Kusmayanto Kadiman: “Change : Whats in it for me?”

Secara berturut-turut tulisan ini adalah kutipan dari Blog Pak Kusmayanto Kadiman (Pak KK, Menristek, Mantan Rektor ITB) tentang “Perubahan” atau “Change”, pertanyaan yang saya ajukan kepada beliau, dan jawaban dari beliau. Semoga menjadi tambahan pengetahuan yang berharga untuk kita semua.

Change : Whats in it for me?

Oleh Kusmayanto Kadiman – 11 Februari 2009 – Dibaca 912 Kali –
Change atau perubahan (ubah sebagai kata dasar) adalah satu kata yang paling banyak diperbincangkan dalam satu dasawarsa terakhir ini walaupun kata tersebut bukanlah kata temuan baru. Ubah (change) sudah lama dapat ditemukan di kamus-kamus Bahasa Inggris seperti Webtser, MacQuary dan Oxford. Begitu pula dalam kamus Bahasa Indonesia baik yang jadul seperti Kamus Punca Bahasa Indonesia (KBBI) maupun yang mutakhir Kamus Besar Bahasa Indonesia. Change sudah dipakai mulai dari tataran ide, konsep, strategi, taktik sampai slogan dan senjata pamungkas kampanye politik seperti yang dilakukan Presiden Barrack Hussein Obama.

Dalam KBBI banyak kita temui ungkapan yang berbasis ubah, misalnya ubah mulut atau ubah kata yang digunakan mengingatkan dan manyindir mereka yang suka ingkar janji dan ubah ingatan untuk menerangkan orang yang hilang ingatan alias gila.

Setiap upaya melakukan perubahan besar dan mendasar (eg.Transformasi Korporasi, Destruksi Kreatif, Debirokratisasi) maka individu-individu dalam organisasi tersebut akan segera terpilah menjadi beberapa kelompok, yaitu:

a. Sang Juara, The Champion. Ini adalah individu atau kelompok yang dari sejak awal sepaham dengan upaya perubahan yang digulirkan. Mereka ini yang kerap dikenal sebagai agen pembaharu. Tidak segan bergerak cepat karena mampu melihat kedepan dengan jernih. Sering mereka berkata “Risiko terbesar dalam hidup adalah jika kita hanya berpangku tangan dan tidak berbuat apa-apa untuk mensukseskan perubahan”, “Loyalitas buta adalah kebohongan sejati !”, “Kinerja adalah satu-satunya job security”. Pandangan yang berbinar-binar, selalu bersemangat dan bertolak pinggang adalah ciri mereka. Namun ada juga juara yang memilih kiat tidak banyak berkata (lisan) melainkan melalui tulisan dan karya. Dalam istilah manajemen lazim dikenal sebagai the quiet achievers. Meninggalkan kebiasaan lama yang tidak produktif buat mereka bukan merupakan kesulitan besar karena mereka yakin dengan dengan kebiasaan baru yang akan segera mereka bangun. Tidak banyak jumlah personil yang masuk kategori Sang Juara ini.

b. Sang Medioker, The Mediocre atau The Wait-and-See, Jumlah mereka ini biasanya paling banyak alias mayoritas. Mereka gamang untuk bergerak dinamis dan cepat akibat keterbatasan melihat kedepan dengan jernih dan khawatir tersingkir dan takut terguling. Pertanyaan yang paling sering dilontarkan adalah “Jika saya ikut berubah dan melakukan perubahan, saya dapat apa?” What is in it for me?. Berpangku tangan dan tersenyum dingin atau datar adalah ciri khas penampilan mereka. Jika diberikan jawaban yang membuat mereka merasa yakin, sebagian dari mereka akan, ada yang cepat dan lebih banyak yang lambat berubah menjadi kelompok Sang Juara. Tapi disisi lain mungkin saja mereka tidak bergeming bahkan mereka bisa pula bergeser dan pindah ke kelompok yang anti perubahan. Mereka sering sekali ragu dalam memilih, enggan meninggalkan kebiasaan lama (current comfort zone) akibat ketidakmampuannya melihat kebiasaan baru yang lebih baik — bimbang terus.

