Perlukah Ruang Gerak Sepeda Motor Dibatasi??? [updated]

Perhatikan perilaku pengendara sepeda motor dalam 2 foto di bawah ini. Foto tersebut saya ambil tadi pagi dalam perjalanan. Pada prakteknya, banyak perilaku pengendara sepeda motor yang lebih berani (baca: mengganggu) dari apa yang kita lihat dalam foto tersebut.

Perilaku pengendara tersebut mempunyai beberapa dampak negatif sebagai berikut:

  • Sangat berpeluang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Ketika terjadi kecelakaan yang melibatkan sepeda motor dan mobil, cenderung mobil yang selalu disalahkan, padahal bisa anda bayangkan dalam kondisi seperti foto di atas, siapa yang sebenarnya bersalah jika sepeda motor bersenggolan dengan mobil di arah yang berlawanan??
  • Cenderung menciptakan kesemrawutan dan kemacetan.
  • Secara tidak langsung membiarkan pengendara kendaraan bermotor bahwa di Bandung tidak ada peraturan atau etika berlalu-lintas yang harus dipatuhi. Perilaku ini bisa merambat kemana-mana karena akhirnya melekat pada diri pengendara tersebut.

Cina mengambil langkah berani dengan melarang penggunaan sepeda motor di kota-kota besar Cina. Saya kira, contoh tersebut kurang bijak jika diterapkan di Bandung, apalagi sepeda motor sekarang menjadi solusi murah untuk bepergian. Namun demikian, menurut saya, keadaan tersebut tidak dapat dibiarkan.

Saya coba melempar ide untuk membatasi ruang gerak sepeda motor di Bandung, misalnya kita sediakan garis batas untuk sepeda motor di jalur kiri, atau tidak boleh menyusul dari sisi kanan kecuali untuk melalui kendaraan lain yang sedang berhenti, dan hal-hal lain yang sejenis.

Bagaimana menurut anda???

[ U P D A T E ]

Supaya tambah seru fotonya, saya tambahkan dua foto berikut.

Iklan

19 thoughts on “Perlukah Ruang Gerak Sepeda Motor Dibatasi??? [updated]

  1. Kenapa motor malas disebelah kiri? Karena kejepit angkot! Tidak cuma sepeda motor, sepeda onthel malah kenyang kejepit angkot. Bayangkan berapa energi yang tersita pengedara sepeda onthel karena “stop and go” gara-gara terjepit angkot. Kalau mau dibuat jalur khusus motor disebelah kiri, mungkin cukup 2 m saja. Biar tidak bisa dimasuki mobil. Jadi mobil tidak bisa parkir dijalur lambat. Ini ide bagus, sekalian buat menertibkan angkot dan membudayakan masyarakat agar mau naik/turun di halte. Jadi mesti dibuat halte buat naik/turun angkot dan jembatan penyeberangan buat melintasi jalur lambat. Asal haltenya jangan dibuat ngetem/parkir angkot dan taksi saja.

  2. Saya setuju pake lajur khusus tadi. Tetapi tidak dibatasi seperti di China itu, pak. Jadi tetap dalam koridor menjunjung safety riding, tetapi motor diberi fasilitas jalan raya.

  3. setuju!
    tapi jalur motor yang benar2 khusus motor!
    gak kayak sekarang, disuruh jalan di kiri tapi diganggu mobil, bus, dan angkot..

  4. klo menurut saya sebagai pengendara motor, kedua foto di atas ga ada masalah. pertama, motor masih pada jalurnya dan tidak melewati garis tengah jalan. dalam prinsip saya ketika bermotor, kalau ingin menyusul mobil di depan harus ambil jalur kanan mobil, karena lebih safety. kalo kita ambil kiri mobil, akan sangat mengganggu pengendara mobil sendiri.

    kedua, pada foto nomor satu terlihat bahwa pengendara mobil terlalu egois, tidak mau memberikan jalan bagi pengendara motor. padahal klo kita liat sebelah kiri mobil masih ada space.

    saya setuju dengan usul ada jalur khusus motor, tapi mau kapan bisa terealisasi??musuh pengendara motor tuh hanya satu, angkutan umum!!

    saya pikir mobil pribadi pengendaranya sangat berpendidikan, oleh karena itu mereka mampu beli mobil.

    beda dengan angkot, yang ada dalam otaknya itu hanya kejar setoran. tanpa mau mengerti akan kebutuhan penumpang dan keselamatan pengemudi yang lain.

