Nasib Pejalan Kaki yang Sebenarnya di Bandung

Di tengah berbagai pujian terhadap Car Free Day setiap minggu pagi di jalan Dago kota Bandung yang seolah-olah memberikan kenyamanan bagi para penikmat jalan kaki, sebenarnya banyak realita sebaliknya yang terjadi di kota Bandung. Perhatikan dua foto berikut.

Pejalan Kaki dan Galian di Kota Bandung

Pejalan Kaki dan Galian di Kota Bandung

Penggalian di Kota Bandung biasanya dilakukan “seenaknya” tanpa memperhitungkan atau meminimisasi dampak berkurangnya kenyamanan dan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Foto ini memperlihatkan contoh tersebut. Pejalan kaki harus meniti pinggirian selokan yang sangat tipis… Bayangkan kalau ibu-ibu yang sudah tua atau anak seorang ibu membawa anak kecil, apa yang harus dilakukan ??? Sementara itu, kalau memilih berjalan di badan jalan, “siap-siap diserempet motor atau angkot”.

Motor siap menyerempet kita andai kita berjalan di badan jalan

Motor siap menyerempet kita andai kita berjalan di badan jalan

Sebenarnya ini hanya contoh kecil saja…. Penyebabnya dalam hal ini adalah penggalian yang sifatnya sementara……….  Banyak hal seperti ini yang sifatnya permanen, karena trotoar diijinkan untuk digunakan sebagai parkir permanen untuk tempat usaha……….

Bagaimana menurut anda??

Iklan

Memimpikan jalan Braga seperti ‘pedestrian area di Munich’

Banyak orang senang ke Paris van Java (PvJ) di jalan Sukajadi Bandung, walaupun harus bermacet-macet kesana, lalu bersusah payah mencari lokasi parkir. Menariknya, mereka tidak pernah kapok. Ada rasa kangen untuk datang lagi. Mengapa? Menurut saya bukan semata-mata karena ada toko A yang menjual barang favorit dia atau karena ada toko B yang selalu memajang produk baru yang sulit dicari di tempat lain atau karena ada toko C yang barangnya menarik harganya. Mungkin itu benar. Tapi tidak sedikit orang kesana hanya untuk berjalan-jalan, menikmati suasana yang lain. Begitu masuk kesana, memang terasa lain. Lupa dengan kota Bandung yang semakin semrawut, rasanya memang kita sedang berkunjung ke suatu dunia lain yang lebih baik dari Bandung yang sebenarnya. Persis seperti ketika kita masuk ke DUFAN (Dunia Fantasi) di Ancol, di dalam itu kita dibawa ke dalam suasana lain, dan sesaat lupa kepada tempat kita sehari-hari.

Apakah suasana seperti itu ada dalam suasana yang sesungguhnya? Ketika pertama kali berkunjung ke PvJ, saya langsung teringat Munich, salah satu kota terbesar di Jerman. Ada suatu area jalan kaki yang sangat lebar dan panjang. Kiri kanan toko dan tidak ada jalur mobil di tengahnya. Area jalan kaki ini terletak antara Karlsplatz dan Marienplatz. Kebetulan saya pernah dua kali berkesempatan mengunjungi Munich. Satu kali pada awal tahun 2005, pada saat musim dingin penuh salju dimana-mana. Kesempatan kedua pada tahun 2006 musim panas. Jadi sempat melihat area tersebut untuk dua kondisi yang berbeda. Ternyata di kedua musim yang ekstrim berbeda tersebut, area tersebut tetap menjadi kawasan yang ramai. Lihat dua foto di bawah ini.

munich01.jpg

Area jalan kaki di Munich pada saat musim panas 2006

munich02.jpg

Area jalan kaki di Munich pada saat musim dingin (awal 2005)

Suasana ini agak berbeda dengan kawasan jalan kaki lainnya yang terkenal di Eropa yang ditengahnya ada jalur mobil karena jalannya memang sangat lebar. Sebagai contoh di Paris ada kawasan jalan kaki yang terkenal, yaitu Champs Elysees yang ujung satunya adalah Arc de Triomphe, sedangkan ujung yang lainnya adalah Place de La Concorde yang kalau diteruskan akan menuju ke Piramid kaca di museum Louvre. Ini kawasan yang sangat panjang dengan trotoar yang sangat lebar di kiri kanannya. Saya kira jalan Braga tidak mungkin meniru kawasan Champs Elysees karena terlalu sempit. Kalaupun mau, mungkin Jalan Dago bisa, asal tidak ada parkir di setiap toko dan halaman parkir di semua toko dijadikan trotoar jalan kaki yang lebar. Terlalu rumit implementasinya!

