Dua dari Tiga Calgub Menolak Kontrak Politik!

Menarik dan saya suka dengan pandangan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) se Jawa Barat meminta kontrak politik dari para calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat, dan ternyata hanya satu pasangan calon yang menyanggupinya. Saya kutip saja sebagian beritanya yang dimuat di Harian Kompas, juga di Kompas-Online.

Sebagai kelompok idealis, mahasiswa memiliki strategi khas memperkuat posisi mereka di kancah pilkada. Dalam dialog publik yang digelar di Kampus Unpad akhir Februari lalu, BEM se-Jabar merumuskan delapan program prioritas di Jabar, antara lain realisasikan pendidikan dasar gratis, pemerintahan yang bersih, dan pemberantasan pungutan liar.

Mahasiswa meminta delapan program prioritas itu ditandatangani ketiga pasang calon kepala daerah Jabar sebagai kontrak politik. Jika kemudian hari tidak ditepati, calon terpilih itu harus mengundurkan diri secara sukarela.

Dari ketiganya, hanya pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf yang bersedia menandatanganinya. Sebaliknya, pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulanjana dan Agum Gumelar- Nu’man Abdul Hakim menolak dengan alasan kontrak itu sebagai bentuk penekanan (pemaksaan).

Namun, mahasiswa berpandangan lain. ”Kontrak politik sengaja kami ajukan agar mereka tak hanya mengumbar janji kampanye dan lalu dilupakan begitu saja saat menjabat. Kalau serius, mereka seharusnya tidak perlu takut,” kata Presiden BEM Unpad Reza Fathurrahman.

Mahasiswa menyepakati hanya akan memilih calon yang punya komitmen kuat terhadap janji. ”Inilah yang terpenting. Jika tidak, ya kami tak akan (memilih),” ujar Reza.

Salut! Saya menyatakan setuju dengan pendapat mahasiswa tersebut!
Bagaimana menurut anda?

Referensi terkait:

  1. Kampus Inginkan Kontrak Politik, Kompas, 30 Maret 2008

Pemerintah Ikut Bertanggungjawab …

Tadinya saya tidak akan menyambung posting saya sebelumnya yang berjudul: ‘Kampanye Cerdik: Menyulap Aib Menjadi Simpati‘, tetapi karena pagi ini tidak sengaja membaca satu berita di detik.com yang berjudul: ‘Ginanjar Kartasasmita: Pemerintah Ikut Bertanggungjawab‘, jadi ingin mengkaitkan dengan posting yang pernah saya sampaikan sebelumnya. Bukan ingin puas untuk menekan satu pihak tertentu, tetapi hanya ingin memperlihatkan bahwa saya bukan satu-satunya yang melihat itu sebagai kesalahan pemerintah, apalagi yang berbendapat adalah seorang tokoh Jawa Barat juga. Saya juga berharap dengan mengangkat kembali topik ini akan berkontribusi untuk memperkuat semangat perbaikan agar hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi.

Berita yang disampaikan oleh detik.com, Minggu, 30 Maret 2008 (posting saya dalam blog ini sehari lebih awal…, he-he-he, hanya mau memperlihatkan bahwa posting pertama saya bukan karena ada pemberitaan tersebut) adalah sebagai berikut:

… disampaikan Ketua Dewan Pangaping Paguyuban Pasundan, Ginanjar Kartasasmita. “Yang harus bertanggung jawab dalam peristiwa ini adalah pihak yang merencanakan, pelaksana dan pengawas,” ungkap Ginanjar seusai kunjungannya terhadap dua korban di Rumah Sakit Rajawali, Jl Rajawali, Minggu (30/3/2008). Menurut Ginanjar, pembangunan sekolah harus sesuai dengan aturan yang ada. Bangunan-bangunan sekolah yang ada seharusnya mendapat pengawasan dari dinas terkait. Tanggung jawab membangun sekolah tidak hanya berada di tangan guru-guru atau pihak sekolah tetapi juga dari pemerintah. Dalam hal ini yaitu Dinas Bangunan, Dinas Pendidikan dan dinas-dinas terkait lainnya yang harus melakukan pengawasan. …

Berita lain yang berjudul: ‘Kelas Ambruk, Diduga Ada Korupsi‘ , dalam Pikiran Rakyat Cetak halaman 2, terbitan Minggu, 30 Maret 2008 menyatakan:

Kasus ambruknya ruang kelas SMP Pasundan 9 yang menimpa murid-murid SD Pasundan 3, diduga karena unsur kelalaian dan tidak pidana korupsi ….

