Kritik Mambangun untuk Halte Kota Bandung

Sepulang menjalankan ibadah haji Desember 2009, saya cukup surprise melihat ada beberapa halte (tempat pemberhentian) transportasi umum di jalan Dago Bandung. Selama ini, halte tersebut hampir tidak ada di kota ini. Saya pikir, luar biasa, selama 40 hari kota Bandung sudah melakukan banyak kemajuan pesat. Bentuknya nampaknya seragam, memperlihatkan ada satu rencana khusus yang direncanakan oleh kota ini. Saya perhatikan, tampaknya hanya halte saja yang dibangun, belum dibarengi dengan program untuk menertibkan angkot dan para penggunanya. Sebagai orang yang baru pulang haji, saya harus menjauhkan buruk sangka; mungkin program “perbaikan perilaku” nya menyusul.

Sekarang sudah hampir bulan April dan saya belum melihat ada hal lain yang dilakukan kecuali membangun halte tersebut. Bahkan beberapa halte sudah tampak sering beralih fungsi; sebagian menjadi tempat mangkal para penjual; sebagian lainnya jadi tempat parkir taksi permanen; sebagian lagi menjadi tempat parkir anak-anak sekolah. Wah…., dari pada memberikan manfaat, malah menambah masalah baru. Ternyata di kota ini memang masih banyak yang senang dengan membuat program-program yang tidak tuntas tampaknya. Seringkali program-program yang tidak tuntas tersebut malah membuat persoalan menjadi semakin kompleks daripada menyelesaikan masalah. Contoh, pedagang sayur di simpang dago pernah dialihkan ke Tubagus Ismail. Sesaat Dao menjadi lebih asri dan lancar, sekarang malah, Dago kembali penuh pedagang, demikian juga di Tubagus Ismail. Jadi, dalam hal ini malah menjadi “program perluasan area kaki lima”.

Halte Transportasi Kota Bandung
Halte Transportasi Kota Bandung

Selain itu, dengan itikad baik, saya ingin memberikan beberapa kritik membangun untuk bentuk Halte Kota Bandung yang baru dibangun:

  1. Seharusnya halte menjadi tempat berlindung dari panas, hujan, bahkan kejahatan. Jika melihat bentuknya, halte kota Bandung kurang memberikan perlindungan tersebut. Sepertinya tidak ada penerangan yang akan membuat menjadi lebih aman di malam hari. Bantuknya yang sangat terbuka tidak melindungi dari hujan, padahal kita tahu, paling tidak di Indonesia setengah tahun akan diguyur hujan terus.
  2. Informasi NAMA HALTE harusnya terbaca dari kejauhan. Pada Halte Kota Bandung, nama halte malah tertulis dengan ukuran kecil, yang besar malah tulisan “BANDUNG BERMARTABAT”.
  3. Informasi tambahan di halte harusnya mudah dibaca. Pada foto tampak ada informasi yang ditulis di dinding belakang. Posisi informasi tersebut sangat tidak menguntungkan karena jika banyak orang disana, maka akan terhalangi. Selain itu, informasi mengenai peta, rute dan sebagainya sebaiknya dibuat fleksibel untuk diganti.
  4. Halte dapat menjadi peluang pendapatan. Di beberapa negara maju, saya perhatikan, halte pada umumnya dimanfaatkan juga iklan, tetapi tetap tidak mengganggu fungsi utamanya. Dari pada membuat jembatan penyebrangan yang jelas tidak diperlukan, saya pikir lebih baik membuat iklan cantik di Halte Transportasi Umum.

Bagaimana menurut anda???

Apa yang paling menyebalkan dari angkot Bandung? [1]

Q: Apa yang paling menyebalkan dari angkot Bandung?

A: Ketika saya nyetir mobil di belakang angkot dan segera akan belok kiri; ternyata angkot berhenti menurunkan beberapa penumpang persis di ujung belokan sehingga kita terhalangi; lalu dengan ngedumel kita berusaha belok kanan mau mendahului angkot yang berhenti lama tersebut; pada saat dengan susah payah kita sudah bisa mendahului angkot tersebut dan akan belok kiri, angkot tersebut maju menghalangi jalan kita ke kiri dan melambaikan tangan kepada kita. Grrrrrrr….. wck…. wck….

Kemacetan di Gerbang Utara Kampus ITB Makin Parah!

