Perusahaan harus mulai rajin baca blog dan keluhan customer di Internet

Baca surat pembaca di detik.com tentang layanan Garuda Indonesia yang berjudul “ Status OK Tiket Garuda Bukan Berarti OK Terbang” sangat menarik. Saya kutip sebagian keluhannya:

Saya melakukan chek in Jam 08.45 (belum terlambat) di desk khusus kartu GFF. Pada saat chek in diterima oleh Mbak Gita. Namun, betapa terkejutnya saya karena ternyata pesawat telah penuh dan tidak ada kursi kosong. Padahal di tiket tertera status OK.

Lalu ada beberapa komentar, salah satunya sebagai berikut:

Dewi, Hal ini persis terjadi dengan suami saya. Status ticket OK, dan satu malam sebelum keberangkatan ada petugas Garuda yang menelpon untuk kepastian keberangkatan dan suami saya menjawab bahwa suami saya confirm berangkat. Tetapi aneh bin ajaib waktu akan check in namanya tidak ada. Garuda cukup bertanggung-jawab dan akhirnya suami saya bisa terbang. Tetapi yg saya heran kenapa hal ini bisa terjadi dan ternyata tidak hanya terjadi pada suami saya tetapi pada lebih dari satu penumpang. Ada apa denganmu Garuda???

Komentar-komentar lainnya cukup pedas untuk dibaca, diantaranya ada yang mendukung untuk tetap mendapatkan larangan terbang ke Eropa sebagai pelajaran buat Garuda. Belum ada (baca: mungkin tidak akan ada) komentar dari pihak Garuda soal ini.

So, sekali lagi, menurut saya, perusahaan-perusahaan di Indonesia harus mulai rajin membaca blog serta surat pembaca di media-media online di Internet. Informasi-informasi seperti ini akan menjadi informasi yang menurunkan citra perusahaan dan menjadi informasi gratis yang sangat berharga untuk kompetitor-kompetitor perusahaan kita.

Semoga bermanfaat!

Posting lain yang berhubungan:

Stress sepanjang penerbangan ….

Karena tadi pagi baru dari bandara, saya jadi ingat satu pengalaman perjalanan saya yang paling bikin saya stress, tak bisa tidur dan kepikiran terus selama beberapa hari. Akhir 2004 yang lalu saya harus tinggal di Berlin untuk suatu kegiatan riset selama 4 bulan. Karena ayah saya waktu itu sedang sakit, setelah 2 bulan, saya pulang dulu sekitar 1 minggu ke Indonesia atas biaya pribadi.

Supaya hemat, saya cari tiket paling murah. Akhirnya saya dapatkan Gulf Air. Dari Berlin saya naik kereta cepat menuju Frankfurt (satu paket dengan tiket pesawat), lalu terbang menuju Indonesia via Bahrain (kalo tidak salah). Sampai Bahrain, pesawat tidak terlalu penuh, lalu di Bahrain jadi penuh sesak oleh orang Indonesia yang menuju Jakarta. Kelihatannya sebagian besar adalah para TKW Indonesia yang akan pulang, mungkin 70% isi pesawat adalah mereka itu.

Nah, apa yang membuat saya stress??? Sepanjang perjalanan, para TKW Indonesia itu saling mengobrol dengan keras tentang suka duka mereka. Tentunya lebih banyak dukanya daripada sukanya. Nah, kuping saya tak bisa ditutup, dan tentunya semua kisah menyedihkan itu akhirnya saya dengarkan… Alhasil, kepikiran terus sampai berhari-hari memikirkan nasib para TKW Indonesia itu….

Salah satu TKW bahkan ada yang bengong, hampir tidak bisa diajak bicara dan tidak punya uang dan harta apapun untuk kembali ke kampungnya. Nama dan alamat kampungnya berhasil diidentifikasikan setelahg dilihat di KTP-nya. AKhirnya sejumlah penumpang patungan mengumpulkan uang untuk satu orang itu, dan minta tolong ke salah satu rekan mereka yang kampungnya paling dekat untuk mengantarkannya pulang.

Kasihan sekali nasib para pahlawan penghasil devisa……

[Jalan sudah mulai lancar menuju Bandung, saya cukupkan sampai disini, takut keburu hilang sinyal 3G nya]