Kekhawatiran akan upaya mendorong Bandung sebagai Kota Kreatif

Setelah membaca berita  “BCCF Usulkan 10 Program Bandung Kota Kreatif Asia, terus terang saya salut kepada Kang Ridwan Kamil sebagai motor utama BCFF. Adalah suatu kebanggan, juga sebagai berkah yang harus disyukuri bahwa Bandung menjadi satu potensi ekonomi kreatif yang (mudah-mudahan) juga dapat memakmurkan warganya.

Seingat saya, memang dari dulu Bandung adalah tempat manusia-manusia kreatif. Karena saya “urang Bandung”, saya masih ingat ketika saya kecil ada event rutin (tahunan?) lomba peti sabun yang diselenggarakan oleh DAMAS (Daya Mahasiswa Sunda), juga ada Go-Kart yang diselenggarakan di kampus ITB, juga ada Pasar Seni ITB yang masih berlangsung hingga kini. Intinya, saya percaya bahwa inisiatif Kang Ridwan dengan BCCF-nya akan sukses dan berjalan terus karena potensi kreativitasnya sungguh luar biasa dan seolah sudah menjadi bakat internal masyarakat Bandung.

Persoalannya adalah, bagaimana ide membangun kota kreatif ini benar-benar memberikan kemakmuran kepada sebagian besar masyarakatnya, tidak sekedar memberikan kebanggan bahwa Bandung mempunyai event-event menarik yang membuat orang berdatangan ke kota Bandung.

Berubahnya Cihampelas menjadi area Jeans yang bentuknya khas dan unik, berkembangnya industri sepatu beserta outletnya di Cibaduyut, serta munculnya berbagai FO di Bandung menurut saya itu bagian dari kreativitas juga. Pembenahan infrastruktur kota yang sangat buruk dan tidak memprioritaskan hal-hal yang sangat mendasar sebagai kelayakan suatu kota telah membuat Bandung menjadi kota yang sangat buruk dari segi infrastruktur. Kreativitas yang dibangun yang dapat mendatangkan pendatang ke Bandung, selain akan mendatangkan potensi ekonomi, juga akan menimbulkan masalah-masalah yang mengerikan untuk kota Bandung. Macet, parkir tidak terkendali, polusi, sampah, pengaruh budaya luar, dan sebagainya!

Saat ini, jika tidak ada keperluan yang mendesak, sebagian orang Bandung memilih untuk tetap di rumah pada saat weekend. Mengapa? Bandung macet dimana-mana pada saat weekend! Sungguh menyedihkan!

Orang Bandung yang Senin-Jumat bekerja, seharusnya dapat menikmati kota tercintanya pada saat weekend, sehingga mulai senin mereka bisa bekerja dengan pikiran yang lebih fresh! Faktanya, mereka disuguhi stress kemacetan yang luar biasa!

Sungguh menyedihkan menjadi orang Bandung saat ini. Kita hanya jadi “pelayan” untuk para pendatang! Pemerintah hanya silau oleh potensi ekonomi yang dihasilkan oleh para pendatang, tetapi lupa untuk memakmurkan masyarakat Bandung!

Dalam berita di detik.com dinyatakan:

Usai laporan Helarfest 2008, Ridwan pun menyampaikan 10 Usulan Program Unggulan Bandung Kota Kreatif Asia dari BCCF. Kesepuluh program tersebut dikelompokkan dalam tiga bagian yakni; peningkatan partisipasi masyarakat dalam wacana kreativitas, penguatan kewirausahaan di sektor ekonomi kreatif dan revitalisasi fisik Kota Bandung yang mendukung iklim kreativitas.

Saya ingin mengomentari sedikit. Pertama, kalau bisa, tambahkan satu “syarat” bahwa program apapun selalu harus berorientasi pada kenyaman warga kota Bandung. Kedua, revitalisasi fisik saja tidak cukup, tetapi revitalisasi infrastruktur fisik dan non-fisik di kota Bandung.

Baik, apa kesimpulannya? Tidak bisa ditunda bahwa infrastruktur kota Bandung harus segera dibenahi, baik infrastruktur fisik, maupun non-fisik. Ide-ide kreatif harus berjalan sinergi, bahkan lebih ekstrim lagi, tunda dulu ide-ide “briliant” yang bisa mendatangkan lebih banyak orang ke Bandung sebelum infrastruktur dibenahi.

Bagaimana menurut anda?