Kemarin saya harus buru-buru bergerak dari Hotel Preanger ke sekolah anak saya di SD Salman Al-Farisi (Tubagus Ismail Dalam). Lalu lintas lumayan lancar, sampai akhirnya berhenti di jalan Taman Sari antara Kebun Binatang dengan Kampus ITB, kurang lebih 50 meter dari BNI Taman Sari-Ganesha. Antrian hampir berhenti. Banyak mobil yang berbalik arah karena tak sabar menunggu antrian yang berjalan sangat lambat.

Karena mengejar waktu untuk ke sekolah anak saya, saya pun ikut muter, balik arah. Jika yang lain terus ke Dago melalui jalan Genesha yang lumayan agak macet juga, saya masuk ke Gerbang Utama Kampus, lalu menyusur sisi Barat kampus, lewat SBM, lalu keluar di gerbang utara kampus. Sesuai dugaan saya, titik kemacetan adalah jejeran angkot yang berhenti di badan jalan menunggu mahasiswa-mahasiswi yang berjalan santai pulang kuliah yang belum tentu juga akan naik angkot yang menunggu tersebut. Setelah melalui titik macet gerbang kampus utara ITB tersebut, jalan lancar 100%.

Hmmmm…., saya sudah tidak tahu lagi harus menyalahkan siapa? Tapi harus ada pihak yang tergugah untuk memperbaiki situasi ini!!!

Menanggulangi Global Warming tidak harus pake teknik yang canggih, cukup menghilangkan kemacetan yangs sederhana seperti ini, saya kira sudah kontribusi yang berarti untuk mengurangi Global Warming!

Akhirnya saya sampai di menit-menit terakhir dari waktu 90 menit yang disediakan oleh sekolah untuk bertemu dengan orang tua siswa. Kalau tidak potong jalan melalui kampus ITB, tentunya saya pasti terlambat!

Bandung, …oh…., Bandung! Kapan ya, punya walikota yang peduli oleh hal-hal yang sangat jelas terlihat ini???

Cuma bercanda nih, sekedar menumpahkan rasa kesal, andai saya jadi walikota Bandung, ngga akan muluk-muluk dengan slogan yang indah, Bandung BERHIBER, BANDUNG BERMARTABAT atau apapun, sederhana saja BANDUNG KOTA BEBAS MACET!

Bagaimana bis atau angkot bisa berhenti???

halte_gelael.jpg


Ini adalah salah satu tempat berhenti bis/angkot di jalan Dago (salah satu jalan utama di Bandung). Lihatlah suasananya seperti apa? Taksi, parkir mobil pribadi, motor, kios pulsa….. Tidak mungkin polisi tidak melihat! Walikota sadar engga ya? Wah, saya tidak bisa berkomentar lagi deh! Bagaimana menurut anda?

You Can Stop Anywhere!

Setiap kali saya kedatangan tamu dari luar negeri (negara maju) yang baru pertama kali datang ke Bandung, sebagai basa-basi saya selalu menanyakan bagaimana pendapatnya tentang kota Bandung. Jawaban umum (baca: basa basi juga, kali) yang keluar adalah menyatakan “indah, nyaman, …. dan beberapa di antaranya ada yang menyebut kroditnya lalu lintas dan angkot“.

Karena seringnya saya mengadapi komentar seperti itu, akhirnya saya menemukan jawaban yang jitu.

Service level of city transportation in Bandung is very high, maybe its higher than service level in your country.

Biasanya mereka akan bereaksi sangat serius mendengar ucapan saya dan penuh rasa ingin tahu. Saya akan segera melanjutkan:

In your country, you have to run or walk to go to bus stop, because the bus cannot stop anywhere. Here, in Bandung, just raise your hand, anywhere, and the angkot (Bandung’s City Transportation) will stop in front of you. Also, when you are in the angkot and want to stop, just say STOP, and the driver will stop the angkot anywhere. It’s very high service level.

Jawaban spontan yang keluar dari mereka biasanya begini:

Anywhere? Really?

Saya yakinkan lagi dengan jawaban begini:

Say, you are walking in the campus, going to the campus gate. The angkot will wait for you in front of campus gate without extra charge!

Pada akhirnya, saya mengamati ada dua tipe tamu. Pertama, ada yang terus tertawa, sadar bahwa saya sedang bercanda, tapi ada juga yang tetap serius menanggapinya. Ha-ha-ha …. memang ajaib kota kita ini.

Saya perlihatkan satu foto menarik, bahkan di tengah jalanpun kita bisa minta berhenti.

