Internet ITB, menyedihkan….

koneksi-internet-itb.jpg

Inilah contoh dua laptop dosen ITB yang dipasangi card 3G/HSDPA untuk mendapatkan koneksi Internet yang normal. Foto ini saya ambil sekitar seminggu yang lalu di dalam kampus. Salah satunya laptop saya, yang lainnya laptop rekan dosen yang lain. Jaringan kampus ITB sudah tidak bisa diandalkan lagi untuk mendukung pekerjaan. Mau attach file via email saja setengah mati. Browsing, setengah mati lambatnya, dan tidak efektif! Buang waktu tunggu! Akhirnya, seperti inilah solusinya!

Memang sering ada argumen: Sudah gratis atau murah, ingin kenceng! Nah lho, memang tuntutannya seperti itu. Sebetulnya tidak menuntut yang higspeed, tapi yang normal saja deh! Tinggal hitung, perlu dana berapa supaya Internet bisa cepat? ITB punya uang atau tidak? Kalo kurang, kembalikan kepada user. Saya kira banyak dosen yang tidak keberatan bayar Rp 50 ribu – Rp 100 ribu untuk layanan Internet yang cepat (baca: normal) di dalam kampus. Mahasiswa pun sudah mulai kurang betah di kampus, mereka lebih senang sharing Internet unlimited di tempat kost atau di nongkrong di warnet.

Sampai kapan ya akan begini? Sementara sekolah-sekolah sampai SD mulai punya koneksi Internet, Internet ITB dari dulu tidak ada kemajuan yang berarti.

Menurut saya ada dua solusi:

  1. Kalo ITB ngga punya uang, bebankan ke user! Biarkan user pilih. Mau cepat, bayar sekian! Mau murah, ya harus terima Internet yang lambat. Tapi yang penting ada pilihan.
  2. Cara lebih mudah, undang pihak swasta buka hotspot berbayar di dalam kampus! Solusi ini jauh lebih mudah, bahkan ITB bisa mendapat fee dari penggunaan hotspot tersebut!

Bagaimana menurut anda?

26 thoughts on “Internet ITB, menyedihkan….

  1. setuju sekali pak..

    saya dan temen – temen juga mengalami hal yang sama..
    terakhir, kmaren pada waktu mau download tugas yag diberikan dosen di yahoo mail (kalo ga salah tugas pak arry🙂 ) setelah dicoba berulang kali buat connect ke yahoo pake internet kampus gagal terus.. akhirnya temen saya nawarin modem 3G/HSDPAnya untuk digunakan di notebook saya.. lancar deh..🙂

    nah masalahnya saya bingung, itu koneksi lambat banget penyebabnya apa bandwidthnya yang kurang pa managementnya yang kurang bener. ya kayaknya mahasiswa tdk akan keberatan untuk iuran lagi demi mendapatkan bandwidth yang layak. Tapi pak setahu saya, saya dan temen – temen S2 itu udah iuran 10 ribu perbulan untuk bisa ngenet di kampus. Sepertinya sih blum cukup buat merasakan internet yang cepat (normal).

    mudah – mudahan sebelum saya lulus internet ITB udah menjadi normal. amin🙂

  2. Wah sepertinya perlu ada sebuah ketentuan pak Arry untuk hal tersebut dan hal tersebut berkaitan dengan admin internet ITB. Usul saya sih, dibuat adanya login/username, untuk login/username untuk para dosen mempunyai kecepatan yang berbeda dibanding username dari mahasiswa. Mungkin rekan-rekan yang lain, ada usul yang lebih baik?

  3. Saya lulusan magister teknologi informasi yg lulus oktober 2007. Sejak lulus sudah tidak pernah pakai intenet di ITB lagi. Tapi saya rasa kondisinya saat saya masih diITB dengan saat ini belum banyak berubah. Kalau saya perhatikan, ada website yg bisa diakses dengan cepat, ada yg lambat banget. Yg jarang dibuka orang saya rasa bisa cukup cepat, sedangkan yang sering dibuka orang seperti misalnya yahoo dan friendster lambat banget. Saya malah hampir tidak pernah bisa buka friendster kalau siang2. Sedangkan kalau download biasanya cukup cepat, jauh lebih cepat dibanding diwarnet. Bisa dapat 50kByte/s bahkan kadang bisa lebih.
    Saya jadi berpikir internet ITB lambat itu karena site2 tertentu memang dibatasi bandwidthnya oleh admin ITB.
    Mungkin bisa dicek langsung ke adminnya.
    Yg paling menyebalkan dari koneksi ITB adalah kalau koneksi wifi kita tiba2 putus dan pas nyambung lagi dan dikasi IP yang beda, pasti tidak bisa browsing keluar ITB dan mesti pasrah aja nunggu sampai waktu timeoutnya habis😦