  5. selama pemerintah belum bisa menyediakan sarana transportasi massal yang murah dan nyaman, maka motor akan sulit dibatasi.

    sekarang pemerintah melarang, tapi solusinya ada ga..? naik taksi mahal, naik angkot ga nyaman dan kalau dihitung mahal juga beberapa kali naik angkot.

    kalau pun disediakan jalur khusus motor..? apa iya cukup menampung motor yang sekarang sudah bejibun..? kita memang selalu dalam posisi menangani masalah yang sudah terjadi daripada merencanakan dan mengantisipasi masalah.

  6. mungkin yang perlu disiapkan sekarang adalah bagaimana membuat sarana transportasi massal yang murah, aman dan nyaman.

    terus terang, sebenarnya saya malas juga setiap hari ke kampus dengan membawa kendaraan sendiri. tetapi saya lebih merasa tidak nyaman dan aman jika ke kampus naik angkot. menghadapi perilaku pengemis dan pengamen yang terkadang memaksa, dan juga yang tetap merokok di dalam angkot.

    saya itu paling ngeri kalau melihat ada satu keluarga naik motor. gerakannya oleng ke kanan dan kiri, mungkin karena tidak seimbang. tentu mereka mengambil resiko ini karena faktor biaya.

  7. Saya setuju dgn mas Mulyanto. Keadaan yang paling saya hindari kalau naik motor itu adalah jangan sampai ada di sebelah kiri nya angkot. Siap-siap kejepit dan ngerem mendadak. Mending saya breakout aja langsung lari kedepan, atau memang dari belakang sudah ancang2 untuk menyelip angkot tersebut.

    Ya habis gimana pak, naik mobil mahal, naik angkot nggak ada SLA nya, sementara kredit motor murah, DP cuma 500 ribu, dicicil 35 bulan, kalau nggak bisa bayar ya silakan diangkut aja. Belum lagi kalau di Bandung jalanan sempit, masih untung kalau punya garasi, kalau nggak punya akhirnya diparkir di pinggir jalan spt di jalan Pelesiran yang naik ke arah Cihampelas itu.

  8. Kebiasaan pemerintah memang tidak menggunakan prediksi ke depan. Sebagian besar peraturan juga menggunakan asumsi. Jadi tidak berlebihan jika dinyatakan bahwa pemerintah cenderung reaktif daripada antisipatif.

    Misalnya pada bidang internet. Baru-baru ini saja muncul peraturan berkaitan dengan internet. Padahal internet sudah muncul sejak puluhan tahun yang lalu. Kelabakan ketika muncul berbagai pengungkapan melalui internet.

    Tidak jauh berbeda ketika berbicara mengenai kendaraan transportasi roda dua. Yang menonjol sekarang adalah mengenai safety ridingnya. Bukannya sejak awal menyiapkan rute khusus untuk kendaraan roda dua, namun sejak awal memperlebar jalan untuk kenyamanan roda empat atau lebih.

    Bila sekarang hendak ditambahkan jalur khusus roda dua, perlu juga dipertimbangkan masalah transportasi yang lainnya. Apakah akan mengganggu jalur khusus atau tidak. Saya setuju dengan semua usulan di atas dari Mulyanto, aWi, dhzcorner, wigart18, Eep, kusprasapta, dan Affan.

    Saya juga ingin mengusulkan selain jalur khusus, juga perlu ditegaskan disiplin berlalu lintas. Seperti berhenti tidak di halte, ngetem, kejar setoran, parkir di badan jalan, parkir di bawah tanda larangan, melawan arus dan sebagainya. Alasannya, bukan hanya pengendara motor yang harus diatur dan dibatasi. Kendaraan roda empat atau lebih juga harus diatur dan dibatasi.

