Pengelolaan Sampah Harus Dimulai dari Sumbernya

Perhatikan foto di bawah ini. Foto tersebut adalah tumpukan sampah di Simpang Dago, salah satu jalan utama di kota Bandung. Entah mengapa, walikota Bandung saat ini lebih memilih mengangkut semua sampah dan rencananya akan diolah menjadi listrik di daerah pemukiman.

Sampah organik adalah salah satu komponen sampah terbesar, dan sumber utamanya adalah rumah tangga dan pasar tradisional. Seharusnya dilakukan pengelolaan sampah dari sumbernya, yaitu (1) pemisahan jenis sampah, (2) pengolahan sampah organik menjadi kompos. Jika hal ini bisa dilakukan, maka ada beberapa keuntungan yang kita peroleh:

  • Volume sampah akan berkurang sangat banyak, sehingga yang diteruskan ke pengolohan akhir volumenya sudah jauh berkurang
  • Mendidik masyarakat akan pentingnya hidup tertib dan menjaga lingkungan
  • Mendapatkan pupuk gratis, atau bahkan jika dikelola di tingkat yang lebih besar (RW atau kelurahan), kompos yang dihasilkan bisa menjadi bisnis yang menarik

Jika ada rumah yang tidak sanggup melakukan komposting sendiri, pengolahannya bisa dilakukan di tingkat RW atau kelurahan; tapi menurut saya, kebiasaan pemisahan sampah wajib dibudayakan di sumbernya. Mungkin awalnya perlu kerja keras dan kesabaran untuk meng-edukasi masyarakat, tapi ini adalah pilihan yang harus dilakukan demi lingkungan yang lebih sehat dan mendidik masyarakat yang tertib dan cinta lingkungan.

‘KKN’ anak SMP Salman Al-Farisi

Anak-anak saya sekolah di SD/SMP Salman Al-Farisi. Anak terbesar saya, Putri, sudah kelas 3 SMP dan sedang menunggu hasil ujian untuk masuk SMA. Ada satu program sekolah yang menarik dan selalu dilakukan setiap angkatan kelas 3, yaitu kegiatan PROSPEK, semacam KKN mahasiswa. Mereka berangkat dari sekolah satu minggu yang lalu. Ketika berangkat, tiap regu dipimpin oleh satu guru, berangkat sambung menyambung naik angkutan umum dari sekolah sampai ke desa tujuan.

Disana, mereka menginap di desa, berbaur dengan masyarakat setempat sebagai anak asuh, dan menjalankan berbagai program yang sudah mereka rencanakan dengan matang di sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain adalah: Pengobatan Gratis, pembangunan perpusatakaan, pembangunan tempat MCK, dan sebagainya.

Tahun ini pelaksanaanya dilakukan di desa Cikidang, Sukabumi. Hari Minggu kemarin, saya dan keluarga menjemput Putri setelah satu minggu Putri menjadi anak asuh ibu Oot di desa Cikidang. Acara pertemuan kembali anak-anak dengan orang tuanya, serta perpisahan dengan orang tua asuhnya menjadi pertemuan yang penuh haru biru.

Hal yang paling menarik dari kegiatan tersebut adalah pembelajaran bagi anak-anak. Banyak orang tua yang kaget melihat foto-foto kegiatan selama seminggu di desa. Anak-anak manja di rumah ternyata mempunyai sisi lain yang mengagumkan dan membanggakan para orang tua.

Selama perjalanan pulang, Putri menceritakan berbagai pengalaman pribadinya serta pengalaman kawan-kawannya. Ada teman-temannya yang terkaget-kaget di hari pertama disuguhi makan hanya nasi putih dan jengkol, ada yang kaget karena harus mandi di kamar mandi yang dindingnya hanya setengah badan, ada yang ketakutan tinggal di satu rumah tua plus mati listrik, tak kalah serunya pertandingan sepakbola antara siswa perempuan lawan ibu-ibu yang dimenangkan ibu-ibu dengan skor 7-0. Selain itu, tentunya cerita tentang kepuasannya bisa membantu sesama dan menyadari betapa banyak saudara-saudara kita di desa yang hidup lebih sulit dari pada kita yang berkecukupan.

Alhamdulillah, walaupun kami melepas Putri dengan penuh kekhawatiran, akhirnya kami dapat berkumpul kembali dan dia memperoleh pembelajaran yang sangat berharga. Satu hal yang luar biasa untuk ditiru oleh sekolah-sekolah lain.

Terima kasih untuk dedikasi guru-guru Salman Al-Farisi yang luar biasa.

Putri, ibunya, ibu Oot dan anaknya.

Dekat dengan masyarakat adalah suatu kenikmatan

Entah mengapa banyak pimpinan yang berusaha menjaga jarak dengan masyarakat, padahal dekat dengan masyarakat adalah suatu kenikmatan yang luar biasa. Menghilangkan jarak dengan masyarakat yang mencintai kita memberikan kesan yang luar biasa. Sekitar 2 minggu lalu, saya bertemu dengan masyarakat Dungus Cariang dalam rangka verifikasi faktual. Ucapan tulus, tatapan mata serta jabatan tangan erat memperlihatkan kerinduan masyarakat akan figur pimpinan yang mau dekat dan mendengar keinginan mereka.

Ya Allah, jika aku tak dapat memenuhi harapan mereka, semoga ada orang yang lebih baik dari aku yang dapat mewujudkan harapan mereka semua.