Terus terang saya memimpikan jalan Braga kita disulap jadi seperti area jalan kaki Munich seperti foto di atas, mulai dari persimpangan J. Suniaraja sampai persimpangan Asia Afrika. Kita tutup jalur mobil di jalan Braga dan kembalikan ke suasana Eropa yang sesungguhnya, sehingga julukan Paris van Java menjadi pantas untuk disandang kota Bandung sepanjang masa, bukan sekedar masa lalu saja. Kalau kita bisa menyedot orang Jakarta setiap weekend ke Bandung, mengapa kita tidak mulai memikirkan untuk menyedot orang Singapura atau Malaysia ke Bandung setiap weekend?

braga.jpg

Suasana Jalan Braga, Bandung

Memang banyak hal yang akan menjadi kendala, seperti peningkatan jumlah kendaraan pendatang dan parkir. Saya kira kalau kita punya keinginan yang kuat, banyak alternatif solusi berani yang bisa kita tempuh, misalnya penataan angkot secara serius dan pelarangan parkir di tempat -tempat yang mengganggu. Deskripsi lengkap pemikiran solusi kemacetan weekend ini akan saya post pada tulisan lainnya.

Banyak perubahan yang dimulai dari ‘mimpi’. Nah, mudah-mudahan ini merupakan mimpi indah yang bisa kita pertimbangkan untuk dikaji kemungkinannya. Yang pasti, kalau tidak pernah bermimpi, sudah pasti tidak akan berubah.
Bagaimana menurut anda?

Salam
– Arry Akhmad Arman –

Jalan Pahlawan, contoh segmen infrastruktur bagus yang tidak dimanfaatkan!

Jalan Pahlawan di kota Bandung adalah jalan yang unik dan menarik. Jalan ini terdiri dari 3 jalur menuju Taman Makam Pahlawan. Dari ujung persimpangan dengan jalan Surapati, kita bisa memandang lurus ke tugu di Taman Makan Pahlawan dengan memandang deretan pohon-pohon cemara yang berjejer rapih. Jika cuaca sedang bagus, kita bisa melihat pemandangan indah bukit-bukit di Bandung utara sebagai background dari tugu di makam tersebut.

Jalan ini terdiri dari 3 jalur dan cukup lebar. Bahkan jalur lambat di kedua sisinyapun cukup leluasa untuk dilalui dua mobil bersimpangan dari arah yang berlawanan. Faktanya, kita sering kesal kalau naik mobil melalui jalan utamanya (tengah). Mengapa? Angkot berhenti seenaknya di jalur tengah. Penumpang angkot juga direpotkan untuk berjalan jauh menyebrangi jalur lambat dan trotoar tengah yang lebar untuk sampai ke jalur utamanya (lihat foto, seorang ibu harus berjalan sampai ke trotoar jalur tengah untuk menanti angkot, bahkan harus melocati selokan kecil di tepi trotoar). Baik untuk naik maupun untuk turun angkot. Sementara itu, jalur lambat di kiri kanan, kosong tidak digunakan. Bahkan sudah menjadi tempat parkir yang nyaman dan tidak terganggu. Mari perhatikan foto-foto berikut.

 

img_3329.jpg

 

pic00064.jpg

 

Aneh bin ajaib! Ko, tidak pernah terpikirkan untuk menata segmen jalan ini. Menurut saya, jika angkot diharuskan melalui jalur lambat di kiri dan kanan, akan menguntungkan berbagai pihak. Penumpang angkot pun tidak perlu repot-repot ke jalur tengah. Jalur utama juga akan menjadi lancar karena tidak ada angkot. Jalur lambat juga tidak akan berkembang menjadi lahan parkir seenaknya yang nantinya jadi sulit menertibkannya. Yang pasti, untuk melakukan ini hampir tidak ada biaya yang harus dikeluarkan, cukup pasang beberapa rambu saja.

Salam,
Arry Akhmad Arman