    Maaf, jadi emosi. Salam bikers. :mrgreen:

  9. Bagaimana kalau di Bandung tiap Hari Sabtu-Minggu/Minggu pukul 06.00-18.00 diadakan no black plate day alias hari tanpa pelat hitam. Jadi kendaraan pribadi apapun ! pada hari itu dilarang masuk jalan tertentu. Hanya kendaraan umum yang boleh lewat sana. Saya sarankan mungkin ruas Jl. Jend. Ahmad Yani yang lumayan padat atau Jalan Asia Afrika. Mulanya saya usul Jalan Ir. H. Juanda atau Dipenogoro, tapi ternyata utk Ir. H. Juanda & Dipenogoro sudah kadung jadi “cashcow” orang Bandung pas akhir pekan ! Ini saya contek dari car free day Jakarta di ruas Sudirman-Thamrin. Pengecualian tentu saja ada bagi ambulans dan damkar.

  10. klo foto updatenya saya setuju pak, itu prilaku berkendara yang salah.

    salut buat pak ari, selalu mengkritik dan menerima kritikan. ga kaya kebanyakan pemimpin kita sekarang hehehe….

  11. di Surabaya, pada beberapa jalan protokol sudah di-apply peraturan:”angkot dan motor harus berada di jalur kiri”.

    saat sosialisasi memang terjadi banyak kemacetan, setelah lancar? angkot dan motor nurut tuh untuk berada di jalur kiri.

    itu salah satu peraturan dalam program Safety Riding di Surabaya. sisanya masih banyak lagi.

    terakhir saya ke Surabaya ada himbauan untuk tidak membonceng anak di depan. kasian kan anaknya jadi tameng angin.

    Bandung? humm, angkot2nya ngetem di perempatan lampu merah seenak udel. mo lampu dah ijo teteup aja berhenti.

  12. Saya lebih setuju dengan Mas Eep dan Kusprasapta:
    Daripada membatasi ruang gerak sepeda motor (yang mau ga mau butuh dana tambahan untuk operasi lalu lintas, dsb), lebih baik usahakan angkutan umum yang layak.

  13. Saya tinggal di jatiendah, kalau mau pakai angkot ke dago. Maka rutenya :
    1. turun ke cijambe naik ojek Rp 3000
    2. 2 x angkot ke dago = Rp 7000-8000
    3. balik ke cijambe = Rp 7000-8000
    4. naik ke jatiendah ojek Rp 3000
    total biaya perhari = Rp 20 – 22 Rb. biaya per 4 hari = 80- 88 rb.

    Kalau pakai 2 tak jadul biaya bensin cuma Rp 20 rb untuk 4 hari. Kalau pakai motor 4 tak yang irit cuma Rp 12 rb untuk 4 hari.

    Angkutan umum yang layak? harus didukung tempat parkir sepeda yang aman. Misalnya di cijambe selain ada halte/terminal angkutan umum juga ada tempat parkir sepeda.
    Jadi masyarakat sekitarnya bisa mencapai terminal dengan sepeda lalu menitipkan/memarkir sepedanya kemudian naik angkutan umum. Dijepang hal seperti itu lazim.
    Di Bandung banyak daerah/perumahan/desa yang tidak terjangkau angkot, harus naik ojek atau jalan kaki.

  14. wah menarik… tapi ada masalah lain, yaitu kemacetan… nah ini disebabkan oleh mobil… hari minggu apalagi, mobil bener2 menyesakkan… lihat juga cisitu, pengendara mobil memarkir di pinggir jalan yg sempit itu.walhasil bertambah sumpek lah.di ITB sampai2 pengendara mobilnya markir di pinggir jalan,gara2 nggak kebagian tempat parkir saking banyaknya mobil.kalo saya perhatikan,banyak di antara pengendaranya yang cuma seorangan aja.

    alhamdulillah motor nggak bikin macet dan hemat tempat parkir karena kecil dan ramping…

    semangat2 pak

    ( mahasiswa elektro ITB pengendara motor 😀 )

  15. usul nih pak, gimana klo bapak sekali2 naik motor ke kampus, atau naik angkot trus ngobrol sama penumpang2 dan sopir angkotnya … bisa lebih merasakan penderitaan rakyat kecil, sekalian bisa menyerap aspirasi mereka (dan kampanye sekalian hehehe … ). Kalo di blog mah terbatas korespondennya …

    Untuk Bandung yg lebih baik …

  16. Pembatasan tidak perlu. Yang perlu dibenahi adalah mentalitas negatif yang cenderung membudaya. Mulailah dari diri sendiri, anak-anak dan anak didik.

