Merindukan Pimpinan Seperti ‘Umar Bin Khatab’

Banyak masalah keseharian yang mudah terlihat oleh kita di kampus, di kota Bandung, di Jawa Barat atau di Indonesia secara umum. Seringkali kita langsung dapat mengindentifikasikan bahwa masalah tersebut adalah tanggung jawab rektor, kapolda, walikota, gubernur atau bahkan presiden. Tapi………., waktu berjalan, tidak ada juga action yang terjadi untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Dimana salahnya?

Mari kita simak satu kebiasaan baik yang selalu dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khatab. Sebagai pimpinan, Umar selalu resah memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Untuk meyakinkan bahwa rakyatnya sudah hidup sejahtera, Umar selalu menyelinap keliling kota dengan cara menyamar. Meronda untuk mengumpulkan informasi tentang rakyatnya, dan tentunya setelah informasi terkumpul, Umar selalu melakukan tindakan perbaikan segera yang diperlukan.

Ketika sedang berkeliling kota secara diam-diam, Umar mendengar tangisan anak dari sebuah rumah kumuh. Dari pinggir rumah, Umar mendengar si ibu sedang berusaha menenangkan anaknya yang sedang menangis. Rupanya anaknya menangis karena lapar, sementara si ibu tidak memiliki apapun untuk dimasak. Si ibu berusaha menenangkan anaknya dengan berpura-pura merebus batu agar anaknya tenang dan berharap anaknya tertidur karena kelelahan menunggu. Sambil merebus batu dan tanpa mengetahui kehadiran Umar diluar jendela, sang ibu bergumam mengenai betapa enaknya hidup khalifah (Umar) dibanding hidupnya yang serba susah. Khalifah Umar yang mendengar hal ini tak dapat menahan tangisnya, dan iapun segera pergi meninggalkan rumah itu. Malam itu juga ia menuju ke gudang makanan yang ada di kota, mengambil sekarung bahan makanan untuk diberikan kepada keluarga yang sedang kelaparan itu. Bahkan ia sendiri yang memanggul karung makanan itu. Ia sendiri yang memasak makanan itu, kemudian menemani keluarga itu makan, dan bahkan masih sempat pula menghibur si anak hingga tertidur. Keluarga itu tak pernah tahu bahwa yang datang mempersiapkan makanan buat mereka malam itu adalah khalifah Umar bin Khatab !

Umar bahkan juga bahkan menjaga tamu-tamu yang datang ke kotanya. Bagi Umar, keamanan para tamu termasuk tanggungjawabnya juga. Sebuah kisah menceritakan bahwa Umar mengetahui rencana kadatangan serombongan pedagang ke kotanya. Tanpa sepengetahuan mereka, Umar semalaman tidak tidur menjaga barang-barangnya agar terhindar dari tangan-tangan jahil yang bisa mencuri barang mereka.

Luar biasa…., adakah pimpinan seperti itu di era sekarang?

Di abad informasi ini, sebagian cara Umar melakukan kebiasaannya dapat dilakukan dengan cara-cara yang lebih modern. Sebuah laptop dengan koneksi wireless dan kebiasaan untuk membaca semua berita kritis tentang wilayah yang harus dipimpinnya adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan tiap hari, bahkan tiap detik. Dengan BLOG, pimpinan bisa mendapat masukan yang berharga dari warganya tanpa harus bepergian kemanapun, dan masih banyak bentuk kemudahan lainnya yang bisa dilakukan…

Tentunya, belum tentu semua terwakili, sekali-kali berkeliling kota melihat situasi nyata warganya adalah sesuatu yang tetap harus dilakukan. Mungkin tidak harus mengintip jendela orang seperti yang dilakukan Umar, cukup keliling kota melihat ketertiban kota, melihat banjir ada dimana, melihat jalan bolong ada dimana. Sekali-kali masuk ke pasar, pura-pura berbelanja sambil menanyakan banyak hal, atau sekali-kali naik angkot dan naik beca sambil mendengar keluh kesah banyak orang….

Semoga pimpinan-pimpinan di sekitar kita mau berusaha menjadi Umar-Umar yang lain…..

Iklan

15 thoughts on “Merindukan Pimpinan Seperti ‘Umar Bin Khatab’

  1. Ping-balik: Merindukan Pimpinan Seperti ‘Umar bin Khatab’ « Bandung Kota Kembang

  2. Waktu saya ikut outbound beberapa waktu yang lalu, saya baru mengerti apa itu ‘pemimpin’. Pemimpin adalah pelayan bagi yang dipimpinnya. Ketika semua tahu hal itu, saya yang kebetulan terpilih sebagai ketua kelompok diperlakukan seperti kacung. Saya jadi bisa memahami mengapa Khalifah Umar ketika terpilih mengucapkan ‘Innalillahi wa inna illaihi rajiuun’. Beban dan tanggungjawabnya ternyata besar sekali.

    Jaman sekarang ini ‘pemimpin’ diartikan berbeda. Menjadi harus dilayani, dihormati, dan sebagainya. Segala kata-katanya adalah perintah yang wajib dijalankan. Maka pemimpin yang dipilih sekarang terbiasa mengucapkan ‘Alhamdulillah’.

    Semoga bermanfaat dan terima kasih. :mrgreen:
    Betul sekali pak! Terima kasih atas tambahannya!

    JIka kita menjadi pelayan yang baik, Insya Allah dapat kebahagiaan yang tidak terkira, yaitu dicintai rakyatnya!

  3. Sayangnya zaman umar tidak ada pilkada. Saya pernah dengan pendapat yang perlu dicermati bahwa: jangan pernah memilih orang yang menginginkan suatu jabatan.
    Bahaya kalau ternyata yang kita pilih ternyata memiliki kerangka pikir seorang pedagang.
    Mungkinkah impian ini hanya akan berlaku pada sistem sosialis?

