Nasib Pejalan Kaki yang Sebenarnya di Bandung

Di tengah berbagai pujian terhadap Car Free Day setiap minggu pagi di jalan Dago kota Bandung yang seolah-olah memberikan kenyamanan bagi para penikmat jalan kaki, sebenarnya banyak realita sebaliknya yang terjadi di kota Bandung. Perhatikan dua foto berikut.

Pejalan Kaki dan Galian di Kota Bandung

Pejalan Kaki dan Galian di Kota Bandung

Penggalian di Kota Bandung biasanya dilakukan “seenaknya” tanpa memperhitungkan atau meminimisasi dampak berkurangnya kenyamanan dan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Foto ini memperlihatkan contoh tersebut. Pejalan kaki harus meniti pinggirian selokan yang sangat tipis… Bayangkan kalau ibu-ibu yang sudah tua atau anak seorang ibu membawa anak kecil, apa yang harus dilakukan ??? Sementara itu, kalau memilih berjalan di badan jalan, “siap-siap diserempet motor atau angkot”.

Motor siap menyerempet kita andai kita berjalan di badan jalan

Motor siap menyerempet kita andai kita berjalan di badan jalan

Sebenarnya ini hanya contoh kecil saja…. Penyebabnya dalam hal ini adalah penggalian yang sifatnya sementara……….  Banyak hal seperti ini yang sifatnya permanen, karena trotoar diijinkan untuk digunakan sebagai parkir permanen untuk tempat usaha……….

Bagaimana menurut anda??

Bekas SPBU Taman Pramuka mau diapakan?

Bekas SPBU Taman Pramuka

Lahan ini letaknya di Jl. Riau, depan Taman Pramuka Bandung. Dulu disini ada SPBU. Setelah kontraknya habis, tampaknya mau dialihfungsikan (menjadi taman kota?). Saya perhatikan sudah cukup lama kondisinya terbengkalai seperti ini. Jika belum siap atau belum ada anggaran, mungkin bisa dilakukan perawatan sederhana, seperti membuang barangkal yang ada disana dan dilakukan pemotongan rumput-rumput yang sudah sangat tinggi disana.

Garis-Garis Marka Jalan Semakin Tak Bermakna

Garis-garis marka jalan di kota Bandung sudah sangat diabaikan oleh para pengendara kendaraan bermotor, khususnya angkot dan pengedara sepeda motor. Perhatikan dua foto berikut. Pada foto pertama, angkot keluar dari batas garis yang seharusnya, sehingga lebih menonjol ke depan, juga menghalangi yang akan belok kiri langsung. Mobil pribadi yang di depan pun, setengah badannya sudah melanggar garis.

Pada foto di bawah ini, pengendara sepeda motor yang ingin START nomor satu pada saat lampu berubah jadi hijau berusaha memposisikan diri paling depan dan tidak menghiraukan lagi bahwa dia berada di atas zebra cross. Memang, ada kelemahan juga dari sisi pemeliharaan tanda-tanda tersebut. Di banyak tempat, tanda-tanda tersebut sudah hampir tak terlihat garisnya.

Bagaimana bis atau angkot bisa berhenti???

halte_gelael.jpg


Ini adalah salah satu tempat berhenti bis/angkot di jalan Dago (salah satu jalan utama di Bandung). Lihatlah suasananya seperti apa? Taksi, parkir mobil pribadi, motor, kios pulsa….. Tidak mungkin polisi tidak melihat! Walikota sadar engga ya? Wah, saya tidak bisa berkomentar lagi deh! Bagaimana menurut anda?

Belakang Dago sudah tidak senyaman dulu …

Dulu, punya rumah atau kantor di belakang jalan Dago (sekitar Boromeus, Raden Patah, dll) adalah mimpi semua orang. Teduh, tenang, tapi sangat dekat akses ke jalan utama, dalam hal ini jalan Dago. Sekarang? Wah, entah dosa siapa? Yang pasti salah satu suasananya adalah seperti foto yang terlihat di bawah ini.

belakang-dago.jpg

Sungguh ajaib Bandung ini. Tidak ada lagi kejelasan, mana daerah pemukiman, mana daerah usaha, dan sebagainya. Semua tempat boleh untuk apa saja!

Untuk apa sebenarnya penghalang itu?

ganesha-boromeus.jpg

Foto ini saya ambil di persimpangan Dago-Ganesha, depan gerbang keluar RS. Boromeus. Saya tidak mengerti, apa sebetulnya maksudnya penghalang yang disimpan di tengah jalan itu? Yang pasti malah menganggu kelancaran kendaraan. Jika ada maksud dilarang belok kiri atau kanan dari arah tertentu, mengapa tidak menggunakan rambu yang biasa saja yang sudah baku? Pada prakteknya dari arah manapun (apalagi dengan bantuan Pak Ogah), semua kendaraan bisa menuju ke manapun.