Saya kira ada dua hal yang menarik yang bisa kita petik dari kejadian dan pemberitaan tersebut. Pemerintah, pemerintah harus melakukan langkah-langkah serius untuk pengawasan pembangunan, khususnya di sektor pendidikan. Terlalu banyak contoh nyata sekolah-sekolah yang hancur karena kualitas bangunan yang sangat rendah. Kedua, sepantasnya pemerintah minta ma’af atas kejadian tersebut, bukannya menjadikan momentum untuk menarik simpati pada kampanye.

.

Referensi terkait:

  1. Ginanjar Kartasasmita: Pemerintah Ikut Bertanggungjawab, http://www.detikbandung.com, 30 Maret 2008
  2. Korupsi Penyebab Robohnya Sekolah, ICW.
  3. Kelas Ambruk, Diduga ada Korupsi, Pikiran Rakyat Cetak, 30 Maret 2008

Kampanye Cerdik: Menyulap Aib Jadi Simpati

Dalam rangka kampanye, salah satu kandidat, ada yang meninjau gedung SD yang baru-baru ini ambruk dan menyatakan bahwa akan membantu rehabilitasi pembangunannya. Saya tidak habis pikir….!!! Buat saya itu tidak masuk akal!

Rubuhnya bangunan SD tersebut secara tidak langsung adalah tanggungjawab gubernur yang sekarang statusnya masih menjabat karena lemahnya pengawasan kondisi bangunan dan pembangunan sekolah di Jawa Barat.

Bagi calon tertentu, itu adalah aib yang mungkin harus ditutupi dari ekspos yang berlebihan! Dari kacamata lain, itu adalah musibah yang sepantasnya memang dibantu penanganannya oleh seorang Gubernur (bukan oleh Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur beserta rombongannya yang sedang kampanye!)

Faktanya, itu malah bisa dijadikan objek kampanye untuk menarik simpati masyarakat calon pemilih. Luar biasa!

Panggung Kampanye atau Panggung Hiburan?

Baca PR online pagi ini tentang kampanye hari pertama dari semua kandidat Gubernur Jawa Barat membuat hati saya makin prihatin. Saya coba baca pemberitaan dari semua kandidat, supaya tidak berat sebelah. Kesimpulan umumnya adalah sebagai berikut.

Semua kandidat menggunakan artis untuk memikat pengunjung. Harusnya mereka MIKIR! Berarti orang-orang yang datang kesana kemungkinan bukan simpatisan mereka, tapi penggemar artis tersebut. Berbahagialah para artis, anda lebih populer dari pada para kandidat! Para kandidat kurang PE-DE tanpa bantuan anda!

Sebagian kandidat sudah mulai memunculkan ukuran-ukuran keberhasilan, tapi “how to go there” nya belum tampak pada semua kandidat.

Inikah Contoh Kampanye yang Santun?

Tadi sore, ketika perjalanan dari Homman ke arah Dago, saya sempat memotret salah satu poster kampanye. Lalu setelah sampai rumah, saya membaca berita koran PR dengan judul ‘Kandidat Janjikan Kampanye Santun‘. He-he, jadi bertanya-tanya nih, apa yang dimaksud kampanye santun?

kampanye_tak_santun.jpg

Apakah menempel poster seenaknya seperti ini dan mengakibatkan kota semakin kotor termasuk kampanye santun? Menurut saya sih ini perbuatan yang kurang (baca: tidak) santun!

Bagaimana menurut anda?

