Indosat IM2: Hebat dan juga parah!

Dulu saya pemakai Speedy. Awalnya bagus, lama-lama kualitas makin parah! Kecepatan yang dijanjikan jauh dari terpenuhi. Sering mati, dan sekali mati lama sekali memulihkannya. Untunglah, pada saat puncak kesal-kesalnya dengan SPEEDY (baca: SLOWLY!), perusahaa TV Cable Megavision menawarkan paket TV Cable + Internet (IM2). Langsung saya sambut! Dengan harga yang sama dengan Speedy Unlimited, saya dapat 60 saluran TV + Internet secepat kecepatan maksimum SPEEDY (384kbps). Saya selalu mendapatkan kecepatan maksimum yang dijanjikan. Menariknya, setelah sekian bulan berlangganan, saya mendapat pemberitahuan bahwa saya bisa menikmati bandwidth 1 Mbps dengan harga yang sama. Wow, indikator download saya selalu memperlihatkan kisaran 120 kBps (kira-kira 1 Mbps). Triler-triler film format HD yang berkapasitas 100MB sd 200MB dengan mudah saya download. Mantap! Saya puas sekali!

Nah, satu lagi…..

Untuk memenuhi kebutuhan akses Internet di luar rumah, apalagi di luar kota, saya juga berlangganan Indosat Broadband 3G. Celakanya yang satu ini kualitasnya parah sekali dan dari waktu ke waktu makin parah saja.

So, kesimpulannya Indosat Hebat dan Parah!

Jalan Umum di-klaim sebagai tempat parkir restoran!!

Setelah shalat Jumat, saya bertemu dengan sejumlah mahasiswa yang ingin bimbingan. He3x, ternyata lumayan banyak, sehingga saya terlambat ke acara pidato ilmiah Prof. Suhono Harso Supangkat di Balai Pertemuan Ilmian (BPI) ITB di pojok jalan Dipati Ukur – Surapati dan Dago. Ternyata, parkirnya penuh luar biasa, sehingga saya harus berkeliling dan akhirnya mendapatkan tempat parkir di pinggir jalan yang lumayan jauh di samping restoran BGana (dekat Victoria) di jalan Dipati Ukur. Ketika saya keluar dari mobil, seorang bapak berbadan besar dengan pakaian safari abu-abu menghampiri saya dan terjadi dialog kira-kira seperti ini:

Maaf, bapak mau ke restoran?

Oh tidak, saya mau ke BPI.

Maaf, pak, dengan hormat, mohon bapak tidak parkir disini karena ini khusus untuk pengunjung restoran.

Lho, saya kan parkir di jalan umum?

Benar pak, tapi dengan hormat, mohon bapak tidak parkir disini karena ini untuk pengunjung restoran kami.

Nada sangat sopan yang keluar dari kata pertama sudah mulai jadi lebih ngotot dan penuh tekanan. Saya tidak mau mengalah karena menurut saya dia tidak punya hak melarang saya. Akhirnya saya jawab:

Maaf pak, dengan hormat saya ingin parkir disini karena ini jalan umum.

Akhirnya dia dengan wajah gemas dan nada sangat tinggi (bagi saya nada tersebut bisa saya katakan sudah seperti ancaman) menjawab sambil berlalu:

Ya, kalau bapak ngotot silakan saja, tapi sebaiknya bapak tidak parkir disitu.

Gila! Rupanya jalan umum di Bandung sudah mulai dikapling-kapling sebagai lahan parkir restoran atau toko. Melihat ngototnya dan percaya dirinya si bapak tadi saya mempunyai dugaan bahwa ada pihak tertentu yang “melegalkan” untuk mengklaim jalan umum tersebut sebagai lahan parkir restorannya. Persis di seberang restoran tersebut adalah restoran Victoria. Sama parahnya, semua trotoar di sekitarnya dijadikan lahan parkir, bahkan ditulisi “Parkir khusus Victoria”. Kalau tidak ada kerjasama dengan oknum berwenang, tentunya Pemkot dengan mudah bisa menertibkan hal tersebut.

Jadi jangan heran kalau Bandung mendapat predikat salah satu kota terkorup di Indonesia.

Sementara, hanya bisa berdoa, semoga mereka-mereka yang merusak kota ini segera bertobat atau segera ditangkap KPK!

Bandung kota ter-korup ke-8

Kamis, 26/02/2009 18:33 WIB

Dada Absen Saat Presentasi Bandung Terkorup ke-8

Tya Eka Yulianti – detikBandung Bandung –

Presentasi hasil survei pengukuran korupsi yang dilakukan Transparancy International (TI) Indonesia di Hotel Savoy Homann tak dihadiri oleh Wali Kota Bandung Dada Rosada. Adapun hasil survei tersebut menyatakan bahwa dari 50 kota yang disurvei, Bandung menempati rangking ke-8 sebagai kota dengan Indeks Prediksi Korupsi (IPK) terrendah. Ketidakhadiran Dada kali ini adalah kali kedua Dada tak ikut presentasi survei mengenai Bandung. Sebelumnya Dada juga absen hadir dalam presentasi atau sosialisasi survei KPK di Gedung Sate belum lama ini. Survei KPK pun menyatakan bahwa Kota Bandung berada di urutan pertama sebagai kota dengan pelayanan publik terburuk.

Sukarno, Kepala Inspektorat Pemkot Bandung menyatakan bahwa ketidakhadiran wali kota bukan disebabkan karena hasil survei yang memojokkan Pemkot Bandung, namun dikarenakan wali kota memiliki agenda lain yang harus dihadiri. “Pak Dada ada kegiatan lain, yang penting kan ada yang mewakili,” ujar Sukarno. Namun ketika ditanyakan lebih lanjut acara apa yang dihadiri Dada sehingga tidak menghadiri acara ini, Sukarno mengatakan bahwa dirinya tidak tahu kemana agenda Dada. “Masa saya harus tanya-tanya sama beliau, kan dia atasan saya,” kata Sukarno.

Sukarno juga mengatakan bahwa Dada tidak menitipkan pesan atau instruksi apapun kepada Sukarno untuk acara ini. “Pak Dada kan sudah meanggapi di media massa dan akan berupaya memperbaiki,” kata Sukarno. Justru Sukarno mengomentari IPK Bandung sebesar 3,67 lebih baik dengan IPK Indonesia secara Internasional atau dibandingkan dengan negara lain yang baru mencapai 2,6. “Lebih bagus 3,67 kan dibanding 2,6,” canda Sukarno.(tya/ern)

Sumber: http://bandung.detik.com/read/2009/02/26/183344/1091224/486/dada-absen-saat-presentasi-bandung-terkorup-ke-8