Semua Cawalkot Berlomba Mengotori Kota

Menyedihkan jika saat-saat ini jalan-jalan di kota Bandung. Kota yang memang sudah rusak ini ditambah tidak sedap dipandang mata oleh berbagai atribut kampanye yang dipasang seenaknya, tidak memperhatikan keindahan, bahkan mengganggu hak orang lain. Tempel di tembok rumah orang tanpa permisi, bahkan di kompleks rumah saya, calon No. 1 menghiasi sebagian tembok pagar mesjid. Saya perhatikan, semua pasangan calon melakukan cara kampanye yang tidak simpati ini.

Bagaimana mau membangun kota menjadi bersih jika semua calon memulai dengan cara begini? Bagaimana kita mau mengajak kebaikan kepada masyarakat jika kita memberi contoh yang tidak baik?

Buat calon yang perduli dan merasa perbuatan tersebut salah, saya kira masih ada waktu untuk menarik simpati dari masyarakat dengan cara membersihkan semua atribut kampanye yang ditempelkan di tempat-tempat yang tidak tepat dan memohon maaf kepada masyarakat.

24 thoughts on “Semua Cawalkot Berlomba Mengotori Kota

  1. apakah kalo mas arry terpilih jadi cawalkot atau calon wakilnya, dijamin ngak akan melakukan kampanye kaya gini? sepertinya bukan jaminan, mas.

    Arry Akhmad Arman:
    Memang tidak mudah mengontrol semua simpatisan yang menempel poster-poster tersebut, tapi jika ada kepedulian dari calon, saya kira bisa diminimalkan. Nyatanya, semua calon di semua lokasi melakukan hal yang sama, memperlihatkan bahwa tidak ada kepedulian tentang hal itu. Juga banyak cara untuk menempelkan atribut tersebut tanpa ditempel permanen di suatu dinding. Hanya masalah kemauan dan kreatifitas.
    Tak ada gunanya beradu argumentasi tentang saya yang sudah ditekan supaya tetap tidak lolos. Sebagai gambaran, kami ke PTUN dengan diantar sampai 1000 simpatisan. Dengan niat untuk memberi contoh dan sebagai bukti tanggungjawab kami kepada kebersihan kota, kami membawa tempat sampah, sehingga di sekitar PTUN pun tidak meninggalkan sampah.

  2. Saya sudah usulkan ke teman-teman di pks setelah piwalkot selesai sambil menunggu masa perhitungan melakukan program simpatik dengan melibatkan kader dan warga membersihkan lingkungan dari poser-poster..

    Kemarin sih respon dari temen-temen pks cukup positif bahkan mau sekalian modal cat putih untuk menutup bekas lem yang tidak mudah hilang….tapi kita liat saja nanti realisasinya..

    Saya salut, semoga itu terlaksana…., dan tidak perlu menunggu masa kampanye habis. Justru aksi simpati itu adalah bagian dari kampanye. Toh masih akan tersisa atribut-atribut lain yang ditempatkan secara benar

  3. Di daerah rumahku malah ada stiker kampanye salah satu Cawalkot yang ditempel tepat di tengah2 cermin-di-persimpangan-jalan. Apa orang yang nempel stiker itu gak ngerti, ya, kalo dia udah membantu terjadinya tabrakan.

    Payah, itu orang! Hohohoooo.

    Wah, sangat memprihatinkan!

  4. Kalo saya lihat ini karena memang “sistem”-nya memaksa seperti ini. saya yakin ga ada cawalkot yang berniat seperti itu kok. yang paling menjangkau masyarakat kita selama ini kan ya model-model tempelan seperti itu. ada usulan sistem yang lebih bagus?

    saya ga tau di negara lain, mungkin kalo ada di negara lain ada cara yang lebih baik untuk mensosialisasikan alon dan pilkada dan lebih bersih, bisa dicontoh.

    positifnya:
    + sosialisasi lebih terasa. iya ga sih?
    + pengusaha cetak dan sablon jadi lebih sejahtera.
    + membuka lapangan kerja (yang ini buat cawalkot yang pake bayaran buat tukang tempelnya..)

  5. Kalau misalnya Pak AAA lolos jadi calon walikota, kayaknya cara demikian tetap menjadi pilihan untuk menaikkan popularitas. Sayang, saya tidak bisa membuktikan kata2 saya, karena pak AAA tidak lolos…..

