BlueRay, Tidak Akan Digunakan Secara Luas Seperti DVD ???

Ketika cakram untuk film definisi tinggi keluar, semua orang memimpikannya. Diawali dengan pertarungan dua format: HD-DVD dan BluRay. Adanya dua format tersebut membuat sebagian penggemar film bersikap  “wait and see”, menunggu siapa yang akan dominan di pasaran, karena investasi playernya cukup mahal. Akhirnya BluRay keluar sebagai pemenang! Tapi, untuk negara berkembang yang daya belinya masih rendah, membeli player bluray masih menyisakan pemikiran “wah, filmnya cari dimana ya?” Akhirnya “wait and see” lagi untuk memiliki player bluray sampai yakin film-film nya bertebaran dengan harga yang terjangkau. Ditambah lagi, resolusi tinggi yang ditawarkan BluRay akan sia-sia jika kita masih nonton di TV konvensional.

Pada saat kondisi wait and see, muncul inovasi produk di pasaran, yaitu player multimedia yang dapat memainkan film-film definisi tinggi. Player tersebut juga bisa dipasangi harddisk internal dan terhubung ke jaringan. Sementara itu, komunitas penggemar film definisi tinggi sudah mulai melakukan sharing film di Internet, sehingga membuat pengguna multimedia player tambah bersemangat. Jika kita mempunyai koneksi 1 Mbps, 1 hari kita bisa download film definisi tinggi yang dishare sebanyak satu film. Nah, akhirnya, para penggemar film yang sudah terlanjur terbiasa nonton film menggunakan player multimedia yang didukung storage beberapa Tera Byte tidak akan tertarik lagi dengan BluRay. meskipun bajakan BluRay murah dan bertebaran.

Mengapa? Alasan utama adalah kepraktisan. Mengelola ratusan film dalam bentuk disc sangat repot dan makan tempat. Sementara itu, menyimpan film di harddisk sangat praktis, mudah dicari, mudah di play, mudah copy + hapus, dan sebagainya. Tinggal ON, pilih koleksi film kita di harddisk, lalu play.

So, menurut dugaan saya, BluRay tidak akan berkembang seperti DVD. Para pengguna TV konvensional akan bertahan terus di DVD, sementara para penikmat film definisi tinggi akan betah dengan multimedia player. Kalaupun ada rental film-film BluRay, penikmat film akan meminjam film favoritnya, lalu mengcopy-nya ke herddisk untuk menambah daftar koleksi film kegemarannya. Brand-brand besar semakin banyak yang turut mengembangkan player jenis ini, seperti: WD (Western Digital, pabrikan harddisk), ASUS, dan sebagainya….

Bagaimana menurut anda???

Kritik Mambangun untuk Halte Kota Bandung

Sepulang menjalankan ibadah haji Desember 2009, saya cukup surprise melihat ada beberapa halte (tempat pemberhentian) transportasi umum di jalan Dago Bandung. Selama ini, halte tersebut hampir tidak ada di kota ini. Saya pikir, luar biasa, selama 40 hari kota Bandung sudah melakukan banyak kemajuan pesat. Bentuknya nampaknya seragam, memperlihatkan ada satu rencana khusus yang direncanakan oleh kota ini. Saya perhatikan, tampaknya hanya halte saja yang dibangun, belum dibarengi dengan program untuk menertibkan angkot dan para penggunanya. Sebagai orang yang baru pulang haji, saya harus menjauhkan buruk sangka; mungkin program “perbaikan perilaku” nya menyusul.

Sekarang sudah hampir bulan April dan saya belum melihat ada hal lain yang dilakukan kecuali membangun halte tersebut. Bahkan beberapa halte sudah tampak sering beralih fungsi; sebagian menjadi tempat mangkal para penjual; sebagian lainnya jadi tempat parkir taksi permanen; sebagian lagi menjadi tempat parkir anak-anak sekolah. Wah…., dari pada memberikan manfaat, malah menambah masalah baru. Ternyata di kota ini memang masih banyak yang senang dengan membuat program-program yang tidak tuntas tampaknya. Seringkali program-program yang tidak tuntas tersebut malah membuat persoalan menjadi semakin kompleks daripada menyelesaikan masalah. Contoh, pedagang sayur di simpang dago pernah dialihkan ke Tubagus Ismail. Sesaat Dao menjadi lebih asri dan lancar, sekarang malah, Dago kembali penuh pedagang, demikian juga di Tubagus Ismail. Jadi, dalam hal ini malah menjadi “program perluasan area kaki lima”.

