Anda bisa ‘ketinggalan kereta’ gara-gara ‘kue’

Kemarin sore (Sabtu, 22 Maret 2008) saya berkunjung ke rumah Ibu saya di jalan H. Mesrie, Kebon Kawung, Bandung. Wow, baru sampai simpang Pajajaran-Cicendo lalu lintas sudah terhenti. Sangat tersendat dan bergerak sangat lambat. Setelah sampai ujung Cicendo, baru bisa dianalisa dengan lebih akurat, penyebabnya adalah tersendatnya kendaraan yang menuju Kebon Kawung. Dari Cicendo ke arah kiri lumayan lancar, tapi, lagi-lagi…., karena perilaku berlalu lintas yang buruk, kendaraan yang akan belok kanan pun tetap tumpah sampah ke sisi paling kiri, sehingga menghalangi kendaraan di sisi kiri yang akan ke kiri yang sebenarnya tidak macet.

macet_kartikasari01.jpg

Setelah macetnya Kebon Kawung dilalui, akhirnya ketahuan juga biang kemacetannya (walaupun sudah bisa ditebak sebelumnya), yaitu Toko Kue Kartika Sari. Parkir di sekitar jalan masuk ke Kartika Sari, serta kendaraan yang keluar masuk ke sana telah menyebabkan antrian yang luar biasa.

Kalau dihitung ‘cost benefit’-nya, untuk yang mau beli kue pun mungkin tidak impas. Artinya, jumlah bensin/solar yang dihabiskan karena macet sudah membuat harga kue tersebut jadi lebih mahal. Apalagi untuk orang-orang yang tidak ada kepentingan untuk membeli kue. Mereka menghabiskan waktu dan biaya yang tidak ada manfaatnya….. Saya taksir, setiap mobil akan menghabiskan BBM sekitar 2 liter dalam kemacetan tersebut (saja)

Hal ini sudah berlangsung sangat-sangat lama….. dan di segmen jalan tersebut ada stasiun Kereta Api Kota Bandung. Bagaimana kita mau memberikan layanan transportasi ke/dari Bandung yang nyaman, jika kondisi seperti ini dibiarkan terus…..

Sungguh hal yang menggelikan kalau banyak penumpang kereta api ketinggalan kereta gara-gara sebuah toko kue yang memacetkan.

Solusinya? Mudah!!! Buat larangan parkir di pinggir jalan di sekitar segmen jalan toko kue tersebut. Dan tentunya, selalu kembali kepada orang. Larangan tersebut harus bisa dijalankan dengan tegas disana! Lalu, pembeli kue harus parkir dimana? Biarkan toko kue yang memikirkannya!

macet_kartikasari02.jpg

7 thoughts on “Anda bisa ‘ketinggalan kereta’ gara-gara ‘kue’

  1. Iya. Di Bandung ini (dan mungkin Indonesia secara umum) orang membuka usaha gak pernah memikirkan dampaknya kepada lingkungan sekitarnya. Gak tanggung jawab!

    Mosok buka usaha gak menyiapkan tempat parkir? Aneh. Mosok pelanggan disuruh parkir di bahu jalan. Kalau ditegur, lho kan itu terserah pelanggan. Enak aja! Sebel kalau sudah begini.

    Betul, di Bandung itu kalau mau buka usaha ngga perlu mikir parkir, pake saja lingkungan sekitarnya untuk parkir. Bahkan yang lebih penting adalah “uang keamanan” untuk mengamankan penggunaan lahan parkir seenaknya itu. “uang keamanan” itu dipungut mulai dari tukang software bajakan di emperan kampus ITB sampai dengan (tentunya) toko-toko besar.

  2. Terus terang saya pernah ketinggalan kereta dan pesawat gara2 traffic jam di Bandung….🙂

    Ini dia bukti otektiknya. Terima kasih share pengalamannya.

  3. wagh…seperti halnya kayak di pematang siantar, Medan, ada toko roti ganda, asli…jalan di depan toko itu lumayan macet juga sih, banyak orang yang nyebrang..
    namun, kuenya itu toh, uenak tenan..🙂

  4. Lepas dari masalah kemacetan nih. Saya mau tanya foto yang nomor 2 nih Pak …
    Di sana ada 4 mobil angkot … dengan warna yang membingungkan gitu …
    Saya suka bingung dengan angkot-angkot di Bandung. Masalahnya, kalau saya mau ke suatu daerah tertentu, dan bertanya ke orang di jalan. kamudian ditunjukan disuruh naik mobil yang warna hijau. Untuk orang Bandung, mungkin tidak ada masalah dengan warna hijau yang dimaksud. Tetapi bagi orang luar Bandung, pasti bermasalah. Sebab hijau yang dimaksud itu, hijau pada bagian mana? Berbeda dengan kota Bogor, di sana mobilnya seragam, artinya hijau keseluruhan, atau biru keseluruhan selebihnya adalah No Angkot, jadi lebih mudah. Angkot di Bandung, menurut saya agak lieur …
    he hehe…

    setuju, memang penataannya sangat buruk, dan membuat jadi lieur….
    ini contoh kreativitas tidak pada tempatnya. kalau satu warna, ngecatnya lebih mudah, mengenalinya juga lebih mudah!

  5. kenapa toko kuenya nga bangun counter asli di dalam stasiun KA. Bandung yach biar t4 parkir luas, yg mau berangkat pake KA juga nyempat-nyempatim beli kue..Kartika sari.. atau DO (delivery order aja) jadi nga usah harus kesana tinggal pesan mau beli apadiantar or ditunggu dimana gitu yach..

    dulu
    saya sering telat ngajar di sebuah SMK dibandung karena macet persis di t4 tersebut apalagi kalo hari sabtu maklum numpangya pake Cisitu-Tegal Lega… yang ungu itu loh

  6. Selamat siang Pak Arry,

    Artikelnya sangat menarik Pak, terlebih Jalan Kebon Kawung merupakan jalur saya pulang ke rumah.

    Beberapa minggu terakhir ini harusnya menjadi super macet, karena arus kendaraan di Jalan Pasir Kaliki dari arah Jalan (Tol) Pasteur diputar ke Jalan Kebon Kawung, gara-gara matinya traffic light di perempatan depan Istana Plaza (IP). Long weekend kemarin saya dan keluarga terjebak macet sejak Jalan Cicendo.

    Padahal tepat di salah satu sisi perempatan merupakan kantor Polsek. Menurut saya sangat mudah menempatkan personel untuk sementara waktu menggantikan traffic light yang sedang rusak.

    Masyarakat akan sangat dirugikan oleh tidak mampunya Jalan Kebon Kawung menampung arus kendaraan sedemikian banyak ditambah tersendatnya arus oleh pertokoan seperti diceritakan Pak Arry. Untuk ke stasiun atau bandara harus menyediakan waktu ekstra agar bisa mengejar waktu keberangkatan.

    Nuhun dan salam, -bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s