    Alangkah lebih baik jika kita tidak berburuk sangka.
    Berdasarkan ilmu marketing, cara marketing yang salah malah bisa menurunkan citra. Juga marketing yang berlebihan tidak menjamin citranya akan naik terus juga. Saya mendoakan semoga jago anda menang!

    Salam persahabatan,
    Arry Akhmad Arman

  6. Dear,

    Ah, paling kalo Pak AA Arman jadi calon juga bakal melakukan hal yang sama… sementara maklumin ajah dulu..namanya juga pesta, pasti berantakan lah.. coba ajah bapak ngadain pesta nikahan, pasti rumah bapak berantakan kan ? yang jelas kalo abis kompanye, mereka calon2 harus mau bertanggung jawab u membersihkannya, bila perlu ngecet pager2 rumah kta

    Untuk para calon, tolong abis kompanye kalian harus bayar ganti rugi u beli cat pagar. Apalgi ini mau 17 agustusan dan bulan ramadhan..harus bersih..

  7. 1. Mgkn bapak bisa mengajukan usulan kepada KPU untuk memasukkan syarat menjaga kebersihan pada aturan kampanye secara explisit, untuk pemilu2 ke depan?

    Rasanya aturan itu ada, tapi banyak dilanggar.

    2. Buktikan bahwa tim bapak sudah melakukan komitmen ini dengan membersihkan semua sisa2 kampanye dengan foto/film/publikasi, dan menantang orang untuk membuktikan sebaliknya.

    Tidak ada yang harus saya buktikan, saya tidak mempunyai tempelan-tempelan kampanye….

    Sama seperti Al Gore, walaupun gagal dalam pemilihan Presiden USA, tapi beliau tetap mendengungkan idealisme beliau dalam melawan Global Warming.

    Saya melakukan hal yang sama, walaupun tidak bisa maju, idealisme saya untuk kota Bandung dalam bentuk tulisan-tulisan tetap saya lakukan. Posting ini merupakan kepedulian saya terhadap kota Bandung, jangan dianggap kritik yang menyakitkan untuk calon-calon. Silakan search “bandung” di blog saya, banyak tulisan saya tentang kota ini, dan Insya Allah akan saya lakukan terus.

  8. Setuju dengan -wisnu-
    Kita lihat timnya pak AAA apakah bergerak ?
    Eh, tapi bukannya sudah pembubaran tim sukses ?

    Mengapa “tim” saya yang harus bertanggungjawab….? Perlu anda pahami, saya bukanlah orang hebat (apalagi banyak uang) yang bisa membiayai tim. Tidak ada tim sukses dalam tim independen kami. Yang ada adalah sekumpulan orang yang mempunyai cita-cita yang sama untuk melakukan perbahan terhadap kota Bandung tercinta. Kami semua bahu membahu berusaha mencapai cita-cita tersebut. Tentunya, hasil akhirnya Tuhan jua lah yang menentukan.

  9. poin pentingnya adalah apakah setelah selesai kampanye, semua peserta dan timnya akan membersihkan kota Bandung.

    Semoga PKS ia. Dari komen no 4 semakin mengutkan ke IA an ini.

  10. Wah-wah-wah, ko ada acara tuduh menuduh nih. Tolong jangan lihat saya sebagai satu calon yang diganjal. Saya juga punya kedekatan dengan jago-jago anda. Kalau saya tidak punya niat baik, saya tidak akan mengusulkan suatu aksi simpati di ujung tulisan saya, mungkin saya akan maki-maki tanpa memberikan solusi.

    Hal serupa sudah pernah saya kritik waktu Pilgub yang lalu, silakan cek di https://kupalima.wordpress.com/2008/03/27/inikah-contoh-kampanye-yang-santun/. Jadi ini bukan kritik saya yang pertama, apalagi kalau dianggap tulisan ini sebagai ungkapan kekecewaan tidak lolosnya saya. Ini salah besar.

    Ayolah, tidak baik berburuk sangka, agama kita tidak menganjurkan begitu.Apa yang saya kemukakan adalah fakta, bukan isue atau dugaan. Saya adalah warga Bandung nu nyaah ka Bandung, apa salahnya tulisan saya???

    Banyak cara selain tempel menempel: Baliho, spanduk, spanduk gantung kecil yang banyak ditempel di pohon atau tiang, poster kecil bisa dipasang berderet dengan tali dan dipasang antar dua tiang, dan masih banyak hal lainnya.

