Pengelolaan Sampah Harus Dimulai dari Sumbernya

Perhatikan foto di bawah ini. Foto tersebut adalah tumpukan sampah di Simpang Dago, salah satu jalan utama di kota Bandung. Entah mengapa, walikota Bandung saat ini lebih memilih mengangkut semua sampah dan rencananya akan diolah menjadi listrik di daerah pemukiman.

Sampah organik adalah salah satu komponen sampah terbesar, dan sumber utamanya adalah rumah tangga dan pasar tradisional. Seharusnya dilakukan pengelolaan sampah dari sumbernya, yaitu (1) pemisahan jenis sampah, (2) pengolahan sampah organik menjadi kompos. Jika hal ini bisa dilakukan, maka ada beberapa keuntungan yang kita peroleh:

  • Volume sampah akan berkurang sangat banyak, sehingga yang diteruskan ke pengolohan akhir volumenya sudah jauh berkurang
  • Mendidik masyarakat akan pentingnya hidup tertib dan menjaga lingkungan
  • Mendapatkan pupuk gratis, atau bahkan jika dikelola di tingkat yang lebih besar (RW atau kelurahan), kompos yang dihasilkan bisa menjadi bisnis yang menarik

Jika ada rumah yang tidak sanggup melakukan komposting sendiri, pengolahannya bisa dilakukan di tingkat RW atau kelurahan; tapi menurut saya, kebiasaan pemisahan sampah wajib dibudayakan di sumbernya. Mungkin awalnya perlu kerja keras dan kesabaran untuk meng-edukasi masyarakat, tapi ini adalah pilihan yang harus dilakukan demi lingkungan yang lebih sehat dan mendidik masyarakat yang tertib dan cinta lingkungan.

5 thoughts on “Pengelolaan Sampah Harus Dimulai dari Sumbernya

  1. assalamualaikum,
    menurut pendapat saya tiap individu harus diajarkan untuk melakukan pemisahan sampah. sampah burnable ya masuk kantong sampah burnable, sampah plastik ya masuk kantong sampah plastik, sampah kertas ya masuk kantong sampah kertas. setelah itu apa memungkinkan bila pengangkutan sampah dilakukan terjadwal: misalnya tiap hari senin dan jumat hanya melayani pengangkutan sampah burnable, tiap hari selasa pengangkutan sampah plastik.
    lebih baik lagi memang kalau tiap rumah tangga bisa melakukan pengolahan sampah sendiri terutama sampah organik.
    demikian pendapat saya.
    wassalamualaikum.

  2. Ide bagus, tapi setiap rencana pasti ada halangannya, pasti, apalagi kalau melibatkan orang banyak yang sikapnya berbeda2. Jadi selalu harus disiapkan backup plan-nya. Kalo yang ideal gagal, apa rencana penggantinya. Terlebih lagi kalau rencana itu sangat ideal.

    Memisahkan sampah menurut saya sangat ideal tapi tdk tepat. di ITB yang isinya educated people saja rencana itu tidak berhasil kan? Padahal sudah disediakan tiga bagian utk sampah yg beda2. Kalau mau nunggu masyarakat untuk sadar (atau berasumsi ideal bahwa masyarakat sadar), ini akan terlaksana 15 tahun lagi…

    Kalo mau rencana berjalan, tidak harus mengandalkan kemauan masyarakat saja untuk mau memisahkan sampah, tapi pihak pemda juga harus menyediakan tenaga khusus untuk melakukan itu. Itu yang terjadi di beberapa negara yg pernah saya tahu. Jarang ada tempat sampah yang isinya ada 3 bagian, yang ada ya tempat sampah biasa. Tapi prosesing selanjutnya lah yang memisahkan sampah2 itu…

  3. Rasanya soal sampah sdh menjadisalah satu agenda setiap pemimpin yang terpilih entah itu gubernur, walikota, bupati atau RT sekalipun. Namun disayangkan tidak banyak perubahan yang dapat dilakukan thd soal sampah ini. Utamanya mmg dari tiap individu itu sendiri soal kesadaran “membuang sampah pada tempatnya” utk memilah sampah mungkin bisa prioritas berikutnya. Yg ptg sosialisasikan trus soal sampah ini. Kalo perlu ada sanksi sosial juga selain denda (mungkin ga ya?) Semoga pak Arry atau siapapun yg terplih kelak bisa mengurangi masalah sampah kota Bandung.

  4. Selamat pagi/siang/sore/malam!
    Saya tertarik ni Pak dengan urusan sampah. Bapak sudah baca UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Persampahan? Ada pasal tentang insentif bagi warga yang mengurangi timbulan sampah kan Pak? Ni pasal menurut saya (orang awam) oke banget ni! Tapi pelaksanaannya menurut Bapak gimana? Karena di UU tersebut katanya masih menunggu peraturan berikutnya.
    Lalu menurut saya, pengolahan sampah di suatu wilayah itu tentunya harus sesuai dengan kriteria sampah di wilayah tersebut. Tapi kita tetep harus memerhatikan nasib para pemulung kan? Menurut Bapak gimana sebaiknya?
    Itu dulu deh, sangat berterima kasih jika direspon…
    Hormat saya,
    Zulfikar

  5. upsss… cerita lama baget nih…sampah..

    saya juga bingung apa yg salah dengan sampah apa salah kelola atau yang ngelola yang salah….

    tapi gak masalah, kita mulai dari hal2 kecil aja dulu…sumbernya…yah kita ini kan…

    salam kenal mas, blognya inspiratif…

    ikutan nulis dong di

    goblue.or.id

    share bisa artikel, opini, berita, bahkan foto, agenda, dlll
    tapi yang kira2 masih ada hub dengan lingkungan…..

    salam GO BLUE…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s