Ini dia Visi dan Misi Calon Gubernur Jawa Barat! Ayo, Pilih Mana?

Saya mendapat kiriman CV tiap calon, jadual kampanye dan Visi-Misi Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat dari Media Center KPU Jawa Barat, serta permohonan bantuan untuk men-sosialisasi-kannya melalui BLOG. Saya hanya copy-paste-kan visi misi yang memang dokumennya masih sulit ditemukan sampai detik ini. Visi Misi semua calon saya simpan di bawah, setelah komentar saya. Untuk menjaga netralitas dan kecurigaan bahwa ada udang di balik batu, saya tidak berani mengomentari visi-misi setiap calon. Tapi saya ingin mengingatkan pembaca tentang posting saya sebelumnya (Apa sebenarnya Visi, Misi, dan Program Kerja). Nah, berdasarkan itu, saya ingin memberikan clue kepada pembaca, bagaimana cara menilai Visi-Misi ini. Mudah-mudahan sharing ini bermanfaat untuk menentukan pilihan terbaik untuk kemajuan Jawa Barat di masa yang akan datang.

Visi adalah sesuatu yang sifatnya jangka panjang dan strategis

Misi adalah target-target jangka pendek (segera), cenderung operasional, realistis dan jelas sasarannya.

Idealnya, visi dan misi adalah sesuatu yang bisa diukur, dan jelas satuan ukurnya, jelas nilai ukurnya, dan tentunya tidak menggunakan bahasa-bahasa yang terlalu abstrak atau ngawang-ngawang. Paling tidak, misi harus bersifat demikian. Misalnya ‘mengurangi jumlah pengangguran (minimal 5% per tahun)’, ‘meningkatkan income per capita masyarakat Jawa Barat (10% per tahun)’.

Setiap misi, ditunjang oleh langkah-langkah (program kerja yang jelas, sistematis dan yang paling penting adalah realistis) yang secara logis memperlihatkan bagaimana urutan langkah untuk mencapai setiap misi yang ditetapkan dan secara tidak langsung mendukung pencapaian visi yang ingin dicapai.

Sayang sekali, kiriman dokumen yang saya terima tidak dilengkapi dengan program kerjanya.

Itu saja dulu ah, nanti jadi seperti memberikan kuliah …. Lebih parah lagi kalau ada yang marah: ‘Ini tukang ngoprek Teknologi Bahasa, sok tahu, menilai visi-misi calon pemimpin Jawa Barat……
Ha-ha-ha, inilah indahnya BLOG, selama ada argumen-nya, indentitasnya jelas, setiap orang bebas berpendapat (tapi tetap bertanggungjawab dengan pendapatnya).

.
Nomor Urut 1
PASANGAN DHANI – IWAN

VISI
“Penguatan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan keunggulan Jawa Barat, guna mewujudkan visi Jawa Barat sebagai Provinsi Termaju”

MISI

  1. Memantapkan upaya peningkatan kesejahteraan khususnya dibidang pendidikan, kesehatan dan peningkatan daya beli yang bermuara pada pengurangan kemiskinan.
  2. Mengembangkan keunggulan Jawa Barat.
  3. Memelihara kondisi sosial politik dan kamtibmas yang kondusif.
  4. Melaksanakan prinsip pembangunan berkelanjutan yang selaras dan seimbang.
  5. Meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas pelayanan pemerintah daerah.
  6. Memperkuat modal sosial dan kebanggaan sebagai warga Jawa Barat.

Nomor Urut 2
PASANGAN AGUM – NU’MAN

VISI
“Mewujudkan Jawa Barat Bersatu Untuk Ke Satu”

MISI

  1. Menjadikan manusia Jawa Barat yang ber-sumberdaya dan ber-daya saing.
  2. Melestarikan lingkungan dan menjaga keserasian tata ruang.
  3. Meningkatkan nilai tambah sumberdaya lokal dan menghidupkan pusat-pusat kegiatan ekonomi masyarakat secara merata.
  4. Mempercepat pembangunan infrastruktur strategis.
  5. Meningkatkan kinerja birokrasi dan pemberantasan KKN.
  6. Mengedepankan nilai-nilai agama dan budaya daerah dalam aktifitas pembangunan.