  4. Memang harus ada motivasi dari dalam diri sendiri, karena kalau melihat kemampuan, pengetahuan, sebenarnya pimpinan di Indonesia banyak yang mampu mencontoh kebijakan Umar bin Khatab tersebut.

    Setuju bu! Hanya seringkali sistem tidak memungkinkan untuk berbuat banyak!

  5. Memang benar pak…
    Derajat kecintaan seorang pemimpin terhadap rakyatnya, dan kecintaan rakyat terhadap pemimpinnya itu berbanding lurus dengan seberapa dekat pemimpin itu dengan yang dipimpinnya.

    Kalau semakin dekat maka akan semakin nyaman bercengkerama dengan rakyatnya.. dan tau seluk beluk masalah rakyatnya..

    Jadi kalau pergi kemana-mana nggak perlu dikawal barikade yang panjang… masak takut bepergian di negeri sendiri 😀

    Betul sekali! Betapa indahnya, andai saya jadi pemimpin yang dicintai rakyatnya! Tentunya dicintai dengan tulus tanpa dipaksa.

  6. Ayo Pak Arry mencalonkan diri menjadi Walikota Bandung……semoga kiprah Umar bin Khatab bisa terimplementasi di kota Bandung tercinta ini….BRAVO Pak Arry

    Kita lihat, apakah Allah akan memberikan kepercayaan itu kepada saya atau kepada orang lain yang lebih baik tentunya.

  7. Bravo Pak Arry…

    Kira-kira apa ya yang mendasari sikap kepemimpinan Umar bisa seperti itu? kalo dilihat sekilas perjalanan hidup Umar seperti kata Ibu kita Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang ”

    Trims..

    Karena Umar menganggap bahwa jadi pimpinan bukan jabatan, tapi pelayan dan tanggungjawab. Ketika Umar terpilih sebagai Khalifah, ‘Innalillahi…..’ yang diucapkan oleh beliau, seperti yang daisampaikan Pak Bagus. Semua pimpinan yang benar adalah pelayan dan pelindung warganya…
    Kalau asumsinya sudah berbeda dengan Umar, tentunya tidak akan jadi atau mengarah seperti Umar….

  8. Tentunya perbedaan zaman antara umar dan hari ini adalah dua hal yang dapat dilihat beda dan dinyatakan sebagai sebuah perbedaan
    Namun, pada prinsipnya ada banyak persamaan
    pertanyaan yang kemudian menyusul adalah, apakah pemimpin sekarang mau dan bisa bersikap seperti Khalifah?

    Kita do’akan semoga ada yang akan bersikap seperti itu…

  9. pa
    kalo rakyat bisa mengadu melalui blog; artinya harus ada infrastruktur di daerah2, termasuk daerah terpencil. kalo sudah begitu; harus ada organisasi pengelola infrastruktur tersebut, dst..
    sptnya jalan masih panjang ya 🙂
    tapi kenapa tidak..

    saya kira tidak berarti semuanya harus demikian, ini hanya salah satu cara saja, sehingga lebih banyak pilihan untuk menyampaikan aspirasi. Tentunya cara-cara sebelumnya tetapi bisa dijalankan.

  10. tulisan yg bagus, jadi semacam cermin utk semuanya terutama pimpinan.
    coba aja ada Umar bin Khatab lagi, maka
    – tidak ada lagi anak-2 jalanan yg mencari rejeki di lampu merah, angkot, toko dll
    – tidak ada rakyat kelaparan atau kurang gizi
    – tidak ada tekanan dari pihak manapun
    – tidak ada buta huruf
    – ada surga kecil di dunia ini

  11. Pak AAA, bagaimana tulisan ini dilanjutkan dengan bapak menulis tentang Umar bin Abdul Aziz.

    Sebab biasanya orang suka memberi alasan kondisi zaman keempat khalifah (termasuk Umar bin Khattab tentunya) itu kondisi ideal, sebab mereka sahabat rasul, mereka sudah dididik oleh rasul, mereka mewarisi sistemnya rasul, rakyatnya juga rakyat warisan rasul. Pemikiran seperti ini yang menyebabkan mereka beranggapan menjadi seperti khalifah yang empat itu hanya mimpi, mereka berpendapat kita tidak mungkin bisa seperti mereka.

    Nah, kalau kita membahas teladan dari khalifah generasi berikutnya, terutama umar bin abdul aziz.
    en.wikipedia.org/wiki/Umar_ibn_AbdulAziz
    Pada umar bin Abdul Aziz, kita akan menjumpai bahwa kita sangat mungkin bisa seperti dia. Umar bukan didikan rasul bahkan dia sempat menjadi “anak bangsawan”, dia tidak mewarisi sistem yang ideal, bahkan mewaris sistem yang korup, rakyatnya dia warisi dalam kondisi tertindas. Dengan kata lain, Reformist. Dengan kata lain, Umar bin Abdul Aziz membuktikan bahwa Sunah Kepemimpinan Rasul bisa diterapkan di kondisi apa saja.

  12. yang perlu dicermati: ketika seseorang menjadi pimpinan daerah (belum/bukan pemimpin/leader/imam), jangan kaget kalau ybs harus tunduk pada protokoler, jadi jangan heran kalau para kepala daerah tak sedekat saat kampanye dengan rakyatnya. Jangankan kepda (politis), ustad saja ketika popularitasnya meroket menjadi kesulitan yang luarbiasa bagi ummat untuk menyentuhnya, paling banter via sekprinya. Saya kira itu yang perlu dicermati: jangan sampai sang pimpinan jadi budak protokoler sehingga terisolasi dari rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s