Setiap Pusat Keramaian Sebaiknya Punya Gerbang Khusus Untuk Orang

pusatkegiatan.jpg

Mari kita perhatikan foto tersebut. Foto ini adalah suasana di gerbang utara kampus ITB di jalan Taman Sari. Maaf, bukan mau mengkritik ITB, ini hanya contoh tipikal yang terjadi dimana-mana. Persis di depan gerbang terpampang tanda S-Coret, tetapi angkot tetap berhenti disana, dan satpam tidak berkutik untuk melarangnya. Seingat saya, di seberang gerbang tersebut pernah ada rambu yang sama, tapi entah masih ada atau tidak. Yang pasti, sekarang di seberang tersebut sudah jadi tempat parkir permanen.

Angkot selalu berhenti di sekitar gerbang tersebut, baik di sisi gerbang maupun di seberang gerbang. Anda bisa bayangkan, di sisi gerbang akan mengganggu keluar masuk kendaraan dari/ke kampus yang frekuensinya cukup tinggi. Yang di seberang, berhenti di badan jalan karena ada mobil-mobil parkir di pinggirnya. Jadilah semrawut seperti yang anda lihat di foto ini. Lalu lintas jadi tersendat, karena lebar jalan efektif yang bisa dipakai sudah habis!!!

Suasana ini menjadi hal keseharian, semakin hari semakin biasa, tidak terasa bertahun-tahun, sampai akhirnya kita lupa bahwa secara resmi ada aturan di negeri ini. Atau dengan kata lain, terbentuk satu pemikiran di kepala setiap orang:

Rambu itu kan hanya formalitas saja, bukan untuk dipatuhi!

Lantas apa yang harus kita lakukan. Saya kira kita harus smart! Kalau kita analisa, persoalan mendasarnya adalah sebagai berikut:

Orang keluar masuk melalui gerbang yang sama dengan kendaraan.
Angkot tidak mau kehilangan penumpang, jadi selalu berhenti di tempat keluar masuk orang.

Supaya diskusi kita sederhana, saya coba batasi ide ini hanya pada pemisahan lalu lintas kendaraan dan lalu lintas manusia. Andai dibuka gerbang lain di sisi lain kampus ini, khusus untuk keluar masuk manusia, saya yakin kesemrawutan ini akan jauh berkurang. Apalagi jika disediakan dua gerbang untuk keluar masuk orang.

Katakanlah, satu di sisi yang menempel ke kampus untuk angkot arah selatan, satu lagi di tempat yang terpisah, di seberang kampus, untuk angkot arah utara. Idealnya, disediakan pula tempat berteduh dari panas dan hujan. Biayanya dari mana? Mudah, tawarkan iklan saja, saya kira banyak yang mau!

Dengan demikian, tidak terjadi tumpukan lalu lintas manusia dan kendaraan, dan keluar masuk manusia (termasuk angkot berhenti) untuk arah yang berbeda, terjadi di lokasi yang terpisah. Sekali lagi, ini hanya contoh tipikal salah satu persoalan kemacetan di kota Bandung, ide ini bisa diterapkan di setiap pusat kegiatan atau pusat keramaian di kota Bandung.

Bagaimana menurut anda?

Rambu S-Coret sama dengan tempat berhenti?

Silakan perhatikan foto berikut ini.

Sekumpulan anak sekolah menunggu angkot di plang S-Coret di sekitar Simpang Dago

Saya cukup yakin mengatakan, kalau kita tanya anak-anak sekolah itu satu persatu, kemungkinan besar mereka paham arti rambu S-Coret, yaitu DILARANG BERHENTI. Tapi faktanya, semua orang tidak pernah sadar bahwa mereka menunggu di tempat yang salah. Memang menyedihkan, begitu banyak pelanggaran hukum di negara ini yang sudah menjadi keseharian kita, sehingga orang-orang tidak sadar BENAR dan SALAH yang sebenarnya itu yang mana? Secara tidak sadar, anak-anak tersebut kelak bisa menjadi orang yang mungkin tidak takut lagi melanggar hukum, karena sejak anak-anak sampai dewasa terbiasa melihat lingkungan yang penuh dengan pelanggaran yang dibiarkan.

Kalau anda berada di sekitar kampus ITB, silakan perhatikan mahasiswa-mahasiswa yang konon putra terbaik bangsa ini dengan santainya menunggu angkot persis di rambut S-Coret. Jadi yang benar, apa makna S-Coret? Tempat berhenti atau Tanda Dilarang Berhenti? Bagaimana menurut anda?

– Arry Akhmad Arman –

Fungsi “Halte Bis” di Bandung Tidak Dijaga!