Halte Transportasi Kota Bandung
Halte Transportasi Kota Bandung

Selain itu, dengan itikad baik, saya ingin memberikan beberapa kritik membangun untuk bentuk Halte Kota Bandung yang baru dibangun:

  1. Seharusnya halte menjadi tempat berlindung dari panas, hujan, bahkan kejahatan. Jika melihat bentuknya, halte kota Bandung kurang memberikan perlindungan tersebut. Sepertinya tidak ada penerangan yang akan membuat menjadi lebih aman di malam hari. Bantuknya yang sangat terbuka tidak melindungi dari hujan, padahal kita tahu, paling tidak di Indonesia setengah tahun akan diguyur hujan terus.
  2. Informasi NAMA HALTE harusnya terbaca dari kejauhan. Pada Halte Kota Bandung, nama halte malah tertulis dengan ukuran kecil, yang besar malah tulisan “BANDUNG BERMARTABAT”.
  3. Informasi tambahan di halte harusnya mudah dibaca. Pada foto tampak ada informasi yang ditulis di dinding belakang. Posisi informasi tersebut sangat tidak menguntungkan karena jika banyak orang disana, maka akan terhalangi. Selain itu, informasi mengenai peta, rute dan sebagainya sebaiknya dibuat fleksibel untuk diganti.
  4. Halte dapat menjadi peluang pendapatan. Di beberapa negara maju, saya perhatikan, halte pada umumnya dimanfaatkan juga iklan, tetapi tetap tidak mengganggu fungsi utamanya. Dari pada membuat jembatan penyebrangan yang jelas tidak diperlukan, saya pikir lebih baik membuat iklan cantik di Halte Transportasi Umum.

Bagaimana menurut anda???

Engineer vs Scientist

Awalnya karena sedang memeriksa naskah tesis mahasiswa S2, sebagian besar banyak yang tidak dapat membedakan antara metoda penelitian untuk social science yang sifatnya lebih banyak “mengamati dan membuktikan hipotesis dari suatu fenomena“, dbandingkan dengan engineering yang lebih banyak “merancang sesuatu“, akhirnya saya browsing kesana-kemari dan mendapat satu bagian menarik sebagai berikut:

  • A scientist sees a phenomenon and ask “why?” and proceed to research the answer to the question
  • An engineer sees a practical problem and wants to know “how” to solve it and “how” to implement that solution, or “how” to do it
    better if a solution exists
  • A scientist builds in order to learn, but an engineer learns in order to build

Sumber: http://www.wabri.org.au/postgrads/documents/RM%20sci_eng_notes/Eng_Leung.pdf

Jalur Sepeda di Bandung akan Direalisasikan! Satu bukti lagi tidak adanya prioritas pembenahan kota …

Baca koran PR hari ini membuat saya gatal ingin menulis. Di satu sisi saya sangat gembira ketika membaca berita “Jalur Sepeda akan direalisasikan, di lain pihak banyak pertanyaan dan kekhawatiran. Berikut adalah kutipan beritanya:

BANDUNG, (PR).-

Tahun ini, Kota Bandung akan membuat jalur khusus sepeda. Tahap lelang sudah dimulai. Pemenangnya akan diumumkan pada akhir April nanti. Pembangunan fisiknya direncanakan mulai minggu pertama Mei.

