Stress sepanjang penerbangan ….

Karena tadi pagi baru dari bandara, saya jadi ingat satu pengalaman perjalanan saya yang paling bikin saya stress, tak bisa tidur dan kepikiran terus selama beberapa hari. Akhir 2004 yang lalu saya harus tinggal di Berlin untuk suatu kegiatan riset selama 4 bulan. Karena ayah saya waktu itu sedang sakit, setelah 2 bulan, saya pulang dulu sekitar 1 minggu ke Indonesia atas biaya pribadi.

Supaya hemat, saya cari tiket paling murah. Akhirnya saya dapatkan Gulf Air. Dari Berlin saya naik kereta cepat menuju Frankfurt (satu paket dengan tiket pesawat), lalu terbang menuju Indonesia via Bahrain (kalo tidak salah). Sampai Bahrain, pesawat tidak terlalu penuh, lalu di Bahrain jadi penuh sesak oleh orang Indonesia yang menuju Jakarta. Kelihatannya sebagian besar adalah para TKW Indonesia yang akan pulang, mungkin 70% isi pesawat adalah mereka itu.

Nah, apa yang membuat saya stress??? Sepanjang perjalanan, para TKW Indonesia itu saling mengobrol dengan keras tentang suka duka mereka. Tentunya lebih banyak dukanya daripada sukanya. Nah, kuping saya tak bisa ditutup, dan tentunya semua kisah menyedihkan itu akhirnya saya dengarkan… Alhasil, kepikiran terus sampai berhari-hari memikirkan nasib para TKW Indonesia itu….

Salah satu TKW bahkan ada yang bengong, hampir tidak bisa diajak bicara dan tidak punya uang dan harta apapun untuk kembali ke kampungnya. Nama dan alamat kampungnya berhasil diidentifikasikan setelahg dilihat di KTP-nya. AKhirnya sejumlah penumpang patungan mengumpulkan uang untuk satu orang itu, dan minta tolong ke salah satu rekan mereka yang kampungnya paling dekat untuk mengantarkannya pulang.

Kasihan sekali nasib para pahlawan penghasil devisa……

[Jalan sudah mulai lancar menuju Bandung, saya cukupkan sampai disini, takut keburu hilang sinyal 3G nya]

Cengkareng Dini Hari …

Posting ini saya kirim dari Laras Kafe di terminal keberangkatan Internasional di Bandara Sukarno Hatta jam setengah lima pagi. Malam ini saya menyertai istri saya dari Bandung naik bis langsung ke Bandara untuk mengejar penerbangan internasional pagi ini. Karena tidak mau mengambil resiko, Primajasa, perusahaan bis-nya, menentukan kami harus berangkat jam 00.30 dari Bandung. Ok lah, kami mengalah, ikut saja.

Perjalanan lancar, tiba di bandara jam 03.00. He-he-he, jangan dibayangkan seperti bandara lain yang sibuk 24 jam. Suasana sangat sepi, yang ada hanya orang tidur di kursi-kursi tunggu, sebagian berselimut sarung seperti ronda. Di layar LCD untuk menampilkan daftar penerbangan, belum ada satupun info penerbangan yang muncul, walaupun layarnya tidak mati. Itu menandakan bahwa di bandara ini aktifitas penerbangannya tidak 24 jam.

Restoran semua tutup, termasuk McD, kebetulan saja Laras Kafe sudah ada petugasnya. Inipun hanya menyediakan coffe mix dan mie gelas, semua menu yang lain belum ada. Saya jadi teringat sidak presiden (wapres?) beberapa waktu lalu yang saya baca di koran. Salah satunya dikritik masalah toilet yang memprihatikan. Beberapa toilet ditutup tripleks, sedang direnovasi. Akhirnya menemukan juga yang berfungsi. Isinya seperti apa? Air berfungsi normal, tapi kebersihan rasanya masih perlu jauh ditingkatkan. Suasana tambal sulam peralatan yang tidak selaras terlihat betul di toilet tersebut. Singkatnya kalo kita coba bandingkan dengan toilet bandara negara-negara tetangga, jauh lebih buruk suasananya.

Itulah suasana Cengkareng di dini hari…., sebaiknya jangan membiarkan wanita pergi ke bandara ini di dini hari sendirian. Juga, kalau tidak bisa menahan lapar, jangan lupa bekal makanan secukupnya….

Ha-ha-ha, itulah potret Bandara Internasional kita ….., masih menyedihkan…