Membayangkan bayar angkot di Bandung menggunakan Smartcard

Posting ini saya kirim di tengah acara Sharing Vision dengan topik “Teknologi Dijital untuk MIcro Payment”. Salah satu alternatif micropayment system adalah berbentuk value stored money, berupa suatu kartu dimana sejumlah nilai uang tersimpan di dalam kartu, sehingga pada saat tranasaksi tidak perlu komunikasi online lagi, tapi cukup antara kartu (yang tersimpan uang didalamnya) dengan card readernya. Kartu tersebut menggunakan teknologi Smart Card. Sistem ini sudah banyak digunakan di berbagai negara, dan sebenarnya sudah mulai diperkenalkan juga di Indonesia.

Nah…., saya membayangkan pembayaran angkot di Bandung dilakukan menggunakan kartu semacam itu. Penumpang angkot diberikan alternatif untuk membayar menggunakan kartu tersebut. Kartu bisa diisi di ATM Bank. NIlai dalam kartu akan berkurang setiap kali transaksi (bayar angkot). Dengan kartu tersebut, bisa menjadi lebih praktis dan pembayaran bisa dilakukan dengan lebih cepat, dan yang pasti tidak perlu repot uang kembalian.

Perlahan-lahan, kartu tersebut juga bisa digunakan untuk transaksi jumlah kecil di pedagang kecil di tempat pemberhentian angkot, misalnya membeli minuman atau majalah. Lama kelamaan, kartu tersebut dapat digunakan dimana-mana untuk transaksi apapun.

Bagaimana menurut anda?

15 thoughts on “Membayangkan bayar angkot di Bandung menggunakan Smartcard

  1. hmm ide yg sangat futuristik dan bagus, mirip sistem pembayaran bus umum di Korea, saya dukung. Klo ada sistem ini gak ada lagi angkot yg bandel bikin tarif seenaknya.
    Salam kenal Pak Arry, saya mahasiswa STEI ITB IF 2004.

  2. kang, menurut saya, kita bisa mulai dari data base penduduk kota bandung yang super ketat. untuk membatasi permasalahan dulu. mereka semua punya ID yang didapat dengan proses pendataan yang sedemikian rupa. untuk memilih warga kota yang pantas kita layani. karena nanti mereka akan mendapat layanan-layanan kota yang terbaik. untuk urusan ini kang ary jagonya.

    setelah itu maka kita bisa gunakan ID card (KTP) itu untuk mengakses semua layanan kota bandung, termasuk bayar angkot, bayar listrik, bayar air, bahkan beli buku, belanja-belanja, semuanya. jadi layanan pemerintah itu mirip sebuah toko memberikan layanan kepada member-membernya.

    kalau ada masyarakat yang merasa tidak terlayani, maka cek dulu IDnya. kalau diluar data base kita, maka bisa kita abaikan, sementara. sampai warga bandung yang kita identifikasi terlayani dengan cukup memuaskan. kalau perlu memang dihitung betul batas wajar jumlah penduduk kota bandung atas dasar kemampuan fasilitas kota memberikan penghidupan yang layak bagi warganya.

  3. Supirnya happy, tidak perlu rewel lagi. “..darimana? “, kata sopir setiap melihat pembayaran yng kurang. “..kurang atuh “. Kebayang sabarnya supir angkot🙂 , apalagi saat BBM naik saat ini.

    Mestinya kartunya di log dulu saat masuk angkot, terus pas turun log lagi., dan tarif dihitung. Masalahnya angkot itu berhenti dimana saja, jadi penghitungannya harus mengacu ke pengukur jarak (km meter) angkot. Mungkin seperti taksi yah, cuman bayarnya pakai smartcard.

  4. Di Malaysia, IC (KTP) baru dilengkapi smart chip untuk menyimpan data pribadi dan e-Purse. Toh, bayar bus atau pelayanan publik pakai e-money pun masih jauh dari common.

    Malahan, aplikasi e-money yang sudah ada terlebih dulu (touch & go..untuk bayar tol, LRT, Monorail, dan Rapid KL) juga nggak seberapa laku.

    Di Singapore lain cerita. Kl bayar pakai uang tunai, ongkos MRTnya lebih mahal S$0.5. Bayar bus juga sama, lebih mahal kl pakai tunai. Jadi, mau ga mau, semua orang pada pakai e-purse.

    Jadi intinya harus ada unsur pemaksaan dulu sebelum kartu itu diterima publik.

    @Mul:
    Untuk ningkatin kesejahteraan sopir angkot, dan supaya angkot lebih laris, yang paling baik adalah:

    “Bayar angkot satu kali, pakai angkot satu hari”

    Kl bayarnya harus itung-itungan dulu naik dari mana, turun di mana, kasian juga tukang angkotnya. Kapan bisa dapat gaji tetap kaya orang kantoran ? Padahal tiap hari nganterin orang ke kantor..=)

  5. ide dari kang andri saya nangkepnya adalah;

    DATA BASE WARGA BANDUNG.

    tujuanya biar permasalahan kita batasi dulu, bahwa subjek dan objek segala pelayanan pemkot bandung adalah untuk dan dari mereka yang tercatat sebagai warga bandung.