Menurut Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kota Bandung Iming Akhmad, tahap pertama pembangunan yang sudah dilelangkan diprioritaskan pada empat lokasi. Pertama, pembangunan trotoar jalur sepeda di sisi timur Jalan Ir. H. Juanda (dari Jln. Diponegoro-Simpang Dago). Kedua, sisi barat Jln. Ir. H. Juanda (dari Jln. Sulanjana sampai dengan Ganesha). Ketiga, sisi barat Jln. Ir. H. Juanda (hingga Siliwangi). Serta keempat, pembuatan marka jalur sepeda di Braga – Balai Kota – Gedung Sate. Untuk empat paket pembangunan tersebut, pagu anggaran yang disediakan sebesar Rp 2,3 miliar. Berita selengkapnya disini.

Jalur sepeda adalah ide yang sangat baik. Banyak manfaat yang akan diperoleh dari adanya jalur sepeda, seperti: mengurangi dampak pemanasan global, membuat warga (paling tidak, para pemakai sepeda) menjadi lebih sehat, toko sepeda makin laku (ha3x….). Baik intinya saya sangat setuju dengan ide tersebut. Namun ada beberapa pemikiran yang membuat saya bertanya-tanya.

  1. Kota Bandung sudah lama (dan semakin waktu semakin hebat) mengebiri hak pejalan kaki untuk mendapat lahan untuk berjalan secara nyaman dan aman. Sebagian trotoar juga sangat tidak aman kondisinya untuk para pejalan kaki. (baca: Hak Pejalan Kaki di Bandung diabaikan!) Jangankan aman dan nyaman, saat ini makin banyak trotoar yang beralih fungsi menjadi lahan parkir. Hebatnya, pemilik usaha di tempat lahan parkir tersebut merasa punya hak untuk mengusir pengguna kendaraan yang tidak bertujuan ke tempat usahanya. Luar biasa! Hanya ada dua kemungkinan, pemerintah saking sibuknya tidak sempat mengawasi hal tersebut, atau ada oknum tertentu yang mengijinkan dan melindunginya. Silakan baca tulisan saya yang berjudul “Jalan Umum Di-klaim sebagai Tempat Parkir Restoran“. Jadi, menurut saya, sebelum memberikan fasilitas kepada pengguna sepeda, pulihkan dulu hak para pejalan kaki, karena pejalan kaki lebih banyak dari pengguna sepeda.
  2. Saat ini, kondisi angkot yang sangat tidak tertib dan seringkali berperilaku yang cenderung membahayakan tidak pernah terlihat adanya pembinaan yang serius. Makin hari makin terlihat bahwa Bandung adalah hutan rimba yang seolah tidak ada hukum. Pelanggaran yang dilakukan angkot dan pengendara sepeda motor dengan mudah kita lihat dimana-mana. Apakah kalau ada jalur sepeda sudah dipikirkan keamanannya untuk mereka (pengendara sepeda) ? Bayangkan angkot ngetem di jalan Dago. Kalau ngetem di jalur sepeda, tentunya sepeda harus keluar jalur, yaitu ke tengah jalan, dan tentunya berpotensi untuk celaka. Kalau angkotnya menghormati pengguna sepeda, ngetemnya di tengah jalan. Ha3x…., makin kusut saja jalan-jalan di Bandung …..
  3. Sepeda motor telah menjadi salah satu alternatif murah, praktis dan cepat untuk bepergian di kota Bandung, sehingga banyak warga kota yang beralih ke sepeda motor dari pada menggunakan angkot. Nah sepeda motor pun, di satu sisi telah membuat kota ini semakin semrawut, karena tidak sedikit diantara mereka yang mengabaikan etika dan resiko keselamatan ketika berkendaraan. Bukankah lebih urgent membuat jalur khusus sepeda motor dari pada jalur sepeda ???

Memang sering membingungkan melihat perkembangan kota ini. Entah kemana arah perkembangannya dan tampak tidak ada prioritas dalam pembangunan dan pengelolaan kota. Sepertinya semua ide baru yang mungkin bisa dianggap positif selalu harus dilakukan. Soal, persoalan lama yang harus diselesaikan: “ah biarkan aja…..”