c. Penghalang Perubahan, The Inhibitor. Mereka ini biasanya sudah merasa nyaman dan mapan baik dari perspektif usia, pangkat, jabatan, keluarga dan harta. Perubahan sering dipandang akan membuat suasana lebih sulit (kompleks, pusing, semua musti cepat, tegang etc). Kalimat yang sering keluar dari mulutnya atau melalui bahasa tubuh adalah “Saya nyaman dengan kondisi sekarang, mengapa musti susah-susah ikut berubah?”. Mereka seringkali terperangkap dalam situasi tidak mau berbagi, tidak percaya dan enggan memberi. Memberi dipandang akan mengurangi miliknya. Kental sekali dalam perilaku “Bahasa Jawa: Wek-ku wek-ku, wek-mu wek-ku”, “Bahasa Sunda: Nu aing, nu aing, nu maneh nu aing”, “Bahasa Minang: nyo ambo, nyo ambo, nyo sinan, nyo ambo”. Secara fisik sering tampil berpangku tangan dengan raut muka menutup diri, curiga dan memandang dengan raut muka sinis. Tebar gosip dan rumor adalah kesukaan mereka.

d. Anti perubahan, The Predator. Mereka ini betul-betul merasa sudah merasa mapan. Atau, sudah menghitung hari untuk pergi. Anti betul mereka terhadap perubahan. Dalam segala cara yang mereka bisa lakukan, mereka akan menghadang dan menentang setiap upaya merubah kondisi, kebiasaan dll. Surat kaleng, teror dan sabotase adalah senjata pamungkas (arsenal) mereka.

Agar perubahan yang digulirkan sukses maka penting sekali mengenali kelompok-kelompok ini karena perlakuan yang diberikan musti berbeda. Tidak ada perlakuan generik.

Jabat erat,
KK

Trust and sharing are the key success factor in making the change successful

Pertanyaan saya kepada beliau dan jawaban beliau:

  1. Arry Akhmad Arman,
    — 22 Februari 2009 jam 6:40 am
    Apa kabar pak KK? Cukup lama tidak berjumpa.

    Tulisannya sangat menarik, apalagi kalau dikaitkan dalam konteks “kampus kita”.
    Ada beberapa pertanyaan yang saya ingin dengar jawabannya dari bapak,
    karena perubahan di kampus kita dimulai oleh bapak, lalu ditinggalkan (terpaksa, ha3x).

    1. Apa kriteria sukses perubahan? (semua orang masuk dalam kelompok pertama?)
    2. Berapa lama durasi waktu yang acceptable bahwa perubahan dianggap sukses? Dugaan saya, tidak bisa terlalu cepat dan tidak bisa dibiarkan terlalu lama, apa betul?
    3. Bagaimana mekanisme kontrol untuk melihat bahwa perubahan berjalan sukses atau tidak.
    4. Kalau tidak sukses, kemungkinan kesalahannya dimana? (untuk kasus perguruan tinggi di Indonesia secara umum).

    Masih banyak yang saya ingin tanyakan soal perubahan ini, tapi sementara itu dulu saja.

    Salam hangat dari Bandung Utara.
    Arry Akhmad Arman

    Mas AAA,
    Terima kasih banyak.
    1,3&4. Sebelum melakukan perubahan tentu telah terlebih dahulu ditetapkan apa cita yang ingin digapai melalui perubahan serta apa ukuran keberhasilannya, bagaimana mengukurnya dan apa instrumen ukurnya. Jika cita cocok dengan realita, itu namanya sukses. Apalagi jika realita lebih hebat dari cita, sukses besar dan adakan pesta syukuran sebagai terima kasih pada semua pihak yang ikut dalam perubahan itu. Jika realita jauh dari cita, duduk bareng, lakukan analisis dan petik pelajaran. Jangan pernah cari kambing hitam. NB. Karena kambing hitam sudah habis disembelih saat iedul qurban dan dijadikan tumbal, heureuy euy, hampura !
    2. Tak ada ukuran generik tentang durasi untuk menggapai cita sebuah perubahan. Ada yang instan, misal berubah dari berkumis menjadi kelimis. Ada yang tahunan bahkan butuh dekade, misal membuat layanan pajak on-line, real-time & self service.

