Garis-Garis Marka Jalan Semakin Tak Bermakna

Garis-garis marka jalan di kota Bandung sudah sangat diabaikan oleh para pengendara kendaraan bermotor, khususnya angkot dan pengedara sepeda motor. Perhatikan dua foto berikut. Pada foto pertama, angkot keluar dari batas garis yang seharusnya, sehingga lebih menonjol ke depan, juga menghalangi yang akan belok kiri langsung. Mobil pribadi yang di depan pun, setengah badannya sudah melanggar garis.

Pada foto di bawah ini, pengendara sepeda motor yang ingin START nomor satu pada saat lampu berubah jadi hijau berusaha memposisikan diri paling depan dan tidak menghiraukan lagi bahwa dia berada di atas zebra cross. Memang, ada kelemahan juga dari sisi pemeliharaan tanda-tanda tersebut. Di banyak tempat, tanda-tanda tersebut sudah hampir tak terlihat garisnya.

6 thoughts on “Garis-Garis Marka Jalan Semakin Tak Bermakna

  1. Pak AAA

    Ini kewajaran umum di indonesia lah, tidak cuman di bandung. Kalau di indonesia, biar orang mematuhi marka2 jalan, harus dibuat pembatas secara fisik. Misal marka pemisah jalur busway. Kalau saja pemisah busway hanya berupa cat saja, sudah pasti banyak yg melanggar. Lha, wong pake pemisah fisik saja masih banyk yg motong….

    Betul, dan ini contoh kesalahan kecil yang dipelihara (baca: dibiarkan), sehingga lambat laun semua orang berpikiran, di Indonesia itu peraturan hanya formalitas yang tidak harus dipatuhi….

  2. Sepertinya etika berlalulintas semakin tergerus seiring pudarnya cat marka jalan. Di beberapa persimpangan jalan marka berupa garis berhenti dan zebra cross mulai kehilangan bentuknya. Jadi wajar saja ada sebagian pengendara yang tidak melihat, pura-pura tidak melihat, dan bahkan sengaja menyepelekan marka jalan. Toh selama ini tidak ada tindakan tegas dari aparat ketika ada pengendara yang melanggar.
    Dulu ada petugas yang memperingatkan/menindak pengendara yang berhenti melewati garis stop atau zebra cross. Sekarang entah ke mana. Mungkin sudah bosan dengan ‘kenakalan’ sebagian pengendara.

  3. Mentalitas pengendara dan petugas termasuk infrstruktur jalan kita memberikan kontribusi terhadap kesemrawutan lalu lintas. Perlu ada tindakan disiplin, car berlalu lintas kan cerminan prilaku kita, ya pak ?

  4. Kontras sekali dg sopan santun lalu lintas yg saya amati di Jepang (dan negara lainnya).. berhenti utk tiap lampu lalu lintas saja jaga jaraknya jauh2..
    Kalo di Indonesia.. saya begitu.. yaaa… siap2 di serobot (atau diselipin 10 motor) .. 🙂

    Karena macet, ya mepet2 dong utk hemat tempat dan biar cepet,, begitu kan.. hmm, nggak juga, di Jepang juga jaga jarak kalo macet.
    nah, apalagi kalo macet di Indonesia, ga mepet2.. diserobot..😦

    Penyempitan jalan? silahkan berebut.. dengan mepet2 lagi tentunya… tapi di sini, sudah menjadi etika utk satu per satu bergiliran mengambil jalan.. (seperti di negara lain where drivers earn their licenses..)😉

    kapan ya kita bisa beretika di lalu lintas seperti ini.. ingin lebih beradab, tapi kalau cuma dilakuin sendirian kurang berpengaruh.. mungkin harus ada kampanye etika lalu lintas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s