Menurut saya:

  1. Pemerintah kota tidak boleh lupa, pembenahan trotoar, pemulihan trotoar yang sudah dialihfungsikan, harus didahulukan dari pada jalur sepeda….., karena pejalan kaki lebih banyak dari pada pengguna sepeda. Selain itu, ketika trotoar sudah menghilang, pejalan kaki pasti menggunakan jalur khusus sepeda…
  2. Penataan angkot harus dilakukan, karena perilaku yang seenaknya dapat membahayakan pengguna sepeda
  3. Penyediaan jalur khusus sepeda motor perlu dikaji untuk melihat, apakah lebih urgent atau tidak?

Tulisan sebelumnya yang relevan:

  1. Bandung akan punya jalur sepeda (24 Feb 2009)
  2. Bandung, tampaknya tidak ada prioritas pembangunan (1 Maret 2010)

Bandung, tampaknya tidak ada prioritas pembangunan

Sudah sekitar satu tahun saya tidak sempat menulis blog secara rutin. Namun mengikuti situasi bencana di kota Bandung (banjir, macet, dan sebagainya), serta pemberitaan tentang rencana beberapa pembangunan besar di kota tercinta ini membuat saya jadi gatal ingin menulis sesuatu.

Mari kita membayangkan sebuah toko kecil. Toko tersebut selama ini cukup laku, bahkan laku keras untuk ukuran toko tersebut. Namun, selama ini sebenarnya toko tersebut sudah keteteran menghadapi pelanggan dan kenyamanan karyawannya. Karyawan sudah kerja keras maksimal, tetapi merasa tidak nyaman karena suasana semrawut di dalam toko. Tidak ada pembagian kerja yang jelas, tidak ada SOP yang jelas, tidak ada evaluasi kinerja, bahkan sebagian karyawan yang nakal pun tidak terawasi. Sementara, di lain pihak, pelanggan harus pusing cari parkir, berjubel memilih barang, lalu antri untuk membayar, dan berbagai keluhan lainnya.

Celakanya, pengelola toko tidak pernah menyadari bahwa secara internal banyak masalah yang harus dibenahi. Hal yang ada di benak pengelola toko adalah kebanggan bahwa tokonya maju, banyak pelanggannya, dan laba-nya naik terus dari waktu ke waktu. Bagi pengelola, banyaknya pelanggan cukup dijadikan ukuran hebatnya kinerja dia. Mungkin dia tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa karyawannya “menderita”, banyak praktek ketidakjujuran di internal, dan berbagai persoalan lainnya.

Karena merasa sukses, bahkan pengelola tokonya semakin rajin membuat berbagai “program marketing” untuk menarik pelanggan baru, serta mempercantik tampang depan gedung tokonya, padahal gudang sudah berair karena bocor, bagian belakang gedung sudah miring karena terkikis sungai…..

Bagi saya, membayangkan kota Bandung, mirip seperti itu. Pemerintah semakin rajin melakukan berbagai upaya untuk membuat pendatang semakin banyak ke kota Bandung, tapi lupa melakukan penataan infrastruktur (fisik, non-fisik) yang merupakan fondasi utama kota ini. Pemerintah lupa pada kewajibannya terhadap warga kota untuk menyediakan berbagai infrastruktur yang merupakan kebutuhan mendasar sebuah kota, seperti drainase yang cukup kapasitasnya dan selalu terpelihara, transportasi yang nyaman dan terjangkau, dan sebagainya. Tampaknya, yang selalu dipikirkan hanyalah : membangun, membangun, dan membangun……

Jembatan layang di dalam kota, perumahan vertikal, bis kota (metro), bahkan yang paling baru: rencana tol dalam kota. Saya tidak ingin mengatakan bahwa itu semua ide buruk, namun, apa gunanya itu semua dijalankan jika yang paling mendasar tetap dilupakan????  Penataan tata ruang yang tidak jelas telah mengakibatkan sangat tidak jelasnya peruntukan daerah perumahan dan daerah usaha; penataan parkir yang sangat buruk dan seenaknya; penataan transportasi umum yang tidak pernah terlihat ada improvement, pemeliharaan jalan, pemeliharaan saluran air, pengelolaan sampah, dan sebagainya.

