BLT: Belajarlah dari Kasus Aborigin

Ada artikel menarik yang saya baca di HARIAN UMUM SINAR HARAPAN (versi ONLINE) berkaitan dengan program BLT yang akan dijalankan pemerintah. Kutipannya adalah sebagai berikut:

……………….

Aborigin Australia

Mari belajar dari prilaku suku Aborigin di Australia. Dulu mereka dikenal sebagai ksatria yang tangguh, pantang menyerah dalam berburu nafkah untuk keluarganya dengan menguasai alam. Sebelum datang kaum imigran Eropa, usia mereka rata-rata 70-80 tahun. Cahaya hidup memancar dari wajah dan tatapan mata mereka.

Tapi setelah terkena welfare programs dari kaum imigran, banyak dari mereka justru meninggal pada usia 38-40 tahun. Gairah dan semangat hidupnya sirna. Langkah dan postur tubuh kaum lelaki dewasa suku Aborigin tak lagi tegap dan perkasa seperti leluhurnya.

Melalui welfare programs seperti dikeluhkan mayoritas warga Australia suku Aborigin, mereka merasa kehilangan peran, kehilangan kuasa atas alam, hidup dan masa depan, serta hidup tanpa harapan. Akibatnya, terjadi tingkah laku sosial yang destruktif, terutama kekerasan dalam keluarga, alkohol, narkoba bahkan sampai membunuh dan bunuh diri.

Ketika pemerintah Australia mengucurkan dana semacam BLT itu, kaum lelaki Aborigin kehilangan peran sebagai pencari nafkah bagi keluarga, karena mereka merasa tak perlu lagi berburu di hutan dan bekerja di kebun. Tiap bulan pasti ada dana bantuan sosial dari pemerintah kepada setiap keluarga miskin.

Tapi kenyataannya, welfare programs justru telah merusak mental, etos kerja dan masa depan orang-orang miskin Aborigin, bukan menolongnya keluar dari kemiskinan. Dalam masyarakat tradisional, pencarian nafkah dan kepemimpinan berada dalam domain di mana laki-laki berperan secara dominan. Tapi welfare programs menghilangkan domain itu. Akibat-nya, kaum lelaki Aborigin merasa tidak punya arti lagi untuk bekerja keras.

Para suami miskin menganggap kehidupan sosial akan tetap berjalan normal sekalipun mereka kelak tiada. Tetapi anak-anak mereka akan berpikir ayahnya tak berguna. Mereka bahkan menjadi malu karena ayahnya penganggur, hanya hidup untuk menadah dana kompensasi pemerintah. ……………..

Referensi lengkap:

Akan sukseskah program BLT?

Program BLT (Bantuan Langsung Tunai) bukanlah pertama kalinya diterapkan di Indonesia sebagai bantuan langsung untuk keluarga miskin sebagai kompensasi dari satu kebijakan pemerintah yang menyulitkan mereka. Hal yang selalu terdengar dari penerapan program tersebut adalah tidak tepatnya sasaran. Penelurusan keasalahan selalu berujung kepada tidak akuratnya data keluarga miskin di Indonesia.

Saya khawatir, penerapan program tersebut akan kisruh dengan persoalan yang sama. Ada si miskin yang tidak mendapat bantuan, di lain pihak ada si mampu yang masuk dalam daftar penerima bantuan. Data kependudukan di Indonesia tidak pernah ditangani secara serius, tuntas dan berkelanjutan. Begitu banyak kegiatan besar, pengawasan dan sebagainya yang tergantung dari data-data tersebut. SENSUS, PILPRES, PILGUB, PILWALKOT, pengawasan korupsi, pembagian bantuan keluarga miskin adalah contoh-contoh yang penerapannya memerlukan dukungan data-data tersebut. Betapa banyak usaha berulang yang dilakukan untuk hal yang sama (update data kependudukan), tapi tidak pernah berbuah sesuatu.

Data kependudukan dan status keluarga di Indonesia harus segera dibenahi, supaya pemerintah mendapat gambaran yang akurat mengenai keluarga miskin dan perlu dibantu. Betapa besar manfaat dan penghematan yang dapat dicapai jika data tersebut tersedia dengan akurat.

Saya sangsi program BLT akan berjalan secara mulus dan tepat sasaran hanya dengan mengandalkan data lama yang konon sudah di-update.

Bagaimana menurut anda?