    Pesta bisa diselenggarakan dengan berbagai cara, tapi pesta bukan pembenaran untuk melakukan kesalahan. Memang itu semua harus dilakukan, tapi alangkah lebih baik kalau kita memilih cara yang baik untuk melakukannya.

    Satu lagi, rasanya tidak fair tiba-tiba “tim saya” harus membersihkan. Yang berbuat, kalau merasa perlu dibersihkan, lakukanlah. Kalaupun tidak, mungkin tidak akan ada yang menghukum juga. Biarkan masyarakat yang menilai.

    Ok, segitu saja. Pahamilah niat baik saya…..
    Walaupun saya tidak lolos, saya bersyukur ada kawan sejawat yang maju. Semoga bisa membawa PERUBAHAN yang kita inginkan bersama, mulai dari hal-hal yang kecil.

    Salam hangat dari kampus Ganesha
    Arry Akhmad Arman

  11. Kalau saya tidak berburuk sangka kok pak.
    Malah saya berpikir niatan bapak baik (makanya saya analogikan dengan Al Gore..hehe).

    Saya rasa media blog memang cukup efektif dalam menyampaikan pesan, bisa mencapai orang di mana pun dan kapan pun.
    Akan tetapi saya pikir itu pun relatif hanya sedikit orang.
    Apalagi ke pihak-pihak yang berwenang, saya tidak yakin mereka rutin membaca blog🙂
    Tapi saya pikir supaya kritik ini efektif, alangkah baiknya dibawa ke badan yg berwenang atau ke publik yang lebih luas.

    Usulan saya:
    1. Bawa wacana ini ke KPU, supaya dibikin aturan khusus mengenai menjaga kebersihan dalam kampanye.
    2. Bawa wacana ini ke media massa.

    Salam,

    Sudah saya jawab di #9.
    Saya sudah lihat presentasi Al-Gore tentang Global Warming yang sangat memikat, dan saya ingin jadi Al-Gore untuk issue-issue perbaikan kota Bandung. Mari kita lakukan sama-sama.

  12. Tenang pak, saya tidak menjagokan siapapun🙂 Intinya begini : misalnya Pak AAA maju di pemilihan, akan sangat sulit menerapkan model2 promosi seperti di komentar no #11. Poster yang digantung dengan mudah saja dipotong talinya, trus dicuri simpatisan calon lain. Cobain deh….

    Jadi dilihat dari kepentingan calon walikota, poster gantung kurang efisien dibanding dengan tempel menempel. Sekarang aja dengan model ditempel, ada aja yang disobek2 entah sama siapa. Tapi paling tidak potongan gambar wajah masih keliatan, dan orang masih bisa merasa bahwa “calon yang gambarnya disobek2 itu dizolimi”, jadi simpati bisa meningkat.

    Lah kalo poster gantungnya dicuri ? Gak ada bekasnya pak ! Dengan begitu, Pak AAA merasa dizolimi ? Betul, tapi masyarakat ga ada yang tau. hehehe… Mau klaim gimana caranya ? wong bekasnya aja ga ada😀

    Ya dari penilaian itu, dengan terpaksa, cara paling efisien ya tempel menempel. Dan karena rumusnya adalah “Semakin sering gambar salah satu calon terlihat, semakin besar peluang orang untuk mengenalnya”. Dengan asumsi bahwa “semakin calon itu dikenal, maka peluang dia dipilih semakin besar”, maka teknis promosinya ya tempel sebanyak-banyaknya. Ini mah metode marketing biasa pak….

    Ya, itu semua kembali ke niat baik kita untuk memulai melakukan PERUBAHAN yang kita janjikan.

  13. setuju ini.. waktu pemilihan wali kota cimahi juga sama.. depan tembok rumah saya sampe ditempelin .. padahal letaknya di komplek dan kompleknya nggk terletak di pinggir jalan besar..
    parah banget ini..

    jadi inget kang cepot waktu mentas di komplek kemarin..
    dia bilang,, coba kalo kampanyenya dengan ngebersihin sungai cikapundung,,
    pasti dijamin bersih.. dan kalah menang pasti kerasa efeknya😀

  14. Tadinya saya punya simpati yang kuat pada salah satu pasangan calon dan berniat memilihnya pada tanggal 10 Agustus nanti. Tapi setelah rumah saya ditempeli poster calon tersebut tanpa permisi, bukannya saya gembira, malah jadi berpikir ulang apakah saya harus tetap memilih calon tersebut?