Sampai kapankah ini akan berlangsung ????

Menurut saya, berikan prioritas pada penataan kembali infrastruktur kota ini selama beberapa tahun. Setelah itu, mari kita promosikan kota ini dengan sebaik-baiknya, sehingga mendatangkan manfaat dan kenbanggan yang sebesar-besarnya bagi warganya.

Misteri Kinerja Jaringan Untuk Layanan Blackberry

Saya pernah pake layanan 3G/HSDPA dari sebuah operator besar di Indonesia. Pada awalnya, kinerjanya mantap, lambat laun kinerjanya parah dan makin parah. Akhirnya terpaksa saya tutup, karena saya selalu bayar bulanan untuk koneksi yang hampir tidak pernah bisa saya pakai. Saya yakin laptop dan modem yang saya gunakan baik-baik saja, karena device yang sama saya gunakan di awal langganan, kinerjanya luar biasa.

Lalu akhirnya saya hanya mengandalkan kartu matriks yang nomornya memang sudah lama saya pakai sebagai nomor tetap telpon saya. Beberapa kali ganti handset, kinerja komunikasi datanya tidak pernah memuaskan, bahkan bisa dikatakan menyebalkan. Untuk cek email saja setengah mati.

Akhirnya saya mencoba blackberry. Saya gunakan kartu matriks yang sama. Nah anehnya, kinerja akses internetnya jauh lebih mantap….., saya bisa browsing dengan lancar…..

Ada yang tahu, kenapa bisa begitu??? He3x….

“Jumlah Hari Libur” adalah Ukuran Kebahagiaan…

Beberapa hari yang lalu, dalam satu kesempatan makan siang bersama, saya dan kawan-kawan diskusi tentang “kebahagiaan” atau “hapiness”. Apa sebenarnya ukurannya jika kita merasa sudah happy dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Akhirnya, setelah diskusi panjang, semua sepakat bahwa:

ukuran kebahagiaan adalah berapa banyak hari libur dalam seminggu yang bisa dinikmati….
makin banyak tentunya makin bahagia ….

Seseorang yang terlalu sibuk, walaupun uangnya banyak, tetapi hampir tidak punya hari libur, itu tidak bahagia menurut kesepakatan kami ….

Nah, lalu diskusi bergeser, apakah yang dimaksud libur adalah libur kerja? tidak ke kantor?
Sekali lagi, setelah diskusi cukup panjang, akhirnya sepakat dengan definisi kedua tentang definisi libur.

Libur adalah hari dimana kita dapat menentukan apa yang ingin kita lakukan tanpa ada tekanan pihak lain atau keterpaksaan…..

Diam di rumah, tidak ke kantor, tapi masih memikirkan pekerjaan, itu BUKAN libur ….

Hari libur adalah hari dimana secara murni kita bisa tentukan sendiri maunya kita. Mau tidur, ok! Mau mengerjakan sesuatu yang berat, silakan, asal tanpa tekanan dan menyenangkan buat kita…., mau jalan-jalan menenteng kamera, ok! Apapun, yang penting bebas dan membuat kita happy! Bahkan pergi bersama keluarga, jika itu sifatnya menjalankan kewajiban, tidak bisa disebut libur….

So, kembali ke topik diskusi waktu itu, seseorang dikatakan lebih HAPPY dari orang lain, jika dia punya waktu libur lebih banyak dari orang lain, dengan definisi libur seperti yang disebutkan di atas…..

Berapa banyak hari libur anda????
Jangan-jangan tidak ada ya???

Kemiskinan di Kabupaten Bandung Dilihat dari Kacamata UMR

Pak Dimitri, sahabat saya, salah satu dosen di STEI ITB telah melakukan terobosan dalam cara pengajaran dan mata kuliah PROBABILITAS dan STATISTIK. Mata kuliah yang bisasanya membosankan ini telah disulap oleh Pak Dimitri menjadi mata kuliah yang lebih menyenangkan dan applicable. Mahasiswa diberi tugas untuk menerapkan apa yang telah diperroleh di kelas untuk memotret problem nyata di masyarakat.  Selain lebih memahami penerapan Ilmu PROBABILITAS dan STATISTIK, juga melengkapi sisi kepedulian sosial setiap mahasiswa.  Inilah salah satu hasilnya.