  6. Terima kasih untuk semua komentar positif dan negatif, ini memang ide mentah yang masih perlu kajian panjang. Tapi saya masih tetap mengharapkan komentar apapun agar bisa melengkapi perspektif dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

    Mengenai database untuk penduduk kota Bandung, itu memang sudah menjadi pemikiran, silakan lihat di http://bandungindependen.wordpress.com/visi-misi/.

    Database penduduk adalah penting, karena banyak program yang berbasis pada database tersebut.

  7. Sekedar tambahan, saya ingat di Australia, penduduk manula mendapat diskon utk tarif taksi. Tetapi peraturan ini tidak merugikan supir/operator taksi karena di-kompensasi oleh pemerintahnya (dengan menunjukkan kupon manula). Itu kira2 10 tahun yg lalu, mungkin sekarang sistemnya sudah digital.

    Di Indonesia, (mungkin) ada peraturan bahwa pelajar mendapat diskon utk tarif angkot, tetapi supir angkot tidak mendapat kompensasi atas peraturan tersebut. Sehingga angkot Cisitu pun sering melewati pelajar (biasanya pelajar SD) yg hendak naik angkot. Pemerintah daerah se-Indo seperti tidak peduli akan konsekuensi peraturan tersebut.

    Micro-payment system jelas akan mempermudah proses kompensasi ini. Bisa dibuat rantai sistemnya: supir-payment operator-pemda. Well, machines can’t manipulate, but it’s those evil humans…😀

    Dari pelajar yang membayar “tarif pelajar”😉

  8. idenya bagus banget.. tapi ya angkotnya diganti dulu jadi angkutan masal yang bersih, nyaman dan aman…

    ga enak bener bayar canggih pake smart card, tapi di dalem angkot asep rokok mengepul😀

  9. kalo kurang depositnya bagaimana? bisa ngutang dulu? kalo sopirnya ngetem dapet diskon ya.. hehe..

    harusnya jangan menjual teknologi tetapi teknologinya menjual kenyamanan pada masyarakat. kalau hanya jualan teknologi, nanti masyarakat awam malah jadi riweuh.. cuma kita-kita doang yang ngerti..

  10. hmmmm…ide bagus, tapi pasti butuh banyak pemasangan infrastrutur baru yang agaknya cukup mahal.

    saya membuka wacana, bagaimana jika membangun monorel di bandung? kebetulan saya mahasiswa t.elektro (subjur power) dan kemarin saya dapat kuliah rekayasa Sistem oleh Prof Sudjana Sapiie yang salah satu tugasnya merencanakan pembangunan monorel di Bandung dan menilai apakah project monorel layak atau tidak untuk dilaksanakan.

    dan dari hasil kerja kelompok kami (tugasnya per kelompok), monorel layak dibangun di bandung. hehe…

    walaupun analisis yang kami lakukan masih amatir sekali, saya sering membayangkan bagaimana jika monorel dibangun di bandung, tentunya akan banyak membantu memberi solusi masalah lalu lintas di bandung. tentunya masih butuh banyak kajian…

    but i think it’s not a bad idea, pak… hehe….

  11. Sistem serupa pernah diterapkan di Belanda, namun kurang populer dan sepertinya tidak digunakan lagi. Namun saya setuju dengan sistem yang tidak menggunakan transaksi langsung dengan uang.

    Kalau menurut saya baiknya supir angkot itu digaji tetap per bulan. Kesejahteraan supir bisa terjaga dan nggak ada lagi cerita kebut-kebutan atau ngetem di sembarang tempat.

  12. Setuju dengan pak Habib.
    Setuju dengan kang Eep. Pasang tanda besar-besar larangan merokok di dalam angkutan kota!
    Sebelum monorel, silakan dianalisis untuk membuka kembali jalur-jalur Kereta yang saat ini pingsan. Seperti jalur Bandung Kota – Bandung Selatan, Bandung Kota – Tanjung Sari.
    Kemudian meremajakan dan memperbanyak kereta api serta jalur angkutan kota / bus kota menuju berbagai stasiun di kota.

  13. kalau pemerintah bersedia menyediakan angkutan massal yang nyaman dan murah, maka angkot dapat dihilangkan, motor dapat dibatasi supaya tidak melintas jalan tertentu.

    jika angkutan massal dikuasai pemerintah atau swasta yang ditunjuk pemerintah, maka mudah sekali untuk mengatur subsidinya. sekarang kalau BBM naik, subsidi angkot gimana caranya? subsidi onderdil untuk angkutan umum gimana caranya..? ribet..

    menurut saya, tidak ada jalan lain, kalau kita lihat dari kota2 besar lainnya di luar neger, angkutan massal semisal subway, monorail, adalah satu keharusan. tidak bisa ditawar lagi..

    stop peremajaan angkot, mulai beralih ke angkutan massal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s