    Kalau sebelumnya Kang Dadan sangat yakin dengan pilihan tersebut, mungkin lebih baik maafkanlah! Kecuali, setelah dinding rumah Kang Dadan dibersihkan ternyata ditempel lagi, maka silakan pilih pasangan lainnya! He…3x, hanya menggunakan logika saja.

  15. saya sangat setuju dengan pendapat kang Arman. sebaiknya sedikit demi sedikit masyarakat juga di ajarkan kedewasaan cara menentukan pilihan. jangan mengandalkan hal-hal irrasional seperti ikut ramenya, yang banyak gambarnya di jalan, yang tag-line nya bagus, yang kasep, dll.
    tapi mulai menguji dan menilai dari content. bagaimana setiap calon diuji dengan rencana perbaikan kota dengan ide yang terbaik. sehingga sosialisasi lebih banyak dari diskusi, workshop, dan uji skala lab, dst.
    tapi saat ini debat publik saja jarang dihadiri oleh calon dengan sepenuh hati. hanya beberapa yang memang berlatar belakang akademisi yang siap seperti itu.
    itu pun lebih berlangsung dengan suasana emosional dan lebih memunculkan berbangga-bangga dengan kelompoknya. bukan menelaah secara sistematis problematika yang ada secara lebih mendalam, operasional dan efektifitas penyelesaian masalah.

    Marilah “perubahan yang memang berat” itu kita mulai lakukan! Segala sesuatu harus dimulai dengan yang kecil! Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi??? Tunggu orang lain? Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Tunggu Bandung tambah rusak! Mari bersama-sama kita segera mulai perubahan, HAYU BABARENGAN BEBENAH BANDUNG.

  16. Masalah tempel-menempel foto, saya rasa itu karena para calon tidak punya skill public communication (masih layakkah calon walikota tanpa public relation skill ?)

    Jujur, saya rasa bicara di publik Indonesia sangat ruwet sekali, karena background tiap orang sangat berbeda (dari beda suku, agama, latar belakang pendidikan, dsb). Karena itu, daripada repot-repot, ya mending pasang foto aja.

    IMHO, harusnya kampanye yg efektif (tanpa buang-buang banyak duit untuk poster, sewa gedung/lapangan, dll) adalah via strategi marketing: segmentasi pasar (pemilih..).

    Kita harus kenali siapa yang mungkin tertarik dengan ide kita. Trus menyesuaikan metode kampanye dengan lifestyle mereka (ada yang senang debat publik, ada yang via internet/blog, dsb).

    Dengan demikian, ide kita bisa tersampaikan secara personal, tanpa perlu mengotori seisi kota dengan poster konyol yang tidak efektif menjaring pemilih sama sekali.

  17. target selanjutnya… mendesak PEMERINTAH agar melarang cara-cara penempelan atribut kampanye!! ganti dengan cara kampanye lain yang ga buang buang uang..

    kalo cuma bikin spanduk, plamfet, bendera.. yang untung cuma percetakan doang.. rakyat cuma kebagian sampah..

    coba pemerintah bikin aturan.. kampanye dengan membangun prasaran fisik.. sekalian membantu anggaran pemerintah yang terbatas…

    kebayang deh ntar PILPRES 2009.. semua kota bakal kotor lagi…

  18. Saya setuju, kelihatannya kampanye dengan tempelan harus dilarang! Coba bayangkan, Gubernur Jabar sudah dilantik, tapi tempelan kampanye nya masih bisa kita lihat di berbagai tempat di kota Bandung. Dan nanti ada puluhan partai yang akan melakukan tempelan-tempelan itu….., lalu Presiden

  19. Sepanjang yang saya tahu, untuk pemilu 2009 media kampanye yang diizinkan tidak termasuk pamflet yang ditempel2.

    Jadi yang masih dibolehkan adalah bendera, spanduk, baligo, banner, brosur, dan yang sebangsanya, termasuk juga dunia maya.

  20. Saya hanya berharap, Pak AAA tidak kecewa dengan tidak lolos, tetapi justru bertambah semangat untuk memperjuangkan kota Bandung yang ideal. Saya yakin ini adalah pembelajaran bagi P AAA. Semoga 5 tahun yang akan datang P AAA bisa lolos dan terpiih.

  21. iya hal itu menyedihkan banget. kota bandung kita jadi kayak papan pengumuman raksasa. Pastia ada cara lain dalam kampanye selain cara ini. memang akan merugikan tukang spanduk dan lan lain, tapi setidaknya tidak menggangu orang banyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s