Kemiskinan di Kabupaten Bandung Dilihat dari Kacamata UMR

Salah satu program pemerintah adalah mengurangi jumlah angka kemiskinan di Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah dibantu oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menetapkan suatu standard kemiskinan. Akan tetapi, standard garis kemiskinan BPS sebesar Rp 182.636,00 per kapita per bulan tidak sesuai dengan kondisi riil saat ini.

Sebagai contoh, untuk 2 kali makan sehari minimal Rp 6.000,00. Berarti biaya untuk kebutuhan pangan sebesar Rp 180.000,00 per bulan. Itu pun belum termasuk alokasi pendidikan, kesehatan, tampat tinggal dan lain sebagainya. Standard kemiskinan Indonesia lebih rendah dari standard Internasional. Padahal harga barang di Indonesia relatif tidak jauh berbeda dari harga di negara lain. Sebagai contoh harga bensin di Indonesia ternyata hampir sama dengan di Amerika Serikat (US$ 0,5/liter) dan lebih mahal dari beberapa negara lainnya seperti Brunei, Mesir, Iran, dan Turkmenistan. Sangat tidak realistis kriteria pemerintah yang menetapkan penghasilan Rp 182.636 perbulan sebagai penduduk miskin. Penduduk miskin seharusnya adalah penduduk berpenghasilan di bawah Upah Minimum Regional (UMR) karena pemerintah telah memiliki sistem UMR ini sebagai standard untuk bertahan hidup dengan layak.

Mengapa UMR yang dijadikan standard kesejahteraan? Upah Minimum Regional adalah suatu standar minimum yang digunakan oleh para pengusaha atau pelaku industri untuk memberikan upah kepada pegawai, karyawan atau buruh di dalam lingkungan usaha atau kerjanya. Penetapan upah dilaksanakan setiap tahun melalui proses yang panjang. Mula-mula Dewan Pengupahan Daerah (DPD) yang terdiri dari birokrat, akademisi, buruh dan pengusaha mengadakan rapat, membentuk tim survei dan turun ke lapangan mencari tahu harga sejumlah kebutuhan yang dibutuhkan oleh pegawai, karyawan dan buruh. Setelah survei di sejumlah kota dalam propinsi tersebut yang dianggap representatif, diperoleh angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL) – dulu disebut Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Berdasarkan KHL, DPD mengusulkan upah minimum regional (UMR) kepada Gubernur untuk disahkan.

Jadi penggunaan UMR sebagai standard hidup layak cenderung lebih mencerminkan kebutuhan minimum penduduk di lingkungan tempat tinggal. Berdasarkan hal tersebut, mari kita tinjau kembali pencapaian pemerintah dengan menganalisis kemiskinan di Kabupaten Bandung dilihat dari kacamata UMR. Gubernur Jawa Barat menetapkan UMR Kabupaten Bandung sebesar Rp. 895.980,00. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, pendapatan per kapita Kabupaten Bandung Rp 7.605.367,00 per tahun atau sama dengan Rp 633.780,00 per bulan. Secara umum, dengan membandingkan pendapatan per kapita Kabupaten Bandung sebesar Rp 633.780,00, dengan UMR Kabupaten Bandung sebesar Rp. 895.980,00, masyarakat Kabupaten Bandung cenderung belum hidup dengan layak. Hal menarik lain yang didapat berdasarkan hasil survey adalah keterkaitan antara tingkat pendidikan dengan pendapatan masyarakat.