    ps. jadi kangen dengan site rileks🙂

  4. hehehehe, … serba salah memang … spt terbiarkan ya pak … ga ada solusi … sebenarnya kondisi yg sama yg sering kami rasakan di kelas pak. Paling asem memang kalo justru disaat sedang diperlukan malah matot, gagal akses, dsb. Yang ada bete, dan satu persatu yang punya modem usb atau card langsung tancap pakai account cadangan yg lewat providernya langsung, termasuk saya. Dan apesnya lagi ternyata sinyal para provider itu utk data akses tidak sebagus diluar kampus. Bikin gerah yang pake time based. Yg volume-based masih bisa sabar. Alhasil akibat lanjutan karena maslah itu timbullah yang spt bapak ceritakan diatas.

  5. selamat datang didunia akses data menggunkana teknologi selular pa, mungkin untuk saat ini kalau diperlukan mobilitas tinggi dan speed yang mumpuni teknologi HSDPA menjadi salah satu pilihan, untuk membuka hotspot berbayar di Kampus bisa diusulkan juga tuh pa

    Sepertinya memberikan pilihan adalah salah satu jalan untuk saat ini yang bisa dilakukan

  6. memang pak, untuk masalah yang ini sudah sering menjadi perdebatan di milis admin dan milis network itb, kami juga telah berusaha semampunya untuk memberikan service yang terbaik.
    untuk masalah seperti email atau yang berhubungan dengan web bapak bisa berkonsultasi dengan cacheadm@itb, it’s really helpfull kok pak, kami terbuka🙂

  7. ahahaha… jangan2 ini memang disengaja oleh manajemen kampus, agar suatu saat ada yang bilang begini: “mbayar juga gak papa kok asal cepet”

    nah.. akhirnya ditarik iuran juga!

    income baru buat kampus:mrgreen:

  8. Pertama, saya salut dulu untuk pengelola Internet kampus ITB. Saya tahu “all of you” sudah kerja keras untuk ITB.

    Nah, kalau sekarang layanannya masih belum memuaskan, tentunya ada batu sandungannya yang membuat maju kena mundur kena untuk mencari solusi. Saya kira harus di buka ke publik (publik ITB), dimana persoalannya? Karena di satu sisi ITB sudah terbantu dengan berbagai program kerjasama yang membuat budget ITB untuk Internet jadi sangat terbantu. Ada AI3, ada TEIN Asia-Eropa (saya ikut terlibat dalam awal kerjsamanya, tapi tanggugjawabnya saya kembalikan ke ITB sebelum selesai karena harus riset selama 4 bulan di suatu negara). Bayangkan, kampus lain yang tidak punya AI3 atau TEIN harus mengeluarkan dana lebih besar untuk Internet kampusnya.

    IT sekarang sudah menjadi layanan dalam internal organisasi. Bahkan cenderung sudah dituntut adanya SLA (Service Level Agreement), walaupun hanya melayani pihak internal.

    So, mari kita pikirkan bersama, termasuk dengan para usernya (dosen, juga mahasiswa).

  9. Hmm.. Ternyata askes buat mahasiswa dan dosen sama ya pak? Kirain berbeda masalah kecepatan. Kalau mahasiswa sih harus beli voucher tiap bulan Pak, semacam isi ulang buat aktifin account AI3. Dengan itu bisa ngenet 24 jam.
    Walaupun kami sudah bayar, kami tetap belum mendapat akses yang maksimal. Terkadang tempat hotspot tu penuh sesak sehingga kita tidak bisa menggunakan dengan nyaman, ga bisa nyambung ke network, sering putus, dll..
    *Mending ngenet dirumah walau hanya dengan GPRS*

    Nah, ini contoh yang secara tidak langsung memperlihatkan kemauan untuk membayar lebih….
    Semua user (dosen juga mahasiswa) akhirnya mau membayar kepada pihak lain untuk mendapatkan akses yang lebih baik. Nah, daripada ke pihak lain kan mendingan dikelola oleh ITB. Mungkin masih malu-malu mau mungut lebih tinggi, tapi akhirnya jadi begini………..

