidak ada pilihan yang SEMPURNA.

Semoga tidak menjadi tambah bingung….

Pervasive Computing

Pervasive Computing sebetulnya bukan istilah baru. Sudah cukup lama istilah itu akrab terdengar di dunia IT. Apa sebenarnya Pervasive Computing? Orang sering menafsirkan Pervasive Computing kurang tepat, dianggap sebagai teknologi baru atau teknologi komputer masa depan yang menjanjikan berbagai kemudahan.
Pengertian kata “pervasive” sendiri adalah “meresap“. Definisi praktis yang berhasil saya rangkum dari berbagai definisi lain adalah sebagai berikut.

Pervasive computing adalah suatu lingkungan dimana sejumlah teknologi (terutama teknologi komputer) digunakan dan menyatu di dalam objek dan aktivitas manusia sehari-hari, sehingga kehadirannya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang khusus.

žPervasive computing bukan teknologi, tetapi didukung oleh sejumlah teknologi yang setiap saat bisa berubah. Pengertian meresap dalam kata pervasive bahwa teknologi tersebut semakin menyatu kepada pemakai dan lingkungannya, sehingga kehadirannya semakin tidak terasa lagi, menjadi perangkat yang bukan khusus lagi dan tidak disadari kehadirannya oleh kita. Contoh paling sederhana adalah “telpon selular”. Setiap orang sudah tidak melihatnya sebagai suatu perangkat khusus, tetapi itu adalah bagian dari setiap individu di dalam masyarakat modern.

Dengan kemajuan teknologi user interface (speech recognition, text to speech) serta telekomunikasi wireless, perangkat-perangkat IT di masa depan akan semakin pervasive dengan usernya. Suatu waktu, anda tinggal memberikan perintah lisan untuk mehghidupkan televisi, mencari channel kesayangan, dan sebagainya.

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan kembali, Pervasive Computing bukan teknologi, tapi suatu lingkungan.

Semoga bermanfaat!

Maaf Pak, Tolong Buka Bagasinya!

Ini kisah nyata kedua yang masih berkaitan dengan VW kodok hijau adik saya yang sudah saya ceritakan kemarin. Ketika issue dan kejadian bom sangat sering terjadi di Indonesia, pemeriksaan mobil di pintu-pintu  masuk gedung dan pertokoan dilakukan dengan sangat ketat. Suatu sore, adik saya dengan VW kodok kesayangannya pergi ke super market.

Seperti biasa, ketika mau masuk kendaraan sudah harus antri, menunggu pemeriksaan. Begitu sampai pada giliran si VW hijau, dengan gaya sangat berwibawa tapi tetap sopan, petugas mengatakan:

Maaf pak, kami harus memeriksa bagasi mobil bapak, tolong dibuka pak!

Petugas berkata seperti itu sambil menunjuk ke arah belakang mobil dan langsung bergerak menuju ke belakang. Adik saya tidak sempat menjelaskan sesuatu, si petugas sudah menuju ke belakang mobil. Akhirnya, ya…., buka saja kap mobil bagian belakang yang sebetulnya hanya berisi mesin mobil. Perlu diketahui bahwa VW mempunyai mesin yang terletak di belakang, sedangkan bagasi barang disimpan di depan.

Nah lho, si petugas tampak kebingungan melihat mesin mobil yang sedang bekerja ada di bagasi belakang yang pada umumnya di mobil lain digunakan untuk menyimpan barang. He-he…, bego, apa gengsi??? Akhirnya petugas menghampiri pengemudi, lalu sambil tersenyum mengatakan.

Sudah kami periksa, bersih pak! Silakan jalan!

Menarik, petugas tidak meminta membuka bagasi depan! Jangan-jangan dia berpikir yang di belakang adalah mesin mainan dan didepan ada mesin yang sesungguhnya, sehingga tidak perlu meminta membuka kap mobil bagian depan! Hmmmm…., bagaimana jika sebenarnya ada bom di bagasi barang di depan?