Keluhan tentang Buku Elektronik Diknas

Saya pernah submit satu posting berisi tentang lokasi download alternatif buku elektronik diknas yang memang cukup sulit didownload dari situs aslinya di diknas. Di luar dugaan, walaupun sudah cukup lama saya sumbit (21 Agustus 2008), sampai hari ini trafik blog saya terhadap halaman tersebut selalu tinggi, bahkan kadang mencapai klik tertinggi dalam satu hari dibandingkan posting baru yang saya tulis. Ini mungkin memperlihatkan betapa banyaknya masyarakat yang mencari dan mencoba men-download buku tersebut.

Namun, jika membaca surat pembaca di detik.com, beberapa orangtua mengeluhkan repotnya mendownload, mahalnya mendownload dan mencetak dan berbagai ketikakpraktisan lainnya. Saya kira ini memperlihatkan kegagalan diknas dalam melakukan sosialisasi apa sebenarnya tujuan disediakannya buku elektronik tersebut. Terkesan bahwa semua orang tua menjadi disibukkan dengan mendownload buku tersebut dan harus mencetaknya. Mencetak dengan printer pasti lebih mahal dibandingkan dengan cetak masal suatu buku, apalagi jika mencetak menggunakan tinta original.

Jadi, hanya untuk dilihat di komputer? Bagaimana dengan keluarga yang tidak punya komputer? Bagaimana dengan keluarga yang komputernya hanya satu dipake rame-rame? Harus gantian antara si adik, si kakak dan bapaknya untuk memakai komputer?

Sosialisasi yang saya dengar di radio rasanya kurang memberikan penekanan bahwa buku elektronik adalah satu bentuk alternatif, bukan menjadi pengganti buku yang sebenarnya. Rasanya tetap lebih efektif si anak memiliki versi cetak buku tersebut. Tetapi dengan tersedianya juga versi elektronik, ada beberapa kemudahan yang bisa dicapai, diantaranya: dengan mudah kita mencetak berulang halaman tertentu yang diperlukan (misalnya latihan soal), halaman yang penuh coretan dapat dicetak ulang, jika ada revisi menjadi mudah dilakukan di versi elektronik, dan beberapa kemudahan lainnya.

Sekali lagi, buku elektronik tidak untuk menggantikan versi cetak. Paling tidak untuk saat ini dimana belum setiap anak (apalagi anak SD) masing-masing membawa satu laptop.

Justru ada hal lain yang menurut saya lebih PENTING mengenai buku ajar! Diknas tidak mampu menentukan buku terbaik yang berkualitas dan “mamaksakan sebagai standar buku ajar” yang wajib digunakan di seluruh sekolah. Saat ini, buku bekas si kakak tidak dapat dipakai oleh si adik karena tiap tahun sekolah memilih buku ajar yang berbeda. Jika buku ajar dapat ditetapkan dan hanya berubah misalnya 5 tahun sekali, mungkin jauh lebih terasa manfaatnya untuk meringankan beban biaya pendidikan. SPP gratispun menjadi tidak bermakna lagi jika orang tuan harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah untuk membeli buku baru setiap semesternya. Sementara buku bekas si kakak akhirnya dijual sebagai kertas kiloan.

Variasi yang tinggi dari buku ajar juga mungkin dapat menjadi penyebab anjloknya nilai-nilai ujian nasional di beberapa sekolah. Sekolah-sekolah yang mencoba menggunakan buku dengan latihan soal yang lebih sulit mungkin membuat siswanya terbiasa menghadapi soal sulit, sementara yang menggunakan buku baku malah keteteran. Padahal buku baku itulah standar minimum yang harusnya dicapai dan jika sudah mencapai itu seharusnya sudah memenuhi kompetensi yang diharuskan.

Artikel terkait:

  1. http://suarapembaca.detik.com/read/2008/10/09/123315/1017629/283/buku-elektronik-tidak-efektif
  2. http://suarapembaca.detik.com/read/2008/08/28/133418/996231/283/buku-sekolah-elektronik-ingin-hemat-malah-boros
  3. http://suarapembaca.detik.com/read/2008/08/22/143851/992846/283/bingung-unduh-buku-sekolah-elektronik
  4. http://suarapembaca.detik.com/read/2008/08/08/101533/985048/283/download-buku-sekolah-mahal

2 thoughts on “Keluhan tentang Buku Elektronik Diknas

  1. Saya setuju sekali Pak Arry. Pemerintah dalam hal ini depdiknas memang terkesan setengah hati dalam pengadaan buku murah buat peserta didik, baik SD, SMP maupun SMA dan yang sederajat. Kita lihat saja di Bandung yang notabene disebut “KOTA”, para guru tidak diarahkan untuk mensosialisasikan buku elektronik tersebut. Percumah saja siswa mendownload buku, tapi tidak sesuai dengan yang diajarkan di sekolahnya. Bagaimana di daerah…???
    Mau dibawa kemana arah pendidikan kita…??????????
    Kayaknya Pak Arry Aja Dech yang jadi mentrinya, he..he…he…

    Selama departemen, badan pemerintah, dan BUMN masih jadi sapi perah dan penitipan penyaluran dana untuk berbagai pihak (termasuk parpol), tidak ada orang lurus yang mau jadi pejabat tinggi negara! Sudah jujur, masih bisa masuk penjara lagi …. Jadi dosen yang merangkap jadi blogger aja deh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s