Dari hasil survey yang kami lakukan, di Desa Sariwangi, dengan confidence level 95%, didapat fakta bahwa 83% penduduk desa nanjung memiliki pendidikan maksimum SD – SMP. Sedangkan di Desa Nanjung, dengan confidence level 95% pula, didapat fakta bahwa 74% penduduk Desa Nanjung memiliki pendidikan maksimum antara SD – SMP. Sebanyak 51% warga memiliki penghasilan di bawah UMR dan memiliki pendidikan maksimum SMP dan sekitar 76% dari masyarakat dengan penghasilan di bawah UMR berpendidikan maksimum antara SD –SMP. Fakta yang perlu kita cermati adalah tingkat pendidikan masyarakat di daerah tersebut cenderung rendah dan sebagaian besar dari masyarakat berpendidikan rendah tersebut memiliki pendapatan di bawah UMR.

Hal menarik ini memperkuat anggapan bahwa pendidikan berkaitan erat dengan pendapatan dan taraf kesejahteraan masyarakat. Lalu, mengapa masih banyak masyarakat yang berpendidikan rendah? Dari hasil wawancara dengan penduduk setempat, didapat fakta yang mengejutkan di tengah bergulirnya program pemerintah yang tengah gencar meningkatkan pelayanan pendidikan kepada raktyat. Fakta tersebut adalah biaya pendidikan masih dianggap masih mahal, walaupun setelah alokasi pemerintah untuk bidang pendidikan telah ditingkatkan.

Fakta lain adalah kurangnya perhatian masyarakat terhadap pentingnya pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari opini masyarakat bahwa asal bisa cepat bekerja, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Jika masalah pendidikan ini dibiarkan berlarut-larut dan tidak segera diselesaikan, bukan tidak mungkin masalah kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat menjadi masalah yang tidak terselesaikan. Keluarga miskin akan menghasilkan generasi penerus yang “miskin” dan begitu seterusnya sehingga menjadi “lingkaran setan” yang tidak ada habisnya. Oleh karena itu, perlu terjadi sinergi antara masyarakat dan pemerintah dan sikap pro aktif masyarakat menanggapi masalah pendidikan ini. Memang hasil yang diharapkan tidak bisa didapat dalam waktu yang singkat, namun paling tidak akan muncul harapan generasi yang akan datang akan berkesempatan untuk hidup dengan layak.

Oleh:

Pulung Sombonuryo 13207133 Fakultas Teknik Elektro Sekolah Teknik Elektro dan Informatika
Institut Teknologi Bandung

Email : nu.ryo.89@gmail.com

Menceritakan Pengalaman Pribadi di Internet bisa Mengakibatkan Masuk Penjara

Kaget juga saya membaca berita di DETIK.com. Kalau hal seperti ini dibiarkan, UU-ITE dapat dimanfaatkan oleh para pihak yang punya duit untuk menekan atau mengancam semua orang yang dianggap merugikan satu institusi atau perusahaan tanpa perduli fakta kebenarannya. Bagaimana menurut anda?

Jakarta – Perbuatan Prita Mulyasari (32) yang mengirimkan email berisi keluhan tentang pelayanan RS Omni Internasional kepada teman-teman pribadinya belum bisa dikategorikan pelanggaran dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Hal itu karena email tersebut sifatnya keluhan pribadi.

“Jika hanya bersifat keluhan pribadi ya saya rasa tidak (termasuk pelanggaran) ya. Sama seperti kita kirim SMS ke teman. Kecuali jika ada motif tertentu maka di sinilah harus dibuktikan motifnya apa,” ujar mantan anggota Panitia Khusus (Pansus) UU ITE Ganjar Pranowo saat berbincang dengan detikcom, Selasa (2/6/2009).

Ganjar menambahkan, perbuatan Prita yang mengirimkan email tersebut mungkin saja tanpa motif. “Kecuali kalau teman-temannya menyebarluaskan terus ditambah-tambahi, semua pihak bisa dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

Menurut Ganjar, perbuatan pencemaran nama baik sebagaimana diatur dalam Pasal 27 Ayat (3) UU ITE mempunyai syarat pembuktian yang cukup sulit. Seseorang yang melanggar harus dibuktikan memiliki motif sengaja mencemarkan nama baik.

Oleh karenanya penyidik jangan gegabah menggunakan pasal tersebut jika belum mempunyai bukti yang cukup. “Karena ini di dunia maya jadi berbeda dengan dunia riil,” tambahnya.