    Yang perlu ditegakkan adalah enforcement hukum atas pelanggaran sampai kelak ada kesadaran diri untuk menghormati sesama (dalam hal ini sesama pengguna jalan).

  17. Kang Yanuar, sejak SMP sampai awal-awal jadi dosen saya adalah pengendara motor, jadi jangan khawatir saya bisa menyelami rasanya naik motor. Justru karena itulah saya sangat khawatir dengan perilaku pengendara motor saat ini yang sangat BERANI dan cenderung mendekati BAHAYA untuk pengendaranya.

    Walaupun tidak sering, kadang saya naik angkot dan sedikit banyak memahami persoalan mereka. Persoalan utama dari sisi mereka adalah KEJAR SETORAN. Celakanya pemerintah tidak menciptakan sistem yang bisa menjaga dan membina sistem transportasi ini. Jadilah suasana yang saling memperburuk keadaan.

    Bung Rhino, saya setuju enforcement hukum adalah salah satu yang harus diupayakan di segala sektor, termasuk di jalan raya, baik bagi pengendara mobil, angkot, motor, bahkan juga pejalan kaki.

    Sayang sekali saya tidak mempunyai kesempatan untuk memperbaiki keadaan secara langsung, padalah begitu banyak mimpi perbaikan yang ingin saya lakukan. Dukungan kami yang dipangkas habis di lapangan menjadikan tidak memungkinkan jadi calon walkot/wawalkot. Tapi mari kita tetap share pemikiran untuk perbaikan kota ini. Semoga yang terpilih nanti adalah orang yang amanah dan mempunyai hati nurani.

  18. Alasan kenapa motor malas di kiri karena kejepit angkot, rasanya gak bisa diterima. Gak cuma motor yang kejepit angkot, mobil juga. Memangnya gak capek lihat angkot jalan lenggak lenggok tiba2 berhenti di tengah jalan, atau tiba2 jalan lagi gak jadi berhenti? Sudah susah payah nunggu lama mau lewati angkot yang ngetem di tengah jalan, pas sudah sepi di jalur kanan dan pas mobil paralel dengan tuh angkot, tiba2 si angkot jalan lagi gak peduli orang lain sudah sejajar dengan si angkot. Dengan alasan yang sama, truk doyan jalan di jalur paling kanan meski amat sangat pelan sekali. Setidaknya motor badannya lebih kecil dari mobil, lebih mudah lewati angkot yang berhenti da ngetem di tengah jalan, lalu kenapa tetap masuk ke jalur berlawanan arah?
    Jadi makin kacau karena masing2 cari2 alasan untuk kepentingan diri sendiri tanpa peduli dengan orang lain. O ya, malas muter agak jauh, melawan arus dulu, lalu mauk ke u-turn terdekat, juga jadi alasan melawan arus. Lalu kalo naik ke trotoar, alalsannya mau cari celah jalan sesingkat2nya, gak mau antri bareng kendaraan lain, biar paling cepat dan paling depan. Kalo ngebut serobot2, ya bikin alasan lain, wah udara panas, mau sampe secepat2nya, enak yang bermobil pake ac (nah yang ini nuju kecemburuan), gak kepanasan, dll. Toh kalo malem juga ngebut serobot2, alasannya lain lagi, udah malem mau cepat2 sampe. Lha kalo pagi, tancep juga serobot2, gak peduli hak orang lain, alasannya lain lagi, udah telat mau kerja, lho kok gak berangkat lebih pagi. Bangsa ini terkenal yahudi-nya, gemar bikin alasan untuk membenarkan segala angkara murkanya, idenya ya angkara murka harus jadi ciri prilaku bangsa.

  19. kalo sepeda banyak itu wajar ndk makan tempat satu orang, bayangin kalo semua orang bnyak yg kaya mobil murah 1 0rang naik satu mobil besar bayangin apa ndk penuh jalan ini lama2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s