    Baktos ti abdi,
    KK

Iklan

Selamat jalan Pak Farid …

Hampir 2 minggu yang lalu, seorang guru dan sahabat saya telah meninggalkan kita untuk selamanya, yaitu Pak Farid Wazdi. Beliau adalah salah satu putra terbaik ITB. Beritanya cukup mengejutkan, karena usia beliau yang masih relatif muda. Cerita selengkapnya mengenai beliau sudah banyak ditulis oleh rekan Rinaldi Munir dalam blognya.

Saya hanya ingin share sebagian kesan dan kenangan saya bersama beliau. Pertama kali saya mengenal beliau adalah sebagai dosen saya, ketika saya masih kuliah dan menjadi angkatan pertama sub-jurusan Teknik Komputer di Jurusan Teknik Elektro ITB. Beliau adalah salah satu dosen yang pernah mengajar kami, karena beberapa mata kuliah waktu itu disampaikan oleh dosen-dosen dari Jurusan Informatika, termasuk Pak Farid. Beliau mengajar compiler. Pengetahuan tersebut sangat berbekas pada diri saya sampai akhirnya menjadi bagian dari pengetahuan saya untuk mengembangkan aplikasi Translator Bahasa Alami. Semoga menjadi bagian dari amal jariah untuk beliau.

Sebelum Elektro dan Informatika bergabung dalam STEI, saya pernah dekat dengan beliau karena pernah melakukan perjalanan jauh bersama-sama ke San Francisco dalam rangka suatu pekerjaan (2001). Disana kami mengadakan pertemuan dengan masyarakat Indonesia yang berhubungan dengan IT, mulai dari mahasiswa, pekerja, bahkan pebisnis di bidang IT. Kami juga sempat meluangkan waktu ke Universal Studio bersama-sama menggunakan bis malam (maklum dana sangat terbatas, tapi ingin kesana). Dari San Francisco kami menuju LA, lalu Universal Studio semalaman, bermalam di perjalanan. Pagi tiba disana dan berkeliling sampai sore, lalu malam berikutnya kami tidur kembali di perjalanan balik ke San Francisco.

Oh ya, satu hal yang masih saya ingat betul, sebelum ke SF, kami mampir ke Kuala Lumpur dan sempat main ke Malaka menggunakan mobil. Kami ditangkap di jalan Tol Malaysia karena melebihi batas kecepatan. Saat itu, beliau yang nyetir mobil, karena saya tidak mempunyai SIM Internasional. Sebetulnya kami berdua tidak punya SIM Internasional, tapi beliau didompetnya masih menyimpan SIM Perancis sewaktu sekolah di Perancis dulu. Karena SIM tersebut menggunakan bahasa Perancis, di tempat sewa mobil kami meyakinkan bahwa SIM tersebut adalah SIM Internasional.

Di luar kebersamaan itu, saya juga pernah sering bersama-sama dalam perjalanan Bandung-Cikarang pp, ketika kami sama-sama mengajar di S2 TI di Lippo-Cikarang, sekitar tahun 2001-2002. Dari kebersamaan-kebersamaan itulah saya mengenal beliau lebih dekat. Beliau adalah pribadi yang sangat menyenangkan, mudah bergaul walaupun dengan rekan yang usianya berbeda jauh (dengan saya), terbuka, dan banyak pemikiran-pemikiran positif yang ada di dalam kepala beliau.

Selamat jalan Pak Farid! Saya doakan semoga pintu ampunan dari Yang Maha Kuasa dibuka selabar-lebarnya untuk Bapak dan mendapat tempat yang indah di alam sana.

farid01

Saya berfoto bersama Pak Farid di Rumah kediaman Konjen RI di San Francisco. Di latar belakang adalah kota SF dan Jembatan Golden Gate (diselimuti kabut)

farid02

Pak Farid di kampus Stanford

farid03

Pak Farid dan Pak Armein Langi di tengah-tengah Jembatan Golden Gate

farid04

Pak Farid sedang menyentuh kabel baja Golden Gate, di bagin tengah Jembatan Golden Gate

farid05

Saya, Pak Farid dan Pak Armin Langi beristirahat setelah jalan kaki menyusur Jembatan Golden Gate

farid06

Pak Farid bergaya bersama Marilyn Monroe (gadungan) di Universal Studio, LA

farid07

Pak Farid sedang bergaya di Universal Studio, LA

Untuk keluarga beliau, jika memerlukan foto-foto kenangan ini, silakan kontak saya (email: arman@kupalima.com), saya masih menyimpannya dengan lengkap.