Sebelumnya, Prita ditahan karena dituduh melakukan pencemaran nama baik terhadap RS Omni lewat internet. Kasus yang menimpa Prita ini berawal dari email yang dia kirim kepada teman-temannya seputar keluhannya terhadap RS Omni. Email tersebut kemudian menyebar ke publik lewat milis-milis.

Dalam emailnya, Prita merasa dibohongi oleh diagnosa dokter ketika dirawat di RS tersebut pada Agustus 2008. Dokter semula memvonis Prita menderita demam berdarah, namun kemudian menyatakan dia terkena virus udara. Tak hanya itu, dokter memberikan berbagai macam suntikan dengan dosis tinggi, sehingga Prita mengalami sesak nafas.

Saat hendak pindah ke RS lainnya, Prita mengajukan komplain karena kesulitan mendapatkan hasil laboratorium medis. Namun, keluhannya kepada RS Omni itu tidak pernah ditanggapi, sehingga dia mengungkapkan kronologi peristiwa yang menimpanya kepada teman-temannya melalui email dan berharap agar hanya dia saja yang mengalami hal serupa.

Saat ini Prita telah ditahan di Lapas Wanita Tangerang, Banten. Selain dijerat dengan pasal pencemaran nama baik, Prita juga dikenai Pasal 27 ayat (3) UU ITE No 11/2008.
(ape/nwk)

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2009/06/03/041531/1141743/10/ganjar-email-keluhan-pribadi-tidak-termasuk-pelanggaran


Akhirnya saya jatuh cinta pada ASUS 1002HA

Sebelumnya saya sangat menikmati Fujitsu Tablet 8.9 inchi. Tablet dengan touchscreennya, serta layar yang bisa diputar memang luar biasa. Ada hal-hal yang menjadi mudah kita lakukan dengan tablet. Namun saya terkendala dengan ukuran keyboard yang terlalu kecil,umur batere yang relatif pendek, serta sulitnya tambah memori.

Maunya cari tablet lain yang bisa menyelesaikan kendala tersebut, tapi ternyata tidak mudah mencari penggantinya, apalagi dana sangat terbatas. Akhirnya setelah melakukan COST BENEFIT analysis, serta seminggu membaca berbagai review, pilihan saya jatuh untuk tukar dengan Netbook Atom ASUS Eee-1002HA.

Ini beberapa alasannya:

  • Umur batere lumayan panjang (paling tidak, 5 jam), menggunakan Lithium-Polymer
  • Layar sedikit lebih besar (10″) daripada netbook umumnya (8.9″)
  • Keyboard tidak terlalu kecil (92% ukuran laptop standar)
  • Touchpad cukup besar
  • Multitouch touchpad

Nah, saya mau share sedikit tentang multitouch touchpad ini. Touchpad biasanya hanya bisa disentuh oleh satu jari. Touchpad asus ini dapat disentuh oleh 2 bahkan 3 jari. Salah satunya kalau kita sentuh dengan 2 jari, sama dengan fungsi scroll. Dengan demikian, untuk melakukan scrolling tidak perlu repot memindahkan kursor ke tepi kanan, lalu men-scroll sambil menekan tombol. Cukup sentuhkan dua jari ke arak atas, bawah, kiri atau kanan. Jika satu jari yang menyentuh, fungsi seperti biasa, yaitu memindahkan posisi kursor mouse. Ternyata fitur ini membuat kerja kita jauh lebih cepat dan nyaman.

Bahkan kita bisa melakukan zoom hanya dengan menjauhkan dan mendekatkan dua jari kita dalam touchpad. Untuk aplikasi image viewer, kita bisa rotate hanya mengandalkan dua jari juga. Satu jari tetap, satu yang lainnya berputar.

Kemarin saya coba bawa ke Jakarta, lalu saya set koneksi Internet via Sony Ericson M600i yang terhubung melalui bluetooth. Ok juga, kecuali kinerja Matrix Indosat yang sangat parah!!!