Tulisan terkait:

  1. http://bandungcreativecityblog.wordpress.com/2008/05/19/paradoks-perkembangan-ekonomi-kreatif-di-kota-bandung/

13 thoughts on “Kekhawatiran akan upaya mendorong Bandung sebagai Kota Kreatif

  1. dalam geliat tumbuhnya sebuah kota yang tidak akan lepas dari percaturan kota2 lain yang mempengaruhi dan dipengaruhinya, akan sangat bijak bila kita mengawali dengan memposisikan bandung dengan tepat.

    dimana ia sebagai ibu kota provinsi. ia menjadi penyangga ibu kota negara. ia menjadi kota yang dikunjungi oleh kota2 diluar provinsi jawa barat dan bahkan dari luar pulau jawa.

    posisi itu secara alami akan mendesak kota bandung memiliki wajah tertentu. yang mungkin saja baik, tapi sangat mungkin juga buruk. tapi yang pasti, beberapa hal mungkin sangat tidak bisa kita kendalikan. sehingga kita yang di dalam yang (bisa saja dengan terpaksa) akan menyesuaikan.

    namun sebagai warga kota, apalagi bandung dengan kekentalan dunia pendidikannya, saya pikir harus menjadi individu yang super cerdas. dengan ide dan gagasan yang jauh melambung di atas kepentingan yang masuk ke bandung ini.

    warga bandung harus menjadi warga yang sangat siap maju dengan pikiran terbuka dan yang terpenting memiliki ide-ide yang cerdas untuk melahirkan strategi pembentukan tata kota yang elegan.

    dengan melahirkan pola dan rencana pembangunan kota yang kompromistis atau mengadopsi berbagai kepentingan: kental akan perhatian terhadap lingkungan, mengedepankan aspek kenyamanan manusia, memajukan warganya menjadi masyarakat berperadaban(warga dgn kapabilitas dan ide yang super), dan tentu saja dengan pertumbuhan ekonomi di atas kota2 lain.

    sekali lagi memahami posisi kota bandung dengan tepat. ini menjadi penting karena apa jadinya jakarta sebagai ibu kota negara ketika bandung tidak bisa mendukung pertumbuhannya. bagaimana jadinya pertumbuhan kota2 di jawa barat lainnya bila bandung sendiri tidak mampu menopang pertumbuhan mereka.

    disinilah kedewasaan warga kota bandung dibutuhkan.

  2. Bandung harus tumbuh, sebagai kota yang punya sejarah dan karakter, sebagai ibukota provinsi, juga sebagai penyangga ibukota. Pertumbuhan dapat diarahkan oleh pengelola kota sehingga tetap mencapai win-win solution untuk kemakmuran warganya dan fungsi Bandung untuk lingkungan yang lebih luas.

    Sampai saat ini, saya kurang melihat keberpihakan pengelola kota untuk “memanjakan warganya“, tetapi sebaliknya, sangat jelas terlihat upaya “memanjakan pendatang dengan mengorbankan kenyamanan warganya“.

  3. Bandung kreatif. Saya setuju! Dibiarkan saja Bandung akan tetap kreatif.

    Masalahnya adalah bila kreativitas dihalangi. Sulit untuk mengungkapkan kreativitas. Mahal untuk berkreasi. Itu jadi masalah. Orang Bandung banyak merasakan itu.

    Kapan ada pemilihan walikota lagi ya?

  4. Aa Arman,
    Saya senang Aa terus memonitor perkembangan kota Bandung.

    Sekitar tahun 2005, saya pernah sedikit curhat mengenai beberapa hal termasuk Perda K3 di blog. Entah seperti apa sekarang nasib Perda tersebut.

    Tadinya saya berharap kolaborasi Aa-Synar dan TReNDi bisa memenangkan pemilihan demi perubahan, tetapi nampaknya belum datang kesempatan itu.

    Mudah2an semangat itu tetap ada sehingga 5 tahun lagi bisa terwujud…

    Salam dari Jakarta;

  5. Hallo sobat, apa kabar?

    Insya Allah, sekedar berkoar-koar di blog akan tetap saya lakukan, tidak hanya 5 tahun ke depan, tapi seterusnya. Tapi kalau 5 tahun artinya pencalonan 5 tahun lagi, lihat nanti deh! Kemarin pun semua berjalan tanpa rencana, hanya mengikuti kemauan kawan-kawan dan kelompok masyarakat yang mengharapkan perubahan.

  6. arhhh.. kang Ridwan Kamil..
    itu teman satu kelas waktu kelas satu 20 tahun lalu😛
    sekarang kiprah nya ada dimana-mana ya, ah saya mah numpang bangga aja😀

    mari mari pa arry atuh, saling mendukung..

  7. Tapi sungguh lho… kreativitas orang Bandung betul-betul mengagumkan. Kayaknya sih, tinggal bagaimana supaya brand image Bandung yang kreatip itu bisa bikin wisata di kota ini makin hidup. Tapi ya namanya kota wisata, tentu ya harus bersih, aman, dan nyaman kan pak? Salut untuk Urang Bandung!

  8. Kang Arry,

    salam kenal ya. dan terima kasih sudah mengkritisi berita tsb. Dari beragam komunitas kreatif di kota Bandung.

    bisa dibaca lengkap di http://ridwankamil.wordpress.com/category/bandung-creativity/page/2/

    Kenyamanan warga adalah nomor satu. Saya dan keluarga juga paling males skg keluar malam minggu. macret prisan. jadinya malam mingguannya naik motor aja. Saya sudah ingatkan pemkot bdg, jangan sampai Bandung kayak kota Philadephia, dimana warga kotanya demo besar untuk mengusir turis yg sudah mengganggu kenyamanan keseharian warga kotannya.