Salah satu masalah semrawutnya angkot di kota Bandung adalah tidak adanya halte atau tempat berhenti untuk menaikan atau menurunkan penumpang. Namun, paling tidak, kalau kita perhatikan, di Bandung ini ada rambu-rambu tempat berhenti untuk bis kota. Nah, kalau kita perhatikan lokasi-lokasi halte bis kota tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa tidak ada “niat” dari Pemkot Bandung untuk memelihara agar fungsinya berjalan seperti seharusnya.

Saya kadang bingung, yang dipikirkan oleh para pengelola kota ini adalah solusi-solusi canggih yang hebat, perlu effort besar untuk implementasinya, perlu biaya besar untuk mewujudkannya, tapi MENGABAIKAN HAL-HAL DI DEPAN MATA yang seharusnya dibereskan.

Salah satu hal yang tidak mendapat perhatian serius adalah pemeliharaan fungsi HALTE BIS. Hampir semua halte bis di Bandung telah terganggu, bahkan berubah fungsi sedemikian rupa sehingga tidak dapat digunakan sesuai fungsi yang diinginkannya. Silakan perhatikan dua foto berikut.

halteu01_small.jpg

Halte bis berubah menjadi pangkalan taksi! Masih bisakah bis berhenti disini?

 

halteu02_small.jpg
Jualan tepat di halte bis. Masih bisakah bis berhenti disini?

Sulitkah menertibkan hal tersebut? Sulit mana dengan membuat jalan layang? Sama seperti urusan kaki lima, alasan yang saya dengar selalu “kurangnya jumlah personil dan jumlah biaya operasi” untuk menertibkannya. Maaf saja, menurut saya itu alasan yang keluar dari orang yang tidak kreatif! Bahkan stupid! Masih banyak cara untuk menertibkan dengan effort yang tidak terlalu besar. Lakukan saja patroli secara kontinyu tapi random. Dan pikirkan satu hukuman yang merepotkan, tapi mendidik. Saya kira 4 mobil patroli yang jalan secara random ke berbagai tempat di Bandung cukup membuat pelaku pelanggaran ketar-ketir juga!

Bagaimana menurut anda?

– Arry Akhmad Arman –

Jalan Pahlawan, contoh segmen infrastruktur bagus yang tidak dimanfaatkan!

Jalan Pahlawan di kota Bandung adalah jalan yang unik dan menarik. Jalan ini terdiri dari 3 jalur menuju Taman Makam Pahlawan. Dari ujung persimpangan dengan jalan Surapati, kita bisa memandang lurus ke tugu di Taman Makan Pahlawan dengan memandang deretan pohon-pohon cemara yang berjejer rapih. Jika cuaca sedang bagus, kita bisa melihat pemandangan indah bukit-bukit di Bandung utara sebagai background dari tugu di makam tersebut.

Jalan ini terdiri dari 3 jalur dan cukup lebar. Bahkan jalur lambat di kedua sisinyapun cukup leluasa untuk dilalui dua mobil bersimpangan dari arah yang berlawanan. Faktanya, kita sering kesal kalau naik mobil melalui jalan utamanya (tengah). Mengapa? Angkot berhenti seenaknya di jalur tengah. Penumpang angkot juga direpotkan untuk berjalan jauh menyebrangi jalur lambat dan trotoar tengah yang lebar untuk sampai ke jalur utamanya (lihat foto, seorang ibu harus berjalan sampai ke trotoar jalur tengah untuk menanti angkot, bahkan harus melocati selokan kecil di tepi trotoar). Baik untuk naik maupun untuk turun angkot. Sementara itu, jalur lambat di kiri kanan, kosong tidak digunakan. Bahkan sudah menjadi tempat parkir yang nyaman dan tidak terganggu. Mari perhatikan foto-foto berikut.

 

img_3329.jpg

 

pic00064.jpg

 

Aneh bin ajaib! Ko, tidak pernah terpikirkan untuk menata segmen jalan ini. Menurut saya, jika angkot diharuskan melalui jalur lambat di kiri dan kanan, akan menguntungkan berbagai pihak. Penumpang angkot pun tidak perlu repot-repot ke jalur tengah. Jalur utama juga akan menjadi lancar karena tidak ada angkot. Jalur lambat juga tidak akan berkembang menjadi lahan parkir seenaknya yang nantinya jadi sulit menertibkannya. Yang pasti, untuk melakukan ini hampir tidak ada biaya yang harus dikeluarkan, cukup pasang beberapa rambu saja.

Salam,
Arry Akhmad Arman