  10. Ya memang menurut saya yang pernah ikut mengurusi Internet ITB secara langsung, pokok persoalannya ada dua:

    (1) Biaya Layanan Internet di Indonesia terlanjur mahal

    (2) Standar dari Service Level

    Untuk sesuatu yang mahal, diperlukan justifikasi nilai. Maksudnya, kalau kita mau membayar mahal, mesti kita anggap nilainya tinggi.

    Untuk jadi worldclass univ, mesti ada level minimum yang acceptable per mahasiswa dan dosen, yang dibayar ITB/pemerintah.

    Kalau mau lebih dari itu, saya setuju usul pak Arry agar biaya extra bandwidth dibebankan pada pemakai.

  11. Oh ya satu lagi. Saya sudah coba berbagai layanan, baik di rumah, telkomnet instant, WLAN, di mall, melalui seluler, CDMA, dsb.

    Saya masih merasa layanan di ITB masih yang terbaik, untuk Rupiah yang saya bayarkan.

    Dengan Fren, Telkomnet, GPRS, dsb saya habis ratusan ribu rupiah dengan speed yang kalah dibanding ITB. Yang terbaik dulu itu Esia, tapi cuma eksprimental.

    Sekarang di rumah saya menggunakan Wasatama WiFi, unlimited, Rp 200.000 per bulan, tapi lambat juga…

    Betul pak, mungkin untuk rupiah yang dibayarkan mungkin the best! Masalahnya adalah produktivitas kita kadang jadi sangat menurun ketika setiap klik harus menunggu cukup lama responnya, bahkan bisa keluar error akhirnya. Tadi siang saya coba masuk ke Internet Banking BCA, beberapa kali gagal. Setelah coba ke sekian kali akhirnya bisa juga. Tapi saya akhirnya ragu untuk bertransaksi, khawatir mogok di tengah transaksi yang tidak tuntas.

    Soal layanan berbagai provider yang menawarkan internet sangat murah saya kira memang tidak ada yang memuaskan. Saya dengar FASTNET yang 99ribu di Jakarta masih kenceng (katanya….).

    Satu lagi pak! Jangan-jangan Pak Armein masih pake proxy khusus yang berbeda dengan proxy saya. Saya kan pake proxy sejuta umat!

  12. Betul Pak Armein, akses internet di ITB masih jauh lebih cepat dibandingkan ISP-ISP yang ada di Bandung.

    Menarik untuk dipikirkan. Kalau banyak orang yang merasa lambat sebetulnya bagaimana analisa nya ya?

  13. 1. sepakat dengan kang azrl, saya pernah pakai quasar via gprsnya XL, unlimited tapi lambat sekali, pakai IM3 lumayan cepat tapi harus pinter ngatur jenis login (volume/time base) dan itu cukup merepotkan, pakai speedy 750 ribu unlimited: awalnya kenceng sekali selanjutnya melambat juga terutama saat siang hari, di itb lebih murah (10 ribu/bulan) tapi kalau kirim email plus attach file gagal melulu, apalagi kalau akses webmailnya dari luar itb.
    2. Mungkin itulah karakter bangsa ini: hampir di segala bidang kehidupan, masalahnya tahu, solusinya tahu tapi sulit sekali merealisasikannya. Mengherankan memang, tapi begitulah kenyatannya. Mungkin orang luar tak kan menyangka kalau itb punya masalah dengan akses internet, karena akan sangat mengherankan bagi mereka he he he…

    Just share: Saya termasuk pemakai awal SPEEDY. Memang kenceng sekali di awal. 384kbps yang dijanjikan selalu tercapai! Namun dengan berjalannya waktu, selain tambah lambat, juga sering bermasalah dan penanganan masalahnya semakin lambat. Sekarang saya berpindah ke IM2+TV Cable. Dengan harga yang kurang lebih sama dengan speedy unlimited dapet Internet 384kbps + TV 60 channel dan performance yang lumayan lebih baik dari speedy. Cukup membuat saya betah di rumah dari pada di kampus.