Nomor Urut 3
PASANGAN AHMAD – DEDE YUSUF

VISI
“Terwujudnya masyarakat Jawa Barat mandiri, dinamis, dan sejahtera”

MISI

  1. Memecah stagnansi pembangunan dengan mengakselerasi secara cerdas pencapaian kesejahteraan masyarakat di bidang daya beli, kualitas pendidikan, dan kualitas kesehatan.
  2. Memfokuskan pada pembangunan nyata perekonomian masyarakat berbasis argoindustri dan bahari yang berwawasan lingkungan.
  3. Melancarkan reformasi sunguh-sungguh atas kebekuan birokrasi menuju aparatur yang bersih, berorientasi kepada pelayanan publik serta penggunaan anggaran yang pro publik.
  4. Menumbuhkan investasi dalam negeri yang mampu secara langsung mengangkat perekonomian dan kesejahteraan rakyat.
  5. Memperkuat pemberdayaan perempuan dalam pembangunan sosial politik dan perlindungan terhadap anak.
  6. Menyuguhkan kehidupan beragama yang rukun, toleran, dan penuh kesejukan.
  7. Memelihara dan mengembangkan budaya dan kearifan lokal.
  8. Mengokohkan kualitas demokrasi dengan edukasi politik dan menyetarakan partisipasi masyarakat dalam pembangunan politik.

Nah, bagaimana sekarang? Bisa lebih menentukan pilihan? atau tambah bingung? atau punya pikiran Golput? Jangan ah!

Dimana Dokumen Visi-Misi-Program Calgub Jabar Bisa Kita Lihat?

Saya coba eksplor website KPU Jawa Barat untuk mencari Visi-Misi-Program para calon Gubernur Jawa Barat, ternyata tidak saya temukan. Kalau ternyata ada dan luput dari pengamatan saya, mohon ada yang bisa bantu menunjukkannya. Bagaimana warga Jawa Barat bisa menentukan pilihan, kalau visi misinya saja sampai sekarang belum bisa kita baca?

Akhirnya saya coba search di Google, dan menemukan berita yang menarik untuk kita simak dari Harian Pikiran Rakyat. Saya kutip sebagian dari artikel menarik tersebut:

Demikian diungkapkan Guru Besar Antropologi Unpad, Prof. Kusnaka Adimihardja, Ph.D., ditemui di kantornya Jln. Cigadung Raya Tengah, Bandung, Kamis (6/3). “Setelah membaca visi, misi dan program ketiga kandidat yang telah diserahkan ke KPU Jabar, saya pikir ini terlalu sederhana untuk Jabar yang kompleks dengan masalah. Ketiganya tidak mampu memberikan gambaran apa pun mengenai langkah yang akan dilakukan birokrat Jabar 1 dan Jabar 2 ke depan,” ucapnya.

Menurut dia, isi dari visi misi ketiga kandidat relatif sama, hanya kemasannya yang berbeda. Ketiganya, hanya mampu menjabarkan permasalahan yang memang telah terjadi di Jabar selama 30 tahun terakhir.

Langkah strategi revolusioner apa yang akan mereka terapkan untuk melakukan perubahan, saya tak lihat itu dalam penjabaran visi misi mereka. Visi misi ini terlalu standar untuk cagub/cawagub. Terima atau tidak, saya katakan visi misi ini menunjukkan ketidaksiapan kandidat dalam memahami masalah inti di Jabar,” ungkap Kusnaka lagi.

Nah lho! Kalau sudah begini, apa mendingan Golput saja? Ngapain menghabiskan waktu ke tempat pemilihan untuk memilih calon-calon yang visi-misi nya meragukan? Walaupun pada posting sebelumnya saya coba menggunakan common sense dan logika untuk menentukan pilihan, tapi sekarang jadi ragu.

Bagaimana menurut anda?