    Kompas pernah meliput khusus ulang tahun bandung. Isinya 3 nilai merah (macet/ketidaknyamanan, iklim memanas, sampah/semrawutnya kota). hanya satu nilai biru (kreativitas yg berkelas global).

    Helarfest kemarin ini hanya satu program dari 10-15 program lainnya. Lainnya banyak berkaitan juga dengan program2 non fisik. Dari branding, pelatihan, Jejaring antar pekerja kreatif lokal/internasional yang ujung2 adalah mencari kemakmuran bersama.

    Musuh jaman kolonial adalah penjajahan. Musuh jaman sekarang adalah kemiskinan/kebodohan. Jadi Omong kosong kreatifitas jika ujung2nya tidak membawa kemakmuran bagi warganya. makanya strategi kelompok kedua adalah penguatan kewirausahaan di sektor ekonomi kreatif dan reformasi kebijakan ekonomi.

    btw, dari semua komunitas yg bersinergi di BCCF, kelompok kreatif dari ICT seperti BHTV justru belum bergaul dan bersinergi dengan teman2 pekerja kreatif yg lain. padahal sering diundang. agak disayangkan karena sinergi teknologi yg dikawinkan dengan kreativitas desain adalah unggulan masa depan bdg.

    segitu dulu kang pendapat singkat saya. ditunggu ide2nya.
    Teman2 mah, ada tidak ada dukungan pemerintah, kita akan jalan terus.

  9. Kang Ridwan (kalau teman sekelas bu Ayi Purbasari, mungkin lebih tepat Ayi Ridwan, bukan Kang Ridwan ya?) salam kenal kembali. Inilah uniknya dosen-dosen ITB, di kampus jarang bertemu, bahkan tidak saling kenal; lalu bertemu di kereta, di travel, dalam tender, atau di dunia maya seperti ini.

    Baik, kita kembali ke laptop. Ayi Ridwan, terima kasih sudah mampir di blog saya. Saya sudah baca 10 mimpi Ayi Ridwan dan saya percaya, kemakmuran dan kenyamanan warga Bandung terkandung dalam 10 mimpi tersebut. Yang penting sekarang, jangan sampai pengelola kota ini hanya mendukung inisiatif-inisiatif BCCF yang berhubungan dengan peningkatan daya pikat pendatang ke kota Bandung, tetapi tidak memprioritaskan perbaikan infrastruktur fisik dan non-fisik di Bandung serta peningkatan kenyamanan masyarakat Bandung. Kalau itu yang terjadi, apa yang saya khawatirkan akan menjadi kenyataan; Bandung tambah populer, banyak pendatang dan makin semrawut!

    Blog-nya saya cantumkan dalam daftar DOSEN NGE-BLOG di blog ini, semoga tidak keberatan. Salam buat teman-teman BCCF, kapan-kapan kita ngobrol-ngobrol. Untuk BHTV, saya rasa perlu ngobrol santai dulu dengan Pa Sani, Budi Rahardjo, Armein; saya bisa ikut juga.

  10. kalau saya punya pandangan lain..
    bandung sudah terlalu padat dan macet, sehingga kurang mendukung untuk kegiatan-kegiatan kreativitas.

    hampir semua tempat sudah menjadi FO, banyak sarana berkesenian yang tidak terurus, Rumentang Siang mau bubar, babakan siliwangi mau digusur, gedung AAC juga kurang terurus.

    saya sendiri mempunyai ide, kita lihat keberhasilan bali dalam hal pariwisata dan kreativitas seni dan budaya. mengapa harus dipusatkan di bandung kalau kita bisa mengcreate semacam Ubud nya Bandung di tempat lain. mengapa harus memaksakan diri karena hanya gara-gara Bandung adalah ibukota Jawa Barat, toh Denpasar pun ternyata bukan pusat berkesenian yang paling dicari di Bali..

  11. betul kang Arry…, misalnya nih kita buatkan sebuah perkampungan seni di Ciwidey, kan katanya kereta api ke Ciwidey mau dihidupkan lagi.. apalagi kalau jalan tol soreang pasirkoja jadi terealisasi..

    saya sendiri sedang merancang sebuah kawasan (masih dalam bentuk mimpi), yang terintegrasi antara perumahan/perkampungan seni, universitas seni, sanggar, galeri, hotel/resort bernuansa seni (anak-anak kalau libur bisa nginap di hotel sambil belajar melukis/kesenian), sekolah menengah seni, perkantoran kreatif (desainer, arsitektur, perusahaan content provider, dll), studio alam film, studio televisi, dll.

    atau ke arah Subang juga bisa, meskipun akses dari bandung melalui setiabudhi dan lembang terkendala macet

  12. kalau memang bandung kota kreatif, harus bisa dong cari solusi kreatif untuk bisa tetap kreatif tanpa macet, tanpa polusi, dan tanpa sampah?

    atau pindah ke surabaya saja pak, surabaya kalau sabtu-minggu luar bisa nyamannya, bisa kebut-kebutan di tengah kota🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s