  14. @scooterboy: ngetest nya pas jam makan siang seh.
    Emang berapa seh bandwidth ke Internet nya di ITB? Berapa usernya? Dari situ kan bisa kita hitung kelayakan penggunaan bandwidth-nya. Overbooking atau apa ya bahasa kerennya?

  15. Internet-an dari dalam kampus tapi pakai provider luar … hem … jadi inget waktu jadi mahasiswa baru (kalau sudah tua bawaannya inget jaman dulu terus ya?), kalau nanya soal kos/tinggal di mana salah satu jenis jawaban-nya adalah kos di sini tapi makan di luar … Mungkin juga berlaku sekarang ya, kerja di ITB tapi cara makan di luar … he he he

  16. Eh maksud saya: kerja di ITB tapi ‘cari makan’ di luar …

    (sekalian bikin komen hatrix)

    Terus terang, 6 bulan terakhir, saya lebih sering kerja di luar kampus Pak! yaitu DI RUMAH! Saya lebih produktif kerja di rumah, salah satunya karena dukungan Internet yang lebih baik dari pada di kampus!

  17. @pak Arry
    Kemungkinan mereka ngenet di tempat yang salah, dimana kualitas wirelessnya jelek atau kalo engga tempat yang rame pamakai internetnya..

    Atau mungkin kurang bersyukur ya? Pisss..😀

    @Andhi
    Ini saya ambil jam 09.55 di sekre ARC ITB..

    Di sekre ARC saat ini, ada 6 orang pemakai wireless..
    😀

  18. Sebenarnya ga heran ada pro kontra masalah internet di ITB…
    Yang bilang lumayan atau bagus mungkin karena lokasinya kebetulan “pas” atau tidak lagi “rebutan” dengan user lain, dsb. Di lain pihak ada yg bilang ga bagus, lemot, byar-pet, dsb mungkin karena lokasi yang tidak “pas” atau sedang rebutan jatah akses, dsb. Saya sendiri dan temen di kelas CIO banyakan “sedihnya” dengan pengalaman akses internet di ITB. Ini fakta. Untuk saya sendiri kebetulan punya cadangan usb modem utk akses data paket dari XL sekitar 99 ribu utk 250 MB (volume based). Dan mmg saya rasakan lebih cepat daripada jalurnya kampus. Ini alternatif saja sebenarnya karena XL saya pake utk dirumah.

    Namun begitu kami yakin para adminnya sudah tau permasalahannya dan bisa mengatasi hal ini. Spt kata pak Ronny tinggal implementasinya.
    Kemaren juga ada yang sampai bilang saking gemesnya … “Harus berapa lagi kami bayar biar dapat pelayanan yang bagus?” Kalo memang sanggup dan commit utk bisa bagus kami sanggup bayar kok” … Nah loh !!!
    Semoga tanpa harus mendengar teriakan langsung di kuping para admin, segera bisa dibereskan masalah akses internet ini. Yang perlu diingat para admin adalah even itu gratis mohon agar kiranya tetap ada yg namanya standar pelayanan utk menjaga kualitas layanan tadi (SLA yg dbilang pak Arry) … apalagi kalo sudah membayar. TRUST itu penting, jangan sampai ada jawaban dari “udah cuma ceban mau bagus …” itu bukan jawaban yg baik saya kira …

    Anyway makasih buat para admin yang sudah kerja keras selama ini …

  19. Pak saya ikutan lapor juga pak : ada Mahasiswa ITB yang Mampus … eh Mati … namanya Dwiyanto gitu, tolong selidiki pak apakah ada rekaman video lewat HP atau di PC para Mahasiswanya yg isinya acara ngerjain juniornya ampe mampus … cepat deh pak seblum ketahuan polisi, itukan Secret Recordnya versi anak nakal eh salah anak ITB.

  20. kebetulan saya mahasiswa S2 baru masuk di ITB. kaget juga ketika tau internet di ITB berbayar. Perasaan dulu kuliah S1 bisa pake internet sepuasnya, bahkan rela nginep buat d/l file gede dan itu gk jadi masalah.. sampe skrg, username d tempat